Penghantar Generasi Emas Bernama Telur Ceplok
Entah berapa kali Muhamad Argha Pratama menyeka keringat yang mengucur dari dahi ke kelopak matanya. Kemudian dia mengeluarkan tumbler dari dalam tas yang sejak tadi tergolek di teras depan kelas. Saking hausnya, Argha meneguk air hingga tandas. “Segar,” ucapnya sembari memutar rapat-rapat penutup tumbler yang telah kosong melompong.
KECERIAAN mewarnai wajah-wajah siswa SD Negeri 2 Banjarsuri, yang berlokasi di Jalan H. Rabidin, Desa Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Saat itu, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, mereka baru saja usai mengikuti Senam Empat Pilar Gizi Seimbang.
“Senam membikin badan saya tidak loyo,” ujar Argha. Masih ada sedikit keringat di leher dan dahinya. Lagi-lagi dia menyekanya. Menit berikutnya, Argha dan teman-temannya bersiap menerima pelajaran di dalam kelas.
Sebelum masuk ke ruang kelas, mereka berjejer membentuk antrean. Para siswa itu tampak mengular di depan kelas untuk mencuci tangan dengan sabun. Supanti, salah seorang guru, memberi arahan agar mereka tertib, “Yang sudah (cuci tangan), segera masuk kelas ya,” ujarnya.
Di sekolah ini, Supanti dipercaya sebagai penanggung jawab JAPFA for Kids. Program sosial-edukatif ini menitikberatkan pada kesehatan, upaya peningkatan gizi, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Bukan hanya Argha yang tampak antusias menjalani program yang digagas PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk itu, “Alhamdulillah, semua siswa menyambutnya dengan riang,” tutur Supanti.
Lebih bersyukur lagi ketika dia melihat perlahan-lahan adanya perubahan pola hidup para siswanya. Padahal program ini baru dilaksanakan pada Juli silam.
“Biasanya anak-anak enggan membasuh tangan. Membuang sampah pun kadang-kadang tidak pada tempatnya. Sekarang mereka malah tak perlu disuruh lagi. Praktik baik ini harus terus menjadi sebuah kebiasaan,” imbuhnya.
Argha Ingin Gemuk
Dalam pelaksanaannya, program yang digagas sejak 2008 ini menerapkan kegiatan yang disebut sebagai Hari Sehat JAPFA di sekolah. Tujuannya? Ya itu tadi, untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Kegiatan tersebut terdiri dari senam Empat Pilar Gizi Seimbang, edukasi gizi, mengecek kebersihan tangan dan kuku, serta makan bekal sehat bersama.
Argha mengaku tak pernah melewatkan Hari Sehat JAPFA: ikut senam yang digelar setiap Sabtu, menyerap pengetahuan tentang gizi, mencuci tangan dan menggunting kuku, serta melahap telur setiap hari.
Benar, sepanjang JAPFA for Kids digelar di sekolah ini hingga Desember 2026 nanti, Argha dan siswa lainnya memang memperoleh telur secara cuma-suma alias gratis.
Supanti menjelaskan, dari hasil pemeriksaan kesehatan diketahui bahwa terdapat 12 siswa SD Negeri 2 Banjarsuri dalam kondisi malnutrisi.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh puskesmas yang ditunjuk pemerintah daerah setempat untuk berkolaborasi dengan pihak sekolah.
“Awalnya pemberian telur dikhususkan untuk 12 anak malnutrisi. Tapi karena JAPFA menilai sekolah ini menjalankan program dengan bagus, maka seluruh siswa mendapat jatah,” terang Supanti.
Bagi Argha, mengonsumsi telur secara rutin adalah sebuah kebiasaan baru. Sebelumnya dia menggelengkan kepala ketika ditanya tentang manfaat telur bagi kesehatan tubuhnya.
Malah, sebelum ada program JAPFA for Kids di sekolahnya, Argha mengaku pola makannya tidak teratur. Dia jarang makan karena memang jarang merasa lapar.
“Ganta nyak nganik tallui unggal khani. Nyak haga gemuk (Sekarang saya makan telur setiap hari. Saya ingin gemuk)” ujar penggemar berat Cristiano Ronaldo ini.
Dalam sebulan ini, siswa SD Negeri 2 Banjarsuri sudah empat kali menerima telur gratis. Dalam setiap pemberian, para siswa menerima tujuh butir telur untuk tujuh hari.

Resep masakan telur seperti apa yang paling digandrungi Argha? “Telur Ceplok!” jawab siswa yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha kebun sawit itu dengan lantang.
Takut Menularkan Bakteri ke Adiknya
Kebiasaan baru Argha mengonsumsi telur menjadi kabar yang menggembirakan. Telur merupakan sumber protein hewani yang memiliki multimanfaat.
Dilansir dari situs resmi Ditjen Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, sebutir telur mengandung 6 gram protein, vitamin A, B, D, dan K, fosfor, selenium, yodium, seng, besi, dan kolin.
Jika dikonsumsi setiap hari seperti yang dilakukan Argha saat ini, telur mampu meningkatkan kesehatan kognitif karena di dalamnya terkandung semua nutrisi yang dibutuhkan otak.
Telur juga dapat mengentalkan darah sehingga mampu menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Pelajaran kebiasaan pola hidup sehat yang diperoleh Argha di sekolah, diterapkan juga di rumahnya. Selain rutin melahap telur, dia juga makin rajin mencuci tangan. Pola makannya pun makin teratur. Obsesi untuk memiliki badan gemuk, rupanya terus bergelayut di benaknya.
“Anak saya banyak berubah. Sekarang setiap habis main bola atau kegiatan lain di luar rumah, dia pasti membersihkan tangan,” kata Elti Sukaisih, ibu Argha, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu, 9 Agustus 2026.

Begitu pula ketika hendak bercengkerama dengan adiknya yang baru berusia empat bulan, Argha harus memastikan tangannya terbebas dari kotoran. “Argha bilang, takut bakterinya berpindah ke tubuh adiknya,” imbuh Elti.
Sekarang malah Argha yang kerap mengingatkan orang tuanya tentang pentingnya mencuci tangan dan makan dengan gizi yang seimbang.
Sebagai orang tua, Elti mengaku merasa bangga dan bersyukur. Dia berharap pola hidup sehat yang diterapkan Argha menjadi sebuah kebiasaan di lingkungan rumahnya.
Setiap hari Elti tak pernah jemu membuatkan telur ceplok alias telur mata sapi untuk anak sulungnya itu. Khusus untuk hari Sabtu, telur ceplok itu dibawa sebagai bekal teman nasi ke sekolah.
“Anak-anak mendapat jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) Senin sampai Jumat. Maka, setiap Sabtu kami mewajibkan para siswa membawa bekal makanan dari rumah,” terang Supanti.
Rela Menggunakan Ember
Bagi 12 siswa dengan kondisi malnutrisi, imbuh Supanti, mereka disatukan dalam sebuah ruang kelas. Di ruang itu, Supanti kerap memberi edukasi dan mengajak mereka berdiskusi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Untuk melihat perubahan fisik siswa malnutrisi, pihak sekolah bekerja sama dengan puskesmas melakukan pengukuran tinggi dan berat badan.
Pada 2026 ini, JAPFA for Kids di Kabupaten Lampung Selatan menyasar 15 SD di Kecamatan Sidomulyo. Total yang terperiksa secara mandiri oleh guru sebanyak 2.049 siswa, dan 214 siswa dinyatakan dalam kondisi malnutrisi.
Dalam praktiknya program ini melibatkan dua orang fasilitator, yakni Debora Intan dan Tamara Karent. Keduanya melakukan pendampingan secara intensif selama enam bulan.
“Kami melakukan pemeriksaan status gizi siswa di awal dan akhir program, dan memonitor pertumbuhan mereka secara berkala,” tutur Debora. Sepanjang dipercaya menjadi fasilitator, dia mengaku banyak menemukan pengalaman yang menarik, menyentuh, dan unik.
Setiap hari kecuali hari libur, mulai jam 7.00 hingga siang hari, Debora dan Tamara mesti mengunjungi sekolah-sekolah penerima program. Jarak dari satu sekolah ke sekolah lain sekitar 8-10 km.
“Dalam sehari kami mengunjungi 2-3 sekolah. Alhamdulillah, saya sudah sangat dekat dengan anak-anak. Mereka memanggil saya ‘Mbak Dora’. Walaupun salah menyebutkan nama, tapi itu kan artinya mereka sudah mengenal saya, hehehe,” imbuhnya.
Debora patut bersyukur karena semua sekolah penerima manfaat sangat menyokong dan antusias mengikuti JAPFA for Kids. “Beberapa sekolah yang tak memiliki wastafel, rela menggunakan ember untuk praktik cuci tangan. Ini bentuk antusias mereka,” ujar Debora.
Melanggengkan Komitmen
Tantangan yang dirasakan oleh Debora pada awal pelaksanaan, adalah upaya penyamaan persepsi dengan wali murid agar mereka ikut berkomitmen dalam program itu.
Tak dapat dipungkirinya bahwa ada sejumlah orang tua siswa yang harus diberi pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang.
Debora harus memilih diksi yang tepat agar tak menimbulkan ketersinggungan. “Misalnya, saya lebih suka mengatakan ‘anak yang perlu makanannya lebih seimbang’, daripada mengatakan ‘anak bergizi buruk atau kurang gizi’,” ujar Debora.
Tak sia-sia upaya dia memberi pemahaman tentang pentingnya makanan dengan gizi seimbang. Memasuki minggu ketiga sejak JAPFA for Kids dilaksanakan, perempuan asal Tasikmalaya ini mengaku sudah merasakan adanya perubahan.
“Ada beberapa orang tua yang karena kesibukan mereka, pada awalnya hanya menyediakan mi untuk anaknya. Yang penting anaknya bisa kenyang. Sekarang, para orang tua sudah terbiasa menyediakan sayuran,” imbuh Debora.
JAPFA for Kids melanggengkan komitmennya dalam mengentaskan malnutrisi anak-anak bangsa. Tampaknya program dengan misi kemanusiaan ini bakal terus berlanjut.
JAPFA mencatat, sejak 2008 hingga 2025 program ini telah menjangkau 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi. Dalam kurun waktu tersebut, sebanyak 201.056 siswa menjadi penerima manfaat. Mereka tersebar di 1.214 sekolah dengan melibatkan 13.541 guru.
Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 anak dengan kondisi malnutrisi berhasil menjadi anak bergizi baik (51,5 persen). Adapun pada 2025, dari 1.034 anak dengan kondisi malnutrisi, 646 di antaranya menjadi anak bergizi baik (62,5 persen).
Pada 2026 yang merupakan tahun ke-18, JAPFA for Kids digelar di sembilan lokasi yang tersebar di delapan kabupaten. Dari 16.165 siswa yang mengikuti program ini, sebanyak 1.371 siswa dalam kondisi malnutrisi. Mereka berada di 95 sekolah.
“Program ini tak hanya memberikan edukasi, melainkan juga membangun kebiasaan sehat yang berkelanjutan di lingkungan sekolah,” tutur Head of Social Investment PT JAPFA Retno Artsanti.
Dia mengungkapkan, JAPFA for Kids dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala, “Tujuannya untuk memastikan bahwa dampak dari program ini bisa terukur secara konsisten,” imbuhnya.

Dilansir dari situs resmi Kemendikdasmen, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan sekolah dan siswa.
GSS fokus pada lima bidang utama yakni sehat bergizi, sehat fisik, sehat imunisasi, sehat jiwa, dan sehat lingkungan.
Seperti diketahui, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 mencatat bahwa 112 juta masyarakat di Indonesia masih mengalami masalah gizi.
Dalam siaran pers pada Rabu 29 Juli 2026 di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunandi Sadikin menyatakan bahwa berdasarkan cek kesehatan gratis (CKG) yang digelar di sekolah, sebagian besar siswa SD sampai tamatan SMA terindikasi mengalami kekurangan gizi.
Menuju Generasi Emas 2045
Pemerintah tampaknya melihat persoalan gizi sebagai sebuah tantangan nasional. Maka tak terlalu berlebihan jika JAPFA ingin menggelorakan praktik baiknya, diawali dari ruang kelas.
Mengajak anak-anak membiasakan diri mencuci tangan dan makan dengan gizi yang seimbang, mungkin hanya ajakan sederhana. Namun dari kesederhanaan itu lahir harapan besar: menyehatkan Indonesia.
Atas kontribusinya mengatasi malnutrisi dan mengedukasi pola hidup sehat anak-anak, JAPFA diganjar dengan sejumlah penghargaan bergengsi.
Dalam ajang Asia Responsible Entrepreneurship Awards (AREA) yang digelar di Bangkok, Thailand pada 2017, perusahaan itu meraih penghargaan dari kategori Health Promotion. Dua tahun kemudian, yakni pada 2019 dalam ajang yang sama di Taipei, Taiwan, lagi-lagi JAPFA menyabet penghargaan bergengsi tersebut.
Selain itu, JAPFA juga berhasil menyabet penghargaan di ajang Fortune Indonesia Change the World yang digelar pada awal 2024.

Tampaknya perusahaan agri-pangan penyedia protein hewani ini akan terus menggulirkan JAPFA for Kids. Ya, sepanjang kasus malnutrisi masih mengintai dan merampas keceriaan anak-anak bangsa. Sebab, anak-anak inilah yang menjadi pemeran utama sebagai Generasi Emas 2045.
“Anak di Indonesia mengalami triple burden of malnutrition, yaitu kekurangan gizi, gizi berlebih, dan kekurangan zat gizi mikro,” ujar Asisten Deputi Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan Kementerian Koordinator PMK, Jelsi Natalia Marampa, dilansir dari situs resmi Kemenko PMK.
Dia mengungkapkan, pada 2024 anak sekolah usia 5–12 tahun yang mengalami kasus gagal tumbuh (stunting) sebanyak 18,7 persen, badan kurus (wasting) 11 persen, obesitas 19,7 persen, dan anemia 16,3 persen.
“Angka prevalensi balita stunting sebanyak 21,5 persen,” terang Jelsi dalam acara Bincang Bahari di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rabu, 19 November 2025.
Dia melanjutkan, sebanyak 65 persen anak usia sekolah tidak terbiasa dengan sarapan sehat, 97,7 persen anak usia 5–14 tahun kurang mengonsumsi sayur dan buah, “Serta 54 persen memakan jajanan yang tidak sehat,” ujarnya.
Boleh jadi Argha tak terlalu paham tentang triple burden of malnutrition. Yang barangkali dia ketahui adalah bahwa senam membuat badannya bugar, mencuci tangan mampu mengusir bakteri, dan mengonsumsi telur ceplok secara rutin menciptakan kenikmatan tiada tara.
Namun dari pemahamannya yang sederhana itu, tanpa disadarinya bahwa sebenarnya dia sedang membangun fondasi untuk masa depannya.
Argha sedang melakoni perannya sebagai calon Generasi Emas. Ya, dengan telur ceplok yang kerap dilahapnya.**
Editor : Iwan Setiawan