Sejoli dari Kampung Ciganea, Sehidup Segadai untuk MengEMASkan Indonesia

Tatang Budimansyah
Siti Maryam dan Solihin, sejoli dari Kampung Ciganea, Kecamatan Jatiluhur Purwakarta yang kompak mengEMASkan Indonesia. foto: iNewsPurwakarta.id/tatang budimansyah

Hujan semakin deras. Arsiran airnya sangat mengganggu penglihatan Siti Maryam, kendati ia sudah menurunkan kaca mika penutup helm untuk melindungi bagian wajahnya. Perempuan itu  terpaksa menepikan motor matiknya, dan buru-buru dia berteduh di sebuah warung kecil di tepi jalan. Saat beranjak dari rumah, Maryam setengah lupa memasukkan jas hujan ke dalam bagasi motornya. 

“SEBENARNYA bukan lupa sih. Pagi itu ketika saya hendak berangkat, cuaca sangat terang. Saya pikir tak akan turun hujan pada siang harinya. Eh, ternyata perkiraan saya meleset,” Maryam mengawali cerita saat iNewsPurwakarta.id menyambangi kediamannya, di Kampung Ciganea, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pertengahan September 2025. 

Saat diwawancarai, Maryam duduk berdampingan dengan Solihin, sang suami. Pasangan ini tampak antusias saat berkisah tentang seluk beluk mengenai Agen Pegadaian.

Maryam melanjutkan kisahnya. Siang itu dia hendak mengunjungi sejumlah agen. Sebuah rutinitas keseharian yang mesti ia lakoni. Tak peduli saat langit menumpahkan hujan, atau saat sengatan matahari terasa hingga ke ubun-ubunnya. 

Sebagai seorang Petugas Agen Pegadaian (PAP), Maryam memang dikenal sebagai sosok yang energik dan tak kenal lelah. Yang tertanam di benaknya hanya satu, yakni bagaimana agar ia bisa membantu masyarakat Purwakarta mengakses dengan mudah layanan Pegadaian secara komprehensif.

“Yang disasar hari itu adalah para agen yang berada di Kecamatan Cibatu, sebuah kecamatan yang berada di ujung Purwakarta. Ya, kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Subang,” tutur perempuan berusia 47 tahun itu.

Hujan agak mereda. Hanya menyisakan gerimis kecil yang tak akan membuat baju menjadi kuyup. Menit berikutnya, Maryam kembali melanjutkan perjalanan. Spido meter menunjukkan angka 35 KM. Jalanan licin dan adanya genangan air di beberapa titik, membuat dia melajukan motornya dengan perlahan. “Yang penting selamat,” pikirnya.

Sesampainya di rumah agen, hal pertama yang dilakukan Maryam adalah menyeruput secangkir kopi untuk menghangatkan sekujur tubuhnya. 

“Selanjutnya, barulah kami terlibat dalam perbincangan seputar keagenan. Misalnya soal kendala yang dihadapi, progres, rencana, dan informasi tentang promo-promo terbaru dari Pegadaian. Ya, perbincangan yang berkaitan dengan upaya untuk mengakselerasi pencapaian agen,” paparnya.

Sebuah Tantangan yang Mengasyikkan 

Maryam tercatat sebagai PAP sejak 2016. Perjalan waktu yang tidak sebentar. Sesuai dengan pencapaian yang ditargetkan PT Pegadaian, ibu enam anak ini mesti menyambangi 75 agen dalam sebulan. Agen-agen tersebut, baik Agen Pemasar maupun Agen Pembayaran, tersebar di 17 kecamatan yang ada di Purwakarta.

“Kami menyebut kunjungan tersebut sebagai Sapa Agen. Pokoknya, banyak keseruan saat menjalaninya. Jika ditanya suka dukanya, nyaris tak ada dukanya. Setiap hari, ada hal baru yang saya bisa nikmati. Bisa disyukuri,” ucap Maryam.


Solihin dan Siti Maryam di depan outlet Agen Pegadaian miliknya. foto: iNewsPurwakarta.id/tatang budimansyah

 

Selain Sapa Agen, sebagai PAP Maryam juga mesti mengaktivasi 15 agen baru dalam sebulan. “Bagi saya, merekrut seseorang untuk menjadi agen, merupakan tantangan yang mengasyikkan. Alhamdulillah, dengan cara pendekatan yang saya lakukan, tak sulit dalam merekrut agen baru,” ujarnya.       

Keuletan memang tak pernah berbuah sia-sia. Seperti yang dialami Maryam. Dia selalu mencapai target. Tak heran, selain menerima gaji bulanan, dia juga kerap menerima banyak reward dari Pegadaian atas pencapaiannya itu. Saat ini, di Purwakarta tercatat tak kurang dari 300 agen yang aktif. 

“Jika ditotalkan, jumlahnya lebih banyak dari angka itu. Tapi memang ada beberapa agen yang tak aktif,” imbuhnya.
Maryam mesti bersyukur, karena dari agen sebanyak itu, sebagian besar sudah berhasil. Omzetnya sudah mencapai miliaran rupiah, “Mereka sudah merasakan banyak manfaat sebagai agen Pegadaian,” ujarnya. 

Lantas, atas kesibukannya menjadi mitra PT Pegadaian selama bertahun-tahun, bagaimana sikap sang suami? Tak keberatankah? Mendengar pertanyaan seperti itu, Maryam dan Solihin yang duduk di sampingnya, malah terkekeh. Nyaris berbarengan.

Kumaha bade kaabotan, malah mah pun lanceuk ngiringan janten agen (Bagaimana mau keberatan, suami malah ikut-ikutan jadi agen,” ujar Maryam, masih terkekeh. Rupanya, Solihin pun merupakan sosok mitra Pegadaian. Dia adalah Agen Gadai satu-satunya di Purwakarta.

“Mitra Pegadaian terdiri dari tiga agen, yakni Agen Pemasar, Agen Pembayaran, dan Agen Gadai. Alhamdulillah saya sudah mengantongi sertifikat sebagai Agen Gadai. Saya bertugas membantu memperluas jangkauan layanan PT Pegadaian. Ya, untuk daerah yang jaraknya jauh dengan kantor cabang. Tujuannya untuk memberikan kemudahan transaksi dan akses para nasabah,” terang Solihin.

Selain itu, sebagai kepanjangan tangan dari PT Pegadaian, Solihin juga gencar menyebarkan informasi tentang berbagai produk, promosi, dan layanan Pegadaian, “Misalnya tentang cara menabung emas, menggadai emas atau barang lainnya, serta tata cara pembiayaan mikro.  Singkatnya, di bawah pengawasan PT Pegadaian, saya bisa memberikan layanan gadai kepada nasabah secara langsung,” imbuh pensiunan perusahaan salah satu BUMN itu.

Jemput Bola? Siapa Takut!

Untuk menjadi Agen Gadai, ada tahapan tertentu yang mesti dijalani. Sebelum menjadi Agen Gadai, Solihin mulai bermitra dengan PT Pegadaian sebagai Agen Pembayaran pada 2018, mengikuti jejak istrinya yang sudah menjadi PAP. Omzet Solihin sebagai agen saat itu mencapai Rp1 miliar per bulan.

Atas pencapaiannya itu, PT Pegadaian meliriknya. Bersama 33 agen lainnya dari berbagai daerah, pada 2023 Solihin diberi kesempatan mengikuti pendidikan dan pembekalan di Depok, Jawa Barat. Materinya antara lain tentang pengetahuan berbagai jenis emas dan cara menaksir emas. Sampai akhirnya dia memperoleh sertifikat menjadi Agen Gadai.

“Omzet yang berhasil saya raup saat ini tak kurang dari Rp2 miliar per bulan. Pokoknya, belum pernah di bawah angka itu. Hingga pertengahan bulan ini saja, sudah terkumpul Rp2,5 miliar,” imbuhnya.

Sehari-hari, lelaki berusia 57 tahun ini stand by di outlet yang berlokasi persis di pinggir rumahnya. Adapun Maryam menyambangi para agen dengan motor kesayangannya.

Di tempat kerjanya ini, Solihin membuka pelayanan setiap hari mulai pukul 05.30-17.30 WIB. Namun, tak jarang dia mesti melakukan jemput bola. Betul, Solihin mendatangi rumah nasabah untuk pelayanan-pelayanan pada situasi tertentu. 

Yang menarik, kendati jam operasionalnya hanya sampai pukul 17.30, itu bukan berarti Solihin tak melayani nasabah di atas jam tersebut. Sejoli ini belum pernah sekalipun menolak apabila ada nasabah yang mendatangi rumah mereka pada malam hari.

“Sering ada yang datang malam-malam. Pernah suatu malam ada warga yang datang sambil menangis. Dia butuh dana untuk biaya anaknya yang sedang dirawat di rumah sakit,” tutur Maryam. Matanya tampak sedikit berkaca.

“Lelah? Pastinya iya. Tapi rasa lelah itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kepuasan kami untuk bisa menyenangkan orang lain. Makin bermanfaat bagi orang lain, hidup kami terasa makin berarti. Itu komitmen kami,” sambungnya.

“Saking asyiknya kami membantu nasabah, kami jadi tak pernah sempat menikmati hari libur, hehehe…” timpal Solihin setengah berkelakar. 

Yang ‘Tertular’ Itu Bernama Rima dan Riham 

Nasabah yang datang ke outlet sejoli ini bukan saja warga desa setempat, tapi warga dari desa, bahkan dari kecamatan lain. Malah boleh dikatakan, nasabahnya tersebar di 17 kecamatan. Yang menarik, di samping outlet ada sebuah ruang yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang gadai.

“Ada beberapa warga yang menggadaikan barang di luar kriteria yang ditentukan PT Pegadaian. Outlet kami tetap menampungnya. Barangnya ya disimpan di ruangan itu. Sedangkan barang gadai yang sesuai kriteria, seperti emas dan dokumen berharga, disimpan di kantor cabang,” terang Maryam. 

Dalam mengEMASkan Indonesia, sejoli ini tak pernah berhenti di satu titik. Lihat saja, setiap tanggal merah, ketika sebagian orang menikmati liburan, keduanya malah asyik membuka booth minimalis di depan kantor cabang Pegadaian di Jalan Basuki Rahmat, Purwakarta. 

“Dengan begitu, nasabah masih tetap bisa dilayani meskipun kantor cabang sedang tutup. Saya dan istri jaga booth, sedangkan untuk outlet kami di Ciganea, ditunggui oleh adik saya,” ujar Solihin. 


Solihin dengan riang melayani para nasabah Pegadaian di outlet miliknya. foto: iNewsPurwakarta.id/tatang budimansyah

 

Praktik baik dan multi manfaat yang dirasakan sejoli ini selama menjadi agen Pegadaian, akhirnya menular kepada anak-anaknya. Dua dari enam anak pasangan ini, juga merasa enjoy menjadi agen.

Rima Ambarsari, anak sulung yang tinggal di Perumahan Bumi Jaya Indah, Kelurahan Munjuljaya, menjadi Agen Pembayaran. Dia melakukan aktivitas keagenannya cukup di rumah, sambil mengurus anak. Sementara sang suami bekerja di sebuah kawasan wisata. 

Riham Marhamah, anak kedua yang saat ini kuliah di Unjani Cimahi, juga tercatat sebagai agen. Dia banyak membantu teman-teman kuliahnya, terutama teman-teman kos dalam hal bertransaksi dengan Pegadaian. “Si Sulung dan adiknya menabung emas dari fee yang diperoleh sebagai agen. Keren kan?” tandas Maryam.

Menebar Kebaikan, Mengail Berkah 

Kepiawaian Maryam dan Solihin, diakui oleh Firman Ferdiansyah, Kepala Kantor Cabang Pegadaian Purwakarta. Dikatakannya, Solihin memang memiliki relasi dan jaringan yang luas. 

“Itu kunci kesuksesannya. Dia mampu menjangkau nasabah hingga ke pelosok. Tentu itu sangat membantu kami,” ujar Firman saat ditemui di kantornya.

“Secara umum, agen-agen di sini terbilang cukup istimewa. Sesuai dengan slogan kabupaten ini, yakni Purwakarta Istimewa. Saya lihat Purwakarta memang memiliki potensi besar untuk mengEMASkan Indonesia. Potensi itu terus kami gali,” ujarnya.

Beberapa upaya yang dilakukan, imbuh Firman, yakni pihaknya kerap mengundang masyarakat, baik nasabah maupun non-nasabah, dan instansi-instansi terkait untuk berkolaborasi. “Kami gencar melakukan literasi ke sekolah-sekolah, kampus, dan komunitas,” imbuhnya.

Melalui literasi itu, Pegadaian Purwakarta mengajarkan pentingnya menabung emas untuk masa depan. “Kami ingin  membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya menabung dan berinvestasi yang aman, sekaligus untuk menghindari hal-hal negatif, seperti jeratan pinjol dan judi online. Emas dipilih karena sifatnya yang universal, dan nilai serta likuiditasnya terjaga,” tutur Firman.

Begitulah. Maryam dan Solihin tak henti bergerak. Keduanya melakoni peran untuk makin mendekatkan PT Pegadaian dengan para nasabah yang tersebar di antero Purwakarta. Bersama Rima dan Riham, dengan ceria pasangan ini menjamah semua pelosok, dan menebar kebaikan sembari mengail berkah. 

Kelak, tak menutup kemungkinan anak-anak Rima dan Riham akan mengikuti jejak kakek dan neneknya. Ya, seiring dengan makin terbukanya kesadaran masyarakat akan pentingnya berinvestasi emas.** 

#mengEMASkanindonesia

 

Editor : Iwan Setiawan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network