Kemarau Panjang, PJT II Lanjutkan Modifikasi Cuaca untuk Jaga Pasokan Air Waduk Jatiluhur
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Menghadapi musim kemarau berkepanjangan, Perum Jasa Tirta II (PJT II) kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Tahap II untuk menjaga ketersediaan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Operasi yang dimulai pada 18 September 2026 ini diharapkan dapat meningkatkan curah hujan di wilayah tangkapan air, sehingga menambah pasokan air ke Waduk Kaskade Citarum, termasuk Waduk Jatiluhur.
Kegiatan yang dipusatkan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 22 September 2026. Pelaksanaannya menyesuaikan hasil pemantauan awan dan potensi hujan di wilayah Jawa Barat berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
OMC Tahap II merupakan tindak lanjut rapat koordinasi yang dipimpin Direktur Jenderal Sumber Daya Air pada 9 September 2026.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, mengatakan operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah cepat perusahaan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau yang masih berlangsung.
“OMC ini penting untuk menjaga ketahanan cadangan air di DAS Citarum agar pelayanan air kepada masyarakat, sektor pertanian, industri, maupun kebutuhan energi tetap dapat berlangsung secara optimal di tengah kondisi musim kemarau,” ujar Imam Santoso.
El Niño Sangat Kuat,Pasokan Air Waduk Jadi Perhatian
Upaya penambahan curah hujan dilakukan di tengah kondisi cuaca yang perlu diantisipasi.
Berdasarkan analisis BMKG pada Dasarian I September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami curah hujan rendah dan di bawah normal.
BMKG juga mencatat fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pulau Jawa diprakirakan masih berpotensi mengalami curah hujan rendah pada Dasarian II dan III September 2026.
Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada berkurangnya aliran sungai dan pasokan air yang masuk ke waduk.
Sementara itu, tinggi muka air Waduk Jatiluhur pada 18 September 2026 pukul 07.00 WIB tercatat sekitar 94,32 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Angka tersebut masih berada di atas batas bawah operasi waduk sebesar 87,50 mdpl.
Berdasarkan perhitungan pengelolaan waduk, ketersediaan air masih diproyeksikan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan hingga akhir 2026.
Meski demikian, PJT II terus melakukan langkah antisipasi agar cadangan air tetap terjaga di tengah ketidakpastian kondisi cuaca.
Jaga Kebutuhan Air Masyarakat hingga Pertanian
Direktur Operasi dan Pemeliharaan Perum Jasa Tirta II, Anton Mardiyono, mengatakan pelaksanaan OMC diharapkan dapat membantu mempertahankan pasokan air yang masuk ke waduk melalui optimalisasi potensi hujan di daerah tangkapan air.
“Tambahan curah hujan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu mempertahankan air masuk ke waduk dan menjaga kondisi tampungan, sehingga kebutuhan air baku, irigasi, serta pelayanan sumber daya air lainnya tetap dapat terpenuhi selama periode kemarau,” ujar Anton.
Selain modifikasi cuaca, PJT II melakukan pengaturan operasi waduk, pemantauan neraca air secara berkala, serta pengaturan distribusi air.
Pemantauan juga dilakukan terhadap perkembangan cuaca, kondisi hidrologi, tinggi muka air, serta aliran air masuk dan keluar waduk atau inflow dan outflow.
Langkah tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan operasional untuk memastikan air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dan berkeadilan.
Dalam pelaksanaan OMC Tahap II, PJT II berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan BBWS Citarum, BMKG, pengelola waduk kaskade, TNI Angkatan Udara, PT PLN Nusantara Power, PT PLN Indonesia Power, serta PT Rekayasa Atmosphere Indonesia sebagai pelaksana penyemaian awan.
Melalui berbagai upaya tersebut, PJT II berupaya menjaga ketahanan air di DAS Citarum sekaligus mendukung kebutuhan masyarakat, sektor pertanian, industri, dan energi di tengah musim kemarau.**
Editor: Iwan Setiawan