Andra dan Lukisan Hitam Putihnya: Sepenggal Lakon dari Panggung Art With Heart
Di tengah keramaian pengunjung yang berlalu-lalang, Nadhifandra Naladira terus berkutat dengan lukisannya yang baru setengah jadi. Tangannya tak berhenti meliuk-liukkan drawing pen di atas kertas putih berukuran A3. Dari goresan demi goresan, tercipta sebuah lukisan hitam putih yang menakjubkan: suasana riuh rendah di salah satu sudut jalan Kota Jakarta.
SAAT itu Andra, sapaan akrab Nadhifandra, sedang mengikuti ajang Panasonic-Gobel Art Charity ‘Art with Heart’, pameran seni inklusif kolaborasi antara seniman difabel dengan seniman senior. Acara digelar di Main Atrium Gandaria City Mall, Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 21-24 Mei 2026.
Ini merupakan kali ketiga bagi Andra dan sejumlah rekannya mengikuti ajang tahunan yang digelar sejak 2023 tersebut. Andra, pemuda dengan kondisi neurodivergent, tampak antusias dan semringah sepanjang perhelatan berlangsung.
Dalam ajang tersebut, pemuda yang gemar jogging dan bersepatu roda itu merasa bangga bisa berkolaborasi dengan para seniman senior.
Art with Heart, bagi anak pertama dari dua bersaudara itu, menjadi salah satu momen berharga dalam perjalanan kariernya sebagai pelukis. Dia berharap momen seperti ini akan terus berlanjut untuk tahun-tahun berikutnya.
“Andra memiliki kemampuan melukis objek yang sebelumnya pernah dilihat dan diingatnya, tanpa menggunakan kamera. Dia melukis berdasarkan ingatan fotografisnya, atau biasa disebut photographic memory. Daya ingat visualnya sangat tajam,” tutur Meidy Fatmilianti, ibu Andra, Minggu, 27 Juni 2026.
Uniknya, imbuh Meidy, untuk menuangkan objek dari benaknya ke atas kertas atau kanvas, Andra tak memerlukan pensil, penghapus, dan penggaris, “Dia langsung menggunakan drawing pen. Objek yang dia lukis tampak sangat rinci dan detail,” terangnya.
Dikatakan Meidy, di hari kedua acara Art with Heart, di sela para pengunjung yang tengah melihat kelihaian Andra melukis, seseorang menghampirinya.
“Bagaimana dan berapa lama anak ibu belajar melukis hingga melahirkan karya seperti ini?” tanya orang yang ternyata seorang arsitek itu. Meidy menjawab, “Otodidak”.
“Otodidak? Wow! Saya sebagai seorang arsitek saja belum bisa membuat lukisan seperti ini, meski sudah belajar selama dua tahun” ujarnya seraya menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub.
Meidy membalasnya dengan senyum. Sementara Andra masih berkutat dan fokus dengan lukisannya. Tangannya terus menciptakan goresan-goresan. Dia seakan tak hirau dengan orang-orang di sekelilingnya, yang dengan terang-terangan memuji karyanya.
Bagi Andra, Art with Heart adalah sebuah panggung untuk mengekspresikan dan mengembangkan talentanya dalam seni lukis. Peluang emas itu tak boleh dilewatkan. Art with Heart adalah anugerah.
Berbagi Keceriaan
Dalam rutinitas kesehariannya, Andra memang tak jauh dari kertas gambar, kanvas, dan drawing pen. Untuk memenuhi hasrat melukisnya yang tak pernah henti, dia kerap meminta kedua orang tuanya untuk jalan-jalan keliling kota setiap akhir pekan. Dengan senang hati, Meidy dan Irawan Hari Putranto, ayah Andra, mengangguk mengiyakan.
Maka, keluarga yang tinggal di Perumahan Puri Gading, Vila Carita, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat ini sudah terbiasa jalan-jalan berkeliling hingga ke Jakarta setiap Sabtu dan Minggu.
Sehari atau dua hari setelah berburu objek di berbagai suasana dan sudut kota, Andra menuangkan apa yang dilihat dan disimpan di benaknya ke atas kertas atau kanvas. Maka terciptalah lukisan seperti taman, pasar, deretan mobil yang tengah terjebak kemacetan, lanskap kota, jalan layang, atau gedung-gedung menjulang.

Meidy mengungkapkan, talenta melukis yang dimiliki Andra sudah terlihat sejak dia berusia sekitar empat tahun. Saat itu, dia mencermati hasil lukisan Andra.
“Hasil lukisannya memiliki keunikan tersendiri. Gambarnya bukan lagi dua dimensi, tapi tampak tiga dimensi. Sejak itu saya yakin anak ini punya talenta yang mesti diasah,” tuturnya.
Benar saja, dengan disokong penuh oleh kedua orangtuanya, makin hari bakat Andra makin tampak. Ciri khas lukisan-lukisannya adalah hitam putih. Ya, tanpa warna.
Serius ingin mendalami seni lukis, Andra memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya seusai lulus SMA. Dikatakan Meidy, anaknya itu sudah mantap dengan pilihannya. Meidy dan Irawan, lagi-lagi, mengangguk mengiyakan.
Yang menarik, Andra tak ingin sendirian menikmati hasil dari lukisan yang terjual. Ia kerap berbagi keceriaan dengan sesama, khususnya dengan mereka penyandang austisme yang tinggal di panti-panti asuhan.
Pada 2022 Andra mengikuti D-EUM Art Contest Asia-Pacific di Korea Selatan. Dalam pameran lukisan dan kompetisi seni untuk anak difabel yang digelar oleh Disabled People's International (DPI) Korea itu, Andra meraih Medali Perunggu alias Juara III.
Diungkapkan Meidy, untuk menjadi peserta pada ajang yang diikuti oleh 18 negara itu, anaknya mesti menyisihkan sekitar 500 peserta lain pada tahap kurasi, “Andra menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang ikut. Alhamdulillah,” kata Meidy. Sepulang dari Korea Selatan, Andra menyambangi panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Hal yang sama dilakukannya ketika dia berhasil menjual delapan lukisannya saat berkesempatan menggelar pameran tunggal di Jakarta pada 2024, “Dia suka trenyuh jika melihat anak-anak berkebutuhan khusus, terlebih yang tak memiliki orang tua sejak lahir,” ujar Meidy.
Lebih dari Seorang Pelukis
Meidy melanjutkan, perjalanan Andra dalam meniti kariernya di dunia seni lukis masihlah panjang. Peluang untuk lebih menajamkan talentanya masih terbuka lebar.
“Acara Art with Heart merupakan bentuk kepedulian Panasonic-Gobel yang dirasakan betul manfaatnya oleh Andra dan para pelaku seni penyandang disabilitas lainnya,” ungkap Meidy.
Memang tanpa Art with Heart pun, Andra tetap menjadi seorang pelukis. Namun ketika menjadi bagian dari acara itu, Andra merasa lebih dari seorang pelukis.
“Kepercayaan dirinya menjadi meningkat. Sebagai anak dengan kondisi neurodivergent, sekarang pengendalian emosinya makin baik,” tutur Meidy.
Apa yang dilontarkan Meidy diamini Irawan. Untuk itu dia malah berharap ke depan bukan hanya Panasonic-Gobel yang menggelar event seperti itu. Irawan berandai-andai perusahaan-perusahaan lain pun memiliki kepedulian yang sama dengan Gobel. Dia optimistis jika diberi panggung, talenta orang-orang yang berkebutuhan khusus seperti Andra akan lebih tergali.
“Saya yakin banyak anak lain dengan kondisi neurodivergent yang memiliki talenta dan potensi yang belum tersalurkan karena kurangnya kesempatan serta ruang untuk mengekspresikannya,” papar Irawan.
“Selain Panasonic-Gobel, barangkali perusahaan lain bersedia menggagas event serupa. Misalnya, dengan memfasilitasi acara pameran seni para seniman berkebutuhan khusus di mal-mal secara periodik. Jadikan Art with Heart sebagai semacam pilot project,” imbuhnya.
Memunculkan Talenta yang Tersembunyi
Hal senada diungkapkan Sukri Budi Dharma, Ketua Jogja Disability Arts (JDA). Menurutnya, pemberian ruang berekspresi bagi kaum difabel seperti Art with Heart sebaiknya membudaya di negeri ini.
Butong, demikian dia biasa disapa, berharap banyak pihak yang melakukan hal sama dengan yang digelar Panasonic-Gobel. Dari ruang Art with Heart, lahir rasa kesetaraan yang membangkitkan kepercayaan diri kaum difabel.
“Ini kegiatan positif dan perlu dijaga agar berkesinambungan. Kita tahu bahwa potensi kaum difabel belum banyak dimunculkan. Talenta mereka tersembunyi. Komunitas seperti JDA perlu diberi ruang untuk berekspresi. Sebab, sebuah komunitas akan mampu bertahan jika memperoleh dukungan. Jika tidak, maka akan mati dan hilang,” ujar Butong saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin sore, 29 Juni 2026.

Nama Butong sendiri ternyata kependekan dari Budi Tongkat. Penyandang disabilitas yang pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma ini memang menggunakan tongkat penopang kaki untuk membantunya berjalan.
Butong mengaku memiliki kesan mendalam dengan acara Art with Heart. Dia mengungkapkan bahwa acara itu berbeda dengan kegiatan pameran lain. Punya warna tersendiri. Punya makna tersendiri.
Di ajang itu para seniman diberi ruang untuk berdiskusi. Sementara pameran-pameran lain biasanya para pelaku seni hanya memajangkan karya mereka. Minim interaksi.
“Ada dialog. Ada semacam keterbukaan. Kami saling memberi masukan antarsesama peserta, juga dengan kurator. Ide-ide pun diakomodir. Selain itu, di ajang Art with Heart yang dilihat adalah karya, bukan person-nya,” imbuh seniman yang pernah mengikuti Disability Art Learning yang digelar British Council di Liverpool, Inggris itu.
Bagi lelaki kelahiran 1975 itu, Art with Heart 2026 adalah kali kedua keikutsertaannya bersama JDA. Selain dia, ada empat seniman JDA lainnya yang tampil dalam acara tersebut.
“Alhamdulillah, karya saya dan teman-teman mendapat apresiasi yang luar biasa. Kami bangga dan merasa tersanjung,” imbuh pelukis aliran surealisme itu.
Filosofi Warisan Sang Kakek
Bicara soal apresiasi, juga dirasakan oleh Rizka R Safitri, Direktur Program Tab Space, sebuah studio seni inklusif bagi seniman penyandang neurodivergent yang bermarkas di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat.
“Sejujurnya, Tab Space sangat mengapresiasi sikap peduli yang ditunjukkan Panasonic-Gobel terhadap para penyandang disabilitas,” ujarnya. Rizka melanjutkan, Art with Heart bukan sekadar ajang pameran.
“Di situ para penyandang disabilitas bertemu untuk saling memotivasi. Suasana seperti itu memang penting untuk lebih memacu mereka dalam berkarya. Mereka merasa bangga karena berkesempatan berinteraksi dengan para seniman profesional,” tuturnya.
Rizka punya obsesi untuk terus membuktikan bahwa para seniman neurodivergent pun memiliki kesempatan yang sama dengan seniman pada umumnya.
“Nyatanya, karya mereka keren-keren lho. Kan sayang kalau kreasi mereka hanya sampai di buku gambar, tanpa dipublikasikan. Khalayak harus tahu. Untuk itulah Art with Heart digelar,” imbuhnya.
Obsesi dan harapan komunitas yang peduli dengan penyandang disabilitas, sejalan dengan misi kemanusiaan Gobel Group. Art with Heart hanya salah satu dari sejumlah program sosial yang diadakan oleh perusahaan itu.
Melalui program itu, Gobel Group menegaskan komitmennya untuk membuka ruang bagi Andra, Butong, dan para seniman penyandang disabilitas lainnya untuk terus berkarya. Perusahaan itu sesungguhnya tengah meneruskan filosofi yang diwariskan Thayeb Mohammad Gobel, pendiri Gobel Group.
Pada Art with Heart 2026, Panasonic-Gobel mengusung tema “KAMI”. Dilansir dari situs resmi Panasonic, KAMI memiliki dua makna, yakni dari sudut pandang budaya Indonesia dan Jepang.
Dalam budaya Indonesia, ‘kami’ bermakna dua orang atau lebih yang terlibat dalam sebuah aktivitas. Adapun dalam budaya Jepang, ‘kami’ bermakna semangat yang memotivasi orang menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan.
Tujuh Dekade Gobel Mengabdi untuk Negeri
Art with Heart tahun ini menjadi perhelatan istimewa karena bertepatan dengan momentum tujuh dekade Gobel Mengabdi untuk Negeri. Andra dan Butong hanya segelintir dari 70 pelaku seni yang mengaku bersyukur karena terlibat dalam acara itu.
Sebagian hasil penjualan lukisan dari perhelatan itu, digunakan untuk mendukung yayasan dan industri kreatif difabel, yakni Yayasan Pengembangan Anak Istimewa Indriya, Tab Space, dan JDA.
“Pada Art with Heart ketiga, kami punya misi memperkenalkan seniman difabel ke perusahaan-perusahaan atau korporasi,” ujar M. Arif Rachmat Gobel, Direktur dan Ketua Transformasi Digital Gobel Group, dalam gelar wicara (talk show) di kanal YouTube Panasonic Indonesia.
Dalam acara yang dipandu Kelly Meilyana itu, Arif berharap acara Art with Heart terus berlanjut, “Karena ini adalah wujud nyata atau praktik baik nilai-nilai perusahaan yang sudah ditanamkan kepada kami,” ungkap Arif.
Dia melanjutkan, Art with Heart akan membuka akses para seniman difabel agar mereka memperoleh peluang untuk berkembang secara profesional dan mandiri.
Menurut Arif, banyak talenta para seniman terutama dari kalangan difabel yang belum tereksplorasi. Pihaknya ingin Art with Heart bisa menjadi ajang promosi bagi mereka.
“Keahlian mereka bisa lebih dikenal, dan kami berharap apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi para seniman difabel,” imbuh cucu dari Thayeb Mohammad Gobel, sang pelopor industri elektronik Indonesia itu.

Zaman boleh berganti. Namun, filosofi yang tertanam selama tujuh dekade tak pernah sirna. Praktik baik yang digagas Thayeb Mohammad Gobel, diwariskan kepada penerusnya.
Gobel Group mafhum bahwa sebuah perusahaan, idealnya, tak cuma menghasilkan produk. Sebuah perusahaan harus menghasilkan manusia yang mampu memberi manfaat, untuk kemudian mampu menumbuhkan orang lain.
Menumbuhkan orang lain? Benar, itulah yang telah diejawantahkan oleh perusahaan yang pernah menerima Anugerah Bintang Third Class Order of the Sacred Heritage dari Kaisar Jepang pada 1981 itu.
Seni dari Kelapangan Hati
Gobel Group tak setengah hati dalam upaya menumbuhkan orang lain. Salah satu bukti, yakni dengan mendirikan Yayasan Matsushita Gobel (YMG) pada 12 Mei 1979.
Hingga Desember 2025, YMG telah merangkul tak kurang dari 72.000 orang. Mereka memperoleh pelatihan teknikal, manufaktur, manajemen, on-the-job training disiplin dan etika kerja, serta pelatihan bahasa asing.
Filosofi ‘Pohon Pisang’ yang diterapkan perusahaan perintis industri elektronik nasional ini, sangatlah menarik untuk disimak. Dilansir dari situs resmi Gobel Group, pohon pisang melambangkan sikap kebersamaan, rela berkorban, semangat melayani umat manusia, dan perlunya mempersiapkan generasi penerus.
Ya, semangat melayani umat manusia seperti yang dilakukan Gobel Group. Maka tak terlalu mengherankan apabila Panasonic-Gobel meraih penghargaan Indonesia Most Reputable Companies (IMRC) Awards tiga kali berturut-turut untuk kategori Customer Electronic.

IMRC Awards merupakan acara tahunan yang digelar oleh Majalah SWA dan Business Digest. Ajang ini sebagai bentuk apresiasi bagi perusahaan yang dinilai mampu menjaga reputasi, kepercayaan, dan konsisten memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, pelanggan, dan pemangku kepentingan.
Seusai menanggalkan sepatu roda, Andra kembali berkutat dengan lukisan hitam putihnya di rumahnya di Bekasi. Hari-harinya diisi oleh limpahan inspirasi yang menari-nari di benaknya. Inspirasi yang tak pernah kering, yang akhirnya menjelma menjadi karya-karya artistik.
Demikian juga dengan Butong. Lelaki itu terus berkiprah dengan para seniman penyandang disabilitas di Studio JDA. Mereka larut dalam kebersamaan, dan melebur dalam sukacita yang berkepanjangan.
Andra, Butong, dan para pelaku seni penyandang disabilitas lainnya memandang Art with Heart lebih dari sekadar acara pameran. Sebab dalam berkesenian, mereka memang telah mempraktikkannya saban hari.
Ya, mereka percaya bahwa seni yang tercipta dari kejernihan dan kelapangan hati, akan membuahkan karya yang sangat bernilai.***
Editor : Iwan Setiawan