Di Balik Hingar-Bingar Alat Berat UT, Ada yang Berkarya dalam Hening
Tanpa melontarkan kata-kata, Callan Rahmadyvi Triyunanto memberi tahu rekan-rekan kerjanya bahwa materi publikasi yang sedang digarapnya hampir rampung. Dia menyampaikannya secara tertulis melalui platform Google Workspace. “Mantap!” balas salah seorang rekan kerja, juga melalui tulisan.
BEGITULAH cara Callan berkomunikasi dengan rekan-rekan kerjanya. Tanpa kata-kata, tapi berlangsung lancar, hangat, dan akrab. September ini merupakan bulan kedua bagi Callan, seorang Tuli sejak lahir, berada di lingkungan kerja PT United Tractors Tbk (UT).
Sebagai peserta program magang Harmoni dalam Keberagaman (HARMONIKA), dia ditempatkan di bagian Corporate Communication.
“Tugas saya menyusun dan mendistribusikan materi publikasi perusahaan, melakukan riset dan cek fakta,” terang Callan yang disampaikannya secara tertulis, Selasa, 15 September 2026.
Lajang kelahiran Jakarta pada 2001 ini mengaku bangga karena bisa belajar dan berkontribusi di anak usaha dari PT Astra International Tbk yang berkantor pusat di Cakung, Jakarta Timur ini.
“Seorang Tuli juga bisa berkembang di lingkungan korporat yang profesional,” tandas jebolan Ilmu Komunikasi dari Universitas Brawijaya ini.
“Pada awalnya saya sempat khawatir terkait dengan adaptasi komunikasi. Saya harus memastikan komunikasi dengan rekan-rekan kerja berjalan lancar,” imbuhnya.
Kekhawatiran itu perlahan hilang karena lingkungan kerjanya ternyata sangat mendukung, terbuka, dan ramah terhadap para peserta magang.
Sepengetahuannya, HARMONIKA dirancang agar difabel merasakan pengalaman dan memperoleh lingkungan kerja yang ramah, toleran, serta inklusif tanpa diskriminasi.
Saat mulai bergabung di UT, Callan terlebih dulu mengikuti tahapan orientasi (onboarding) untuk memahami budaya kerja dan alur komunikasi antardepartemen.
Onboarding sangat membantunya memahami ritme kerja profesional dan bagaimana beradaptasi di lingkungan korporasi.
Dia mengasah keterampilan secara intensif sesuai dengan bidang yang digelutinya yakni content writing, copywriting, dan prinsip-prinsip kerja jurnalis.
Tolok Ukurnya Dedikasi, Bukan Keterbatasan
Callan mengaku bahwa sebagai seorang Tuli, dia harus cepat beradaptasi dengan alur koordinasi internal dan kolaborasi lintas departemen yang berjalan serba cepat.
Bersyukur, tim menunjukkan sikap yang sangat suportif dan proaktif mencari cara agar interaksi kerja bisa berjalan dengan lancar.
“Tim saya terbiasa mengoptimalkan komunikasi berbasis teks, baik melalui WhatsApp maupun Google Workspace,” imbuh Callan.
Dia menyimpulkan bahwa inklusivitas di perusahaan yang didirikan pada 13 Oktober 1972 ini bukan sekadar program di atas kertas, melainkan hidup dalam interaksi sehari-hari.
Program HARMONIKA menuntunnya menjadi sosok yang lebih percaya diri. Menurut Callan, UT makin mengukuhkan keyakinannya bahwa kompetensi dan dedikasilah yang menjadi tolok ukur. Bukan keterbatasan.
Dia berharap kiprahnya di UT menjadi bukti bahwa difabel memiliki tempat dan daya saing yang setara di ranah industri.
Kehadiran Callan dan difabel peserta magang lainnya membawa perubahan dan suasana baru di dalam tim kerja. Hal itu diakui Chesya Dara Dinanti, mentor Callan.
“Pengalaman bekerja bersama Callan membuat kami makin memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif,” ujar Chesya.
Soal berinteraksi, Chesya menyatakan bahwa Callan memiliki kemampuan berkomunikasi berbasis teks dengan baik. Selain itu, setiap sore Callan membuka kelas kecil Bahasa Isyarat bagi rekan-rekan kerjanya.
Chesya mengacungi jempol atas ide-ide yang kerap disampaikan Callan. Menurutnya ide Callan sangat relevan dengan budaya kerja di perusahaan distributor alat berat terbesar di Indonesia ini.
Mengubah Cara Pandang
Setelah sebulan Callan bergabung, Chesya sudah melihat banyak perubahan yang tampak pada dirinya. “Dia makin percaya diri dan makin memahami pekerjaannya,” tuturnya.
Callan tak menunjukkan bahwa keterbatasannya menjadi penghalang dalam berkarya. Chesya melihat bahwa yang terpenting bukanlah memperlakukannya secara berbeda.
“Idealnya adalah menyediakan cara berkomunikasi dan lingkungan kerja yang memungkinkan dia bekerja secara optimal,” ujarnya.
Awalnya Chesya memiliki pemahaman bahwa difabel membutuhkan perlakuan khusus, termasuk dalam hal pemberian pekerjaan.
Namun pengalaman bekerja bersama Callan mengubah cara pandangnya. Callan adalah bukti bahwa difabel juga memiliki kemampuan melakukan pekerjaan berstandar profesional.
Safira Salsabila Putri, rekan kerja pendamping (buddy) Callan, mengaku tak khawatir ketika untuk kali pertama dia diberi tahu bahwa ada seorang Tuli yang akan bergabung dalam tim.
Saat Callan masuk kerja di hari pertama, Safira dan rekan kerja lainnya menyapanya dengan bahasa isyarat yang dipelajari dari internet. “Kami menyapa ‘halo, selamat datang’ dengan gerakan tangan,” ujar Safira.
UT Belajar Tentang Kesabaran dan Empati
Saat mendapat informasi bahwa akan ada pegawai magang difabel yang menjadi rekan kerjanya, Safira meyakini bahwa ritme kerja tak akan terganggu.
Sebaliknya, justru dia khawatir tak bisa menjadi rekan kerja yang baik bagi Callan. “Saya banyak bertanya kepada mentor bagaimana cara menghadapinya agar bisa jadi buddy yang baik,” imbuh Safira.
HARMONIKA merupakan program yang digagas UT dalam mengimplementasikan nilai Diversity, Equity, & Inclusion (DEI) melalui penyediaan kesempatan magang bagi individu different abled (difabel). Program ini diluncurkan pada 20 Juni 2025.
Direktur Human Capital, Communications & Sustainability UT, Ari Sutrisno menyatakan, program ini adalah wadah pembelajaran bagi UT dan seluruh lini bisnisnya untuk memahami, menerima, dan bekerja bersama individu dengan beragam kemampuan.
“UT belajar dari mereka tentang kesabaran, empati, dan bagaimana membangun lingkungan yang benar-benar inklusif,” ujar sosok yang diakui sebagai Indonesia Distinguished Human Capital Leader dalam ajang Indonesia Human Capital (IHCA) Award XII 2026 ini.

Tahun ini, seperti diungkapkan Luisa Krismaningrum, Section Head Organization Development UT, program digelar dari Agustus hingga Oktober dengan jumlah peserta sebanyak 31 orang.
“Mereka tersebar di UT Group. Ada tujuh area yang kita libatkan. Jadi, tak cuma di Jakarta,” terangnya, Selasa, 15 September 2026.
Bidang pekerjaan untuk peserta magang yang diselenggarakan selama tiga bulan ini meliputi copywriting, IT, administrasi, dan desain grafis.
Luisa mengatakan, secara nasional tingkat serapan difabel ke industri formal masih terbilang kecil. Ada sekat antara yang dibutuhkan perusahaan dengan yang tersedia di lapangan kerja atau di pasar tenaga kerja.

“Nah, HARMONIKA menjadi media untuk latihan kerja mereka, sekaligus untuk menyelaraskan antara kompetensi dengan kebutuhan,” imbuh Luisa.
Dia melanjutkan, program ini terbilang spesial jika dibandingkan program-program sejenis di perusahaan lain.
“Di UT, program magang untuk teman-teman difabel ini di-handle oleh Human Capital. Bukan bagian dari CSR,” terangnya. Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, UT memang menempatkan HARMONIKA dalam bagian Developing High-Quality Human Capital.
Membuka Ruang Kaca
Ujaran yang disampaikan Luisa, diamini Taufiq Hidayat, Pengurus Yayasan Autisma Indonesia (YAI). Yayasan yang bermarkas di Jakarta ini secara intens mengedukasi masyarakat mengenai gangguan spektrum autisme untuk menghilangkan stigma.

“Benar, program ini berada di bawah Human Capital. Jadi, bukan charity program,” terang Taufiq, Selasa, 15 September 2026.
Dalam HARMONIKA, utamanya pada 2025, UT berkolaborasi dengan YAI di antaranya pada tahap penyebaran informasi lowongan kerja, dan pelatihan mentor.
Taufiq optimistis program ini akan menginspirasi perusahaan-perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama.
“Selama ini difabel lebih sering dilihat keterbatasannya daripada potensinya,” tandasnya. Menurutnya, tak sedikit korporasi yang tak memberi ruang yang luas bagi difabel untuk berkarya.
“Jangan hanya melihat difabel yang terkurung dalam ruang kaca. Bukalah ruang itu untuk mengetahui potensi mereka.

UT telah membuka ruang kaca itu dengan program HARMONIKA-nya. Tak berlebihan jika perusahaan ini didapuk sebagai Perusahaan Pemberdaya Insan Berkemampuan Khusus (IBK) pada ajang IBK’s Day 2025 yang digelar oleh Cagar Foundation. Terbaru, pada Juni 2026 UT menyabet penghargaan HR Asia Diversity, Equity & Inclusion Awards 2026.
Komisi Nasional Disabilitas (KND) pun turut memberikan apresiasi. Wakil Ketua KND Deka Kurniawan menilai UT merupakan salah satu perusahaan yang konsisten menerapkan praktik inklusi di dunia kerja.
“UT membuka akses pengalaman profesional bagi individu berkemampuan khusus. Ini contoh nyata peran dunia industri dalam mendorong pemenuhan hak kaum difabel,” ujar Deka saat berkunjung ke kantor UT pada 28 Desember 2025.
Dia menambahkan, UT telah berkomitmen membangun lingkungan kerja yang aman, suportif, dan inklusif dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adil dan berkelanjutan.**
Editor: Iwan Setiawan