Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tanamkan Disiplin Lalulintas Sejak Dini, Polwan Purwakarta Gelar Police Goes To School
Advertisement . Scroll to see content

Kemarau Panjang Ancam Panen Cabai, Benih Tahan Penyakit Jadi Solusi Petani

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:28 WIB
  • author Irwan
Kemarau Panjang Ancam Panen Cabai, Benih Tahan Penyakit Jadi Solusi Petani
Petani saat memanen cabai. Foto: Istimewa

JAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Kemarau panjang akibat dampak El Nino menjadi ancaman serius bagi petani cabai di Indonesia. Selain keterbatasan air, suhu tinggi juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menyebabkan hasil panen merosot, bahkan gagal panen.

Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi teknologi pertanian, salah satunya melalui penggunaan benih varietas unggul yang memiliki ketahanan terhadap penyakit dan mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan PT East West Seed Indonesia (Ewindo) adalah cabai keriting hibrida Laba TAVI F1. Varietas ini dikembangkan untuk membantu petani menghadapi ancaman penyakit yang kerap muncul dalam budidaya cabai, terutama saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

Sawal, petani cabai asal Jawa Tengah, mengaku mengalami gagal panen setelah sebagian besar tanaman cabainya mati akibat kondisi cuaca kering.

“Akibat tidak ada hujan kami gagal panen. Ada sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen, tapi itu pun hasilnya tidak bagus,” katanya.

Kekeringan dapat menyebabkan tanaman mengalami stres sehingga pertumbuhannya terganggu dan lebih rentan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Di sisi lain, serangan kutu daun (aphids), thrips, dan kutu kebul (Bemisia tabaci) juga menjadi perhatian karena hama tersebut dapat menularkan virus yang merusak tanaman cabai.

Dalam kondisi tersebut, pemilihan varietas yang memiliki ketahanan terhadap penyakit menjadi salah satu upaya untuk menekan risiko kerugian petani.

Laba TAVI F1 dikembangkan dengan ketahanan terhadap sejumlah penyakit utama, di antaranya layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang atau akar akibat Phytophthora capsici, serta kompleks penyakit virus yang menjadi salah satu penyebab kegagalan budidaya cabai.

Selain ketahanan terhadap penyakit, varietas ini juga memiliki potensi produktivitas yang menjanjikan. Laba TAVI F1 diklaim mampu menghasilkan buah dengan bobot rata-rata 8 gram per buah dan potensi panen mencapai 18–23 ton per hektare.

Ketahanan tanaman terhadap penyakit diharapkan dapat membantu petani menjaga pertumbuhan, pembentukan buah, serta kualitas hasil panen di tengah tantangan perubahan iklim.

General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Budi Hariyono, mengatakan pengembangan varietas tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan inovasi benih yang sesuai dengan kebutuhan petani di Indonesia.

“Varietas Laba TAVI F1 ini merupakan hasil dari proses riset mendalam yang kami dedikasikan sebagai solusi nyata bagi para petani dalam menghadapi tantangan musim kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini. Kami memahami betul bahwa iklim ekstrem dan serangan penyakit menjadi ancaman terbesar bagi pendapatan petani,” ujar Budi.

Menurutnya, inovasi benih yang memiliki ketahanan terhadap penyakit diharapkan membantu petani menjaga produktivitas sekaligus menekan biaya yang timbul akibat risiko serangan penyakit.

Ewindo juga mendorong petani menerapkan praktik budidaya yang tepat, mulai dari penggunaan benih berkualitas, pengelolaan irigasi secara efisien hingga pengaturan pola tanam. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi varietas unggul, terutama saat pasokan air terbatas.

Pengalaman budidaya di lapangan turut menjadi pertimbangan petani dalam menentukan varietas yang akan digunakan. Agus, salah seorang petani cabai yang menggunakan Laba TAVI F1, menilai performa tanaman dan ketahanan terhadap penyakit menjadi faktor penting dalam menghadapi cuaca yang sulit diprediksi.

“Saya melihat Laba TAVI F1 memiliki performa tanaman yang baik. Bagi kami petani cabai, kondisi cuaca yang tidak menentu dan serangan penyakit menjadi tantangan tersendiri karena bisa memengaruhi hasil panen. Karena itu, memilih varietas yang memiliki ketahanan terhadap penyakit menjadi salah satu pertimbangan penting dalam budidaya cabai,” ujar Agus.

Ia berharap pemilihan varietas yang tepat, disertai perawatan tanaman yang baik, dapat membantu petani mempertahankan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang lebih optimal.

Untuk memperluas pemahaman petani mengenai penggunaan benih unggul, Ewindo menggelar kegiatan edukasi di sejumlah sentra produksi cabai nasional.

Salah satu kegiatan berlangsung di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 230 petani dari tiga kabupaten, yakni Simalungun, Batubara, dan Deli Serdang.

Melalui edukasi dan pemanfaatan teknologi benih, upaya mitigasi dampak kemarau panjang diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha tani sekaligus mendukung stabilitas produksi dan pasokan cabai di pasar nasional.

Meski demikian, penggunaan varietas tahan penyakit tetap perlu didukung pengelolaan air, pemeliharaan tanaman, dan praktik pengendalian hama terpadu agar hasil budidaya dapat lebih optimal.***

Editor: Iwan Setiawan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut