Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Volume Kendaraan Tol Cipali Menurun 28%, Waspadai Titik Kepadatan Akibat Bahu Jalan!
Advertisement . Scroll to see content

Harga Pangan Pasca Lebaran Jadi Sorotan, Prof Bayu: Indonesia Butuh Sistem Pangan yang Terintegrasi

Senin, 30 Maret 2026 | 19:58 WIB
  • author irwan
Harga Pangan Pasca Lebaran Jadi Sorotan, Prof Bayu: Indonesia Butuh Sistem Pangan yang Terintegrasi
Ketersediaan dan stabilitas harga pangan masih menjadi perhatian publik pasca Lebaran. Foto: Ist

JAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Ketersediaan dan stabilitas harga pangan masih menjadi perhatian publik pasca Lebaran. Lonjakan permintaan berbagai komoditas selama periode hari raya kembali menegaskan pentingnya sistem pangan nasional yang kuat, terintegrasi, dan mampu menjaga pasokan tetap aman dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Pakar pertanian IPB University, Profesor Bayu Krisnamurthi, menegaskan bahwa pembangunan sektor pangan di Indonesia tidak lagi bisa dipandang sebatas soal produksi komoditas. Menurutnya, pangan harus dipahami sebagai sebuah sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

“Semua faktor dalam sistem pangan saling terkait. Gangguan pada satu faktor akan memengaruhi keseluruhan sistem,” ujar Prof Bayu Krisnamurthi dalam wawancara khusus.

Ia menjelaskan, sistem pangan mencakup banyak elemen yang saling memengaruhi, mulai dari ketersediaan benih, proses budidaya, distribusi, harga, hingga akses konsumen terhadap pangan.

Sebagai contoh, kelangkaan benih sayuran unggul berkualitas, persoalan transportasi distribusi, hingga harga yang terlalu mahal dapat berdampak langsung pada kemampuan rumah tangga memperoleh pangan yang layak.

“Kalau salah satu bagian terganggu, konsumen tidak akan mendapat sayur sebagaimana yang diharapkan,” katanya.

Kesejahteraan Petani Jadi Kunci

Dalam pandangannya, petani memegang peran sentral dalam sistem pangan nasional. Karena itu, pengukuran kesejahteraan petani dinilai harus dilakukan secara lebih komprehensif.

Prof Bayu menyambut baik langkah pemerintah yang memasukkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP) sebagai salah satu indikator kinerja dalam APBN 2026. Menurutnya, indikator tersebut menjadi penyempurnaan dari instrumen yang selama ini digunakan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN).

“Indeks Kesejahteraan Petani sudah menangkap sifat multidimensi kesejahteraan petani melalui 21 variabel,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada September 2025, Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah menyepakati penambahan tiga indikator kesejahteraan rakyat dalam RAPBN 2026, yaitu IKP, penciptaan lapangan kerja formal, dan Gross National Income (GNI) per kapita.

Setelah RAPBN disahkan menjadi APBN 2026, ketiga indikator tersebut resmi digunakan sebagai ukuran efektivitas pelaksanaan anggaran negara.

Tantangan Terbesar: Ubah Pola Pikir Sektoral

Prof Bayu menilai tantangan terbesar dalam membangun sistem pangan berkelanjutan bukan hanya soal teknis, tetapi juga perubahan cara pandang.

“Tantangan terbesarnya adalah mengubah cara pikir dari sektoral yang terkotak-kotak menjadi satu kesatuan sistem,” katanya.

Menurut dia, selama ini kebijakan pangan kerap diperlakukan secara parsial. Padahal, setiap komponen dalam sistem pangan — mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi — saling terkait dan memengaruhi satu sama lain.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk membangun sistem pangan nasional yang lebih tangguh.

Pendekatan Pentahelix Dinilai Penting

Dalam upaya memperkuat sistem pangan, Prof Bayu mendorong penerapan pendekatan pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan organisasi non-pemerintah.

Menurutnya, setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan sistem pangan yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.

“Sistem pangan membutuhkan peran optimal semua pihak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran strategis perusahaan benih dalam mendukung pembangunan sektor pangan. Selain mengembangkan inovasi pertanian, perusahaan benih dinilai memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan varietas unggul dan pengelolaan hak kekayaan intelektual.

“Perusahaan benih memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang sangat penting bagi pengembangan teknologi pertanian,” katanya.

Industri Benih Tegaskan Komitmen

Sejalan dengan pandangan tersebut, industri benih juga menyatakan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan sistem pangan nasional.

PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menegaskan bahwa pengembangan inovasi benih dan solusi pertanian menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung keberlanjutan sektor pangan Indonesia.

Corporate Secretary PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza, mengatakan bahwa perusahaan secara konsisten berinvestasi dalam penelitian, pengembangan varietas unggul, serta peningkatan kapasitas petani melalui berbagai program pendampingan.

Langkah tersebut dilakukan agar petani memiliki akses terhadap teknologi benih yang adaptif terhadap perubahan iklim, produktif, serta mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Komitmen kami adalah menghadirkan inovasi dan solusi yang relevan bagi petani Indonesia dalam jangka panjang. Melalui pengembangan benih unggul dan dukungan teknis kepada petani, kami ingin menjadi bagian dari penguatan sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujar Faisal Reza.

Pemerintah Didorong Jadi Fasilitator

Prof Bayu menilai pemerintah sejauh ini telah memberi ruang bagi perusahaan benih untuk berkembang. Namun demikian, ia menekankan bahwa dukungan tersebut masih perlu diperkuat agar ekosistem perbenihan nasional semakin kokoh.

Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting sebagai fasilitator dan enabler dalam membangun sistem perbenihan yang sehat dan kompetitif.

“Pemerintah dapat menjadi fasilitator bagi ekosistem pengembangan perbenihan dengan perusahaan benih sebagai simpul intinya,” ujarnya.

Dengan pendekatan sistem yang terintegrasi dan dukungan kolaborasi multipihak, Prof Bayu optimistis Indonesia mampu mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.

“Swasembada pangan berkelanjutan hanya bisa dicapai jika sistem pangan berjalan secara komprehensif dan berfungsi dengan baik,” pungkasnya. ***

Editor: Iwan Setiawan

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut