get app
inews
Aa Text
Read Next : Video Menu Lele MBG di Pamekasan Viral, BGN: yang Beredar Tidak Menampilkan Sebenarnya

Bikin Anak Sekolah ‘Kecanduan’ Susu, MBG Jadi Jembatan Menuju Generasi Emas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:58 WIB
header img
Para siswa dan siswi SMP Negeri 1 Purwakarta saat acara buka puasa bersama di lingkungan sekolah. Foto: tatang budimansyah/iNewsPurwakarta.id

Ternyata asyik juga berbincang dengan Anindy Jessa. Dengan gaya bahasa khas kaum Gen Z, Anindy bercerita tentang bagaimana akhirnya dia ‘kecanduan’ susu. Padahal sebelumnya dia paling enggan mengonsumsi minuman sumber protein hewani itu. Ini gara-gara program Makan Bergizi Gratis alias MBG!

JUMAT sore, 13 Maret 2026, iNewsPurwakarta.id menemui Anindy di sekolahnya di Jalan KK Singawinata, Purwakarta, saat dia bersama teman-temannya tengah mengikuti acara buka puasa bersama. Saat itu, dengan riang siswi kelas 8 SMP Negeri 1 Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat itu memperlihatkan menu MBG yang baru diterimanya dari sekolah: Abon sapi, setangkup roti, jeruk, buah naga, dan sekotak susu.

Sembari menunggu adzan maghrib, Anindy bersedia berbincang sejenak seputar program MBG, khususnya yang berkaitan dengan susu. “Asyik, mau diwawancarai nih!” ujarnya berseloroh. Obrolan pun dimulai.

“Awalnya, saya tak rutin meminum susu. Doyan sih, tapi meminumnya hanya sesekali saja. Sekarang, apalagi selama ramadan, saya malah meminta kepada ibu agar selalu menyiapkan susu untuk pelengkap berbuka puasa dan sahur. Makin banyak saya minum susu, ayah dan ibu makin senang,” ujar Anindy.

Dia mengaku mulai ‘kecanduan’ susu ketika program MBG mulai berjalan. Sebelum membagikan menu MBG kepada para siswa, guru di kelas Anindy memang kerap memberi penjelasan tentang nilai gizi yang terkandung dalam jenis-jenis makanan, termasuk susu.

Penjelasan sekilas dari sang guru, membuat Anindy penasaran. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang nilai gizi susu dengan segala manfaatnya, dia berselancar di internet.

“Rupanya minum susu itu sangat penting ya. Kalau semua anak Indonesia doyan dan bisa minum susu dengan rutin, pasti semua menjadi anak unggul. Saya tentu senang mendapat susu gratis. Badan jadi sehat, uang jajan pun utuh!” tandasnya.

Ramadan tahun ini merupakan ramadan kelima Anindy menjalankan ibadah puasa. Namun, ramadan ini merupakan kali pertama dia mengonsumsi susu secara rutin. Diakuinya, dengan mengonsumsi susu di waktu berbuka puasa dan sahur, membuat badannya tetap bugar saat berpuasa.

“Wajar lah kalau badan hanya lemas. Namanya juga sedang puasa. Tapi sejak rutin minum susu, saya tidak merasa loyo seperti ramadan di tahun-tahun sebelumnya. Dulu, maunya tiduuuur melulu,” imbuhnya.  

Periode Peak Growth Velocity

Menurut penuturan Anindy, tak sedikit siswa di sekolahnya yang jarang mengonsumsi susu. Adanya program MGB, setidaknya akan memunculkan kebiasaan anak untuk mengonsumsi susu, “Sayangnya, tidak setiap hari menu MBG yang ada susunya. Padahal, makin sering mendapat susu gratis, saya makin girang,” ujar Anindy.  

Badan tetap bugar kendati tengah berpuasa karena meminum susu seperti yang diungkapkan Anindy, adalah fakta yang tak terbantahkan.

Dikutip dari situs resmi Badan Gizi Nasional (BGN), Tim Pakar Bidang Susu BGN Prof. Epi Taufik menegaskan, dalam susu terkandung 13 zat gizi yang sangat penting, yakni protein, kalsium, dan vitamin D.


Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN) Prof. Epi Taufik. Foto: dok BGN

 

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menerangkan, kandungan zat gizi tersebut sangat penting bagi anak usia sekolah. Dikatakannya, susu sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan imunitas tubuh anak,” terangnya.

Dia menambahkan, masa usia 9 hingga 12 tahun adalah periode yang disebut sebagai peak growth velocity. Pada periode ini, anak-anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan dan peningkatan kebutuhan energi.

“Kandungan kalsium dari makanan baru memenuhi 7–12 persen dari kebutuhan harian. Untuk menghasilkan pertumbuhan anak yang optimal, susu berfungsi untuk menutupi kekurangan itu,” papar Epi.

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa susu yang diberikan kepada anak-anak hanya berupa susu tawar tanpa bahan pengawet. Tujuannya untuk menjaga kualitas gizi dan menghindari asupan gula berlebih pada anak.

Dijelaskan Epi,  pengolahan susu untuk Program MBG diproses melalui teknologi pemanasan, “Ini untuk menjamin keamanan pangan dan memperpanjang masa simpan,” tuturnya.

Perlu Kemasan Susu yang Aman

Ada dua metode utama pengolahan susu, yakni pasteurisasi dan ultra high temperature (UHT). “Pasteurisasi dilakukan dengan pemanasan di bawah 100 derajat Celsius. Adapun UHT sebaliknya, hingga mencapai kondisi steril,” imbuhnya.

Susu pasteurisasi memiliki masa simpan pendek, hanya bertahan antara tiga hingga tujuh hari. Oleh karena itu, jenis susu ini lebih cocok digunakan di wilayah yang dekat dengan sentra produksi susu.

Adapun susu UHT memiliki keunggulan dari sisi distribusi dan ketahanan. Susu jenis ini dapat disimpan pada suhu ruang tanpa pendingin selama enam bulan hingga satu tahun, selama kemasan belum dibuka.


Susu yang siap dibagikan kepada para siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: dok BGN

 

Tanpa pengolahan dan kemasan yang benar, dikhawatirkan susu malah menjadi minuman yang tidak menyehatkan. Lebih dari itu, malah akan membawa dampak buruk terhadap kesehatan. Salah satunya adalah kasus keracunan yang terjadi di sejumlah daerah.

Beberapa kasus keracunan susu, di antaranya:

 

-              24 Oktober 2023, Siswa SDN 71 Sukagalih, Kecamatan Sukajadi, Bandung, Jawa Barat, mengalami keracunan massal usai meminum susu kemasan yang dijual murah Rp1.000. Susu dijual oleh orang tidak dikenal yang datang ke sekolah.

-              14 November 2018, 160 siswa di tiga Sekolah Dasar (SD) di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, mengalami gejala sakit perut, mual dan pusing setelah mengonsumsi susu.

-              2 Januari 2025, belasan warga Kampung Parigi, Desa Sukamaju, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dirawat di rumah sakit karena keracunan usai meminum susu kambing dalam acara aqiqah.

-              29 Oktober 2025, enam murid SDN Margorejo 1 Surabaya mengalami mual, muntah, dan diare usai mengonsumsi susu kemasan yang mereka beli dengan harga promosi di sekitar sekolah.

 

Agar peristiwa memilukan itu tak kembali terjadi, maka diperlukan kemasan yang aman untuk susu. Bicara soal kemasan, tak bisa dilepaskan dengan peran PT Lami Packaging Indonesia (Lamipak), produsen kemasan aseptik.

Perusahaan yang berpusat di Kabupaten Serang, Provinsi Banten ini, mendukung disertakannya susu dalam program MBG.  Dukungannya dibuktikan dengan memproduksi kemasan aseptik, kemasan berlapis untuk menjamin susu tetap higienis.

Kemasan aseptik aman untuk menjamin kandungan gizi di dalam susu tetap terjaga, dan lebih tahan lama. Dengan demikian, kemasan aseptik sangat cocok digunakan di Indonesia, negara kepulauan yang memiliki tantangan suhu dan waktu. Padahal distribusi susu harus sampai ke semua pelosok dengan aman, tanpa terkontaminasi kandungan zat yang berbahaya.


Pabrik PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak) yang berlokasi di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Foto: dok Serangkab.info

 

“Teknologi perlindungan berlapis memastikan nutrisi tetap utuh, meskipun susu didistribusikan ke pelosok tanpa menggunakan sistem rantai dingin (cold chain),” terang Public Relations Manager Lamipak, Ahmad Rizalmi dalam siaran pers, 20 Januari 2026.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama Lamipak, Hongbiao Li menyadari bahwa rendahnya konsumsi susu di negeri ini berisiko akan menghambat program Indonesia Emas 2045, “Sehingga distribusi susu harus didukung teknologi kemasan yang mumpuni,” terangnya

Masih di Bawah Standar FAO

Apa yang dilontarkan Hongbiao Li, seirama dengan harapan pemerintah. Pada Peringatan Hari Susu Nusantara 2025, 15 Juni 2025, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menggaungkan pentingnya konsumsi susu demi terwujudnya generasi emas.

Hari Susu Nusantara 2025 diharapkan menjadi titik balik bagi industri susu nasional, dan mendorong masyarakat untuk menjadikan susu sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

Melansir siaran pers NFA, tingkat konsumsi susu per kapita di Indonesia pada 2020 berada di angka 16,27 kg per kapita per tahun. Kondisi ini masih di bawah ambang batas konsumsi susu yang rendah suatu negara. Diketahui bahwa The Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan konsumsi susu sebanyak 30 kg per kapita per tahun.

Namun demikian, bersyukur bahwa berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional pada Maret 2024, tingkat partisipasi konsumsi susu rumah tangga Indonesia mengalami peningkatan.

“Konsumsi susu cair yang sebelumnya sebanyak 8,71 persen pada Maret 2023, meningkat menjadi 9,6 persen pada Maret 2024,” ujar Kepala NFA Arief Prasetyo Adi.

Saat ini, menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), produksi susu nasional baru berkisar di angka 20 persen. Sementara pemerintah mematok target pada 2029 sekitar 96 persen kebutuhan susu dapat dipenuhi dari dalam negeri.


7 manfaat susu ultra high temperature (UHT) untuk kesehatan. Infografis: Johan Jaelani/iNews.id

 

Roadmap percepatan produksi susu telah disusun hingga lima tahun mendatang. Pada 2029 kebutuhan susu diproyeksi mencapai 8,5 juta ton, dengan strategi penambahan populasi sapi perah, pengembangan kluster peternakan, dan penguatan kemitraan industri,” terang Sekretaris Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin pada acara The National Conference of Applied Animal Science (N-CAAS), 25 September 2025.

“Program Susu Gratis Terus Berlanjut Ya!”

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Santoso mengungkapkan, hanya 16 persen masyarakat yang meminum susu secara rutin.

Dalam seminar “Akselerasi Usaha Sapi Perah, Tingkatkan Gizi Masyarakat” yang digelar BRIN bersama Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di KST Soekarno Cibinong, Senin, 29 September 2025, Santoso menyatakan pentingnya peran strategis usaha sapi perah dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Oleh karena itu dia berharap usaha sapi perah di Indonesia dapat bertumbuh agar mampu meningkatkan gizi masyarakat, “Program pemberian susu gratis di Jepang, Amerika, dan Skandinavia terbukti mampu menurunkan angka stunting dan meningkatkan capaian akademik,” terang Santoso.

Pada acara yang sama, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan, Hary Suhada, mengungkapkan, dari kebutuhan susu nasional 4,7 juta ton pada 2024, produksi dalam negeri baru 1 juta ton atau 21 persen.

“Untuk menutup kekurangannya, pemerintah telah menyiapkan Inpres Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) dengan target produksi 8,17 juta ton pada 2029 (96 persen) dari kebutuhan,” ujarnya.

Sepuluh menit lagi menjelang adzan maghrib. Perbincangan ringan dengan Anindy harus segera disudahi. “Anak-anak, waktu berbuka puasa segera tiba,” ujar seorang guru setengah berteriak, agar suaranya terdengar oleh semua siswa yang sejak tadi sudah bersiap menyantap makanan.

Anindy dan teman-temannya tampak kegirangan. Tepat ketika adzan berkumandang, mereka segera membasahi kerongkongan setelah bersama-sama membaca doa berbuka puasa.

“Tolong sampaikan ke pemerintah dong, program pembagian susu gratis terus berlanjut ya, jangan berhenti. Supaya anak-anak Indonesia sehat, cerdas, dan unggul,” begitu pesan Anindy sebelum iNewsPurwakarta.id berpamitan.**  

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut