Dari caranya memeras madu, bisa diterka bahwa Indriani Imlassyafitri (30) sudah sangat terbiasa melakukan pekerjaan itu. Lihat saja, tangannya yang terbungkus sarung berbahan lateks begitu cekatan, kendati dipenuhi lumuran madu. Menit berikutnya, cairan kental yang rasanya manis itu sudah berada di dalam botol-botol kemasan dengan berbagai ukuran. Siap untuk dipasarkan.
“MADU yang saya jual diambil dari alam liar. Dari lebah hutan,” tutur Indriani, pemukim Dusun Batupara, Desa/Kecamatan Lantung, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 1 September 2026.
Indriani memperoleh madu yang dihasilkan oleh lebah liar (Apis dorsata) dari kelompok pencari madu di kawasan hutan Jaran Pusang, Sumbawa.
Lebah jenis ini memang tidak dibudidayakan. Untuk memperoleh madunya, para pemburu harus memanjat pohon-pohon yang menjulang seperti pohon meni, tampoa atau binong di tengah belantara.
Untuk menemukan pohon yang menjadi koloni lebah, mereka harus melintasi sungai, meniti tebing, dan menaiki atau menuruni jurang.
Jahamudin adalah satu satu pemburu madu di belantara Jaran Pusang. Bersama kelompoknya yang berjumlah dua atau tiga orang, biasanya dia berangkat dari rumahnya di Desa Sepukur subuh hari.
“Setelah berjalan kaki sekitar tujuh jam, kami tiba di dalam hutan,” ujar lelaki yang biasa disapa Iyaf ini, Rabu, 2 September 2026.
Bermalam di Tengah Belantara
Jika sedang mujur, Iyaf dan kelompoknya hari itu juga bisa mendapatkan madu. Namun, pencarian madu tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya mereka tak satu pun menemukan koloni lebah hingga matahari terbenam.
Mereka tak serta merta pulang. Para pencari madu itu bermalam selama dua hingga empat hari di dalam hutan untuk mendapatkan yang mereka cari.
“Makanya setiap mencari madu, kami wajib membawa perbekalan, termasuk alas untuk tidur di dalam hutan,” terang lelaki kelahiran 1982 itu.
Iyaf menjelaskan, berburu madu di malam hari hanya bisa dilakukan ketika tak ada bulan di langit. “Kalau ada bulan, aning (lebah) pasti menyerang kita. Aning di hutan ini ganas-ganas,” ujarnya.
Sepanjang menjadi pemburu lebah selama hampir 30 tahun, tak terhitung berapa kali Iyaf disengat lebah. “Pokoknya sering (disengat). Wajah saya sampai bonyok-bonyok, hehehe,” ujarnya.
Kelompok pencari madu ini biasanya pulang dari perburuannya setelah menjinjing 8 hingga 12 jeriken madu liar. Mereka menjualnya seharga Rp1,5 juta per jeriken.
Iyaf biasanya segera menyeruput kopi yang telah disuguhkan Latifah, istrinya, sesaat setelah tiba di rumah. Esoknya, Indriani akan datang membeli madu yang masih segar itu.
“Saya membeli madu dari Pak Iyaf. Kadang membeli dengan sarangnya, atau madunya saja yang sudah di dalam jeriken,” terang Indriani.
Program pemberdayaan UMKM yang dilakukan PT AMMAN menghantarkan madu yang diproduksi Indriani Imlassyafitri lebih dikenal luas. (Foto: Dok Indriani Imlassyafitri)
Madu hasil perburuan Iyaf dan kelompoknya kemudian dikemas dengan merek Quinbi. Ada lima pilihan ukuran kemasan, mulai dari 100 ml hingga 1.000 ml.
“Alhamdulillah, dengan memanfaatkan media sosial, madu produk saya sudah dikenal hingga ke luar kota,” ujarnya.
Untuk menarik perhatian pembeli, Quinbi dikemas dengan sangat apik. “Pokoknya harus eye-catching, supaya orang tertarik melihatnya, hehehe,” imbuh Indriani.
Berkenalan dengan Bale Berdaya
Dalam sebulan madu kemasan 1.000 ml seharga Rp300.000, bisa terjual hingga 40 botol. “Setiap bulan selalu terjadi peningkatan jumlah pembeli,” tuturnya.
Rasa madu memang manis. Namun berbisnis madu tidak sekonyong-konyong berbuah manis. Paling tidak, itulah yang dialami Indriani. Manisnya berbisnis cairan kental itu baru dirasakannya sejak 2024. Padahal, dia memulai berjualan sejak 2020.
Awalnya madu dikemas dalam botol air mineral 600 ml, tanpa diberi merek. Benar-benar apa adanya. Pembelinya pun hanya dari Desa Lantung. Tak heran jika jumlah pelanggannya bisa dihitung dengan jari.
“Penghasilan saya waktu itu asal-asalan. Padahal kualitas madunya lebih bagus daripada madu dari lebah yang diternakkan,” kenang Indriani.
Madu, si manis yang digemari oleh semua kalangan karena memiliki banyak khasiat. (Foto: Dok Inews)
Titik balik usaha Indriani terjadi pada 2024. Saat itu dia bergabung dalam program yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Perusahaan pertambangan tembaga dan emas yang beroperasi di Sumbawa Barat itu meluncurkan Bale Berdaya untuk meningkatkan perekonomian lokal secara berkelanjutan. Program ini merangkul para pelaku UMKM agar naik kelas.
Dalam praktiknya, AMMAN berkolaborasi dengan KUMPUL, lembaga yang bergerak dalam pengembangan ekosistem kewirausahaan dan pemberdayaan usaha rintisan serta UMKM.
“Saya senang dilibatkan dalam Bale Berdaya. Dalam program itu saya memperoleh pelatihan, pembinaan, dan pendampingan secara intensif mulai dari branding, pengelolaan keuangan, legalitas usaha, dan lainnya,” terang Indriani.
Selamat Tinggal Botol Mineral Bekas
Bale Berdaya berperan besar dalam mempertajam naluri bisnis Indriani. Dia jadi lebih bersemangat dan termotivasi setelah ikut program itu. “Karena hobi saya memang jualan. Sejak saat itu saya fokus jualan madu,” imbuhnya.
Indriani tak lagi menggunakan botol mineral bekas untuk kemasan. Perizinan pun dibuat, marketplace dijamah, dan merek dengan nama Quinbi mulai diperkenalkan.
“Jalan yang dibuka AMMAN membuat akses pasar Quinbi makin luas. Produk saya tak lagi dijual hanya di sekitar Desa Lantung, tetapi sudah menyebar ke kota-kota besar,” ungkap Indriani.
Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact PT AMMAN menyebutkan, program Bale Berdaya 2024 berhasil meningkatkan omzet para pelaku UMKM. Jika dirata-ratakan, kenaikannya mencapai 100,2 persen.
Dia mengatakan, sebelum mengikuti program, secara umum persoalan yang kerap ditemukan pada UMKM antara lain pencatatan keuangan yang tak tertib dan identitas merek serta kemasan yang masih lemah.
Kolaborasi PT AMMAN dengan Narasa Indonesia dari Bogor untuk mencetak UMKM yang tangguh. (Dok: AMMAN)
Selain itu, legalitas perizinan belum lengkap, kualitas dan kapasitas produksi belum konsisten, serta pemasarannya pun masih terbatas pada lingkungan sekitar.
“Sebagian UMKM masih berorientasi pada kemampuan membuat produk. Mereka belum memiliki pemahaman yang memadai terkait perhitungan harga pokok produksi, model bisnis, strategi pasar, dan pengembangan jejaring,” terang Aji.
“Bale Berdaya memberikan pembinaan secara menyeluruh, meliputi manajemen usaha, penentuan harga jual, pengembangan produk, hingga desain kemasan. Selain itu, diberi juga pemahaman tentang pemasaran digital, legalitas usaha, dan fasilitasi sertifikasi,” imbuhnya.
Hingga 2026, lebih dari 1.200 UMKM mitra AMMAN telah memperoleh pelatihan dan pendampingan.
Mereka tersebar di Kabupaten Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Lombok Timur. Angka tersebut merupakan akumulasi penerima manfaat dari berbagai program.
Menggandeng Konsultan Bisnis
Aji melanjutkan, perubahan paling nyata yang dirasakan UMKM setelah mengikuti sejumlah program CSR AMMAN adalah meningkatnya sumber pendapatan dan bertambahnya kepercayaan diri.
Selain itu, kesempatan kerja makin terbuka serta makin besarnya keterlibatan perempuan dan masyarakat lokal dalam kegiatan ekonomi.
“Rencana Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN 2023–2035, mencantumkan sasaran 300 mitra UMKM mengikuti pengembangan kapasitas manajemen, bisnis, dan keuangan, dengan outcome 60 persen mitra tumbuh dan berkembang,” terang Aji.
Selain berkolaborasi dengan KUMPUL, pada 2021-2024 AMMAN juga menggandeng Narasa Indonesia, konsultan bisnis UMKM yang bermarkas di Bogor, Jawa Barat.
“Bersama AMMAN, kami melakukan pendampingan dan pelatihan kepada 50 UMKM dan menginisiasi pembentukan Silaras, sebuah komunitas kolaboratif berbasis pemuda,” tutur Devina Sandriati, Direktur Narasa Indonesia, Jumat, 28 Agustus 2026.
Devina ingin Silaras menjadi wadah bagi pemuda setempat untuk melanjutkan apa yang telah dilakukan Narasa kepada UMKM binaan AMMAN.
Sebelum Silaras dibentuk, Narasa melatih para pemuda setempat untuk mengelola, mengemas, dan mendesain produk olahan milik UMKM.
“Agar program ini berkelanjutan, maka harus ada yang mengawal. Silaras harus jadi pintu masuk, jadi jembatan antara produk UMKM dengan konsumen,” ujarnya.
Ke depan, dia berharap komunitas ini memiliki usaha yang bergerak di bidang desain, kemasan, dan merchandise untuk memenuhi kebutuhan para pelaku UMKM.
Devina mengungkapkan, UMKM binaan AMMAN bukan hanya mempertahankan eksistensinya, melainkan terus berinovasi agar naik kelas. “Saya optimistis perusahaan ini tak main-main dalam melakukan pembinaan,” tandasnya.
Memanfaatkan Tanpa Merusak
Apa yang diyakini oleh Devina, dibuktikan AMMAN dengan menyabet sejumlah penghargaan atas keseriusannya dalam mengejawantahkan CSR.
Sejumlah penghargaan yang diraih berkaitan dengan program CSR, di antaranya Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2019, BKPM Award 2021, Subroto Award 2024, dan PROPER Hijau 2026.
PT AMMAN berhasil meraih penghargaan Subroto 2024 dari Kementerian ESDM. (Foto: Dok AMMAN)
Nun jauh dari Bogor, Devina menyatakan rasa salutnya kepada AMMAN karena jejak program komunitas Silaras yang diinisiasinya masih relevan hingga saat ini.
Sementara itu, Indriani terus berkutat dengan rutinitasnya: menjajakan Quinbi hingga produknya itu melanglangbuana ke luar kota.
Dia tak pernah merasa khawatir kehabisan pasokan madu, sebab ada Iyaf dan kelompoknya yang menjelajah belantara Jaran Pusang.
Ya, Iyaf. Sosok yang sudah menganggap Jaran Pusang adalah sahabat dan sumber penghidupannya. Di sanalah dia berinteraksi dengan alam, mengambil manfaat tanpa merusaknya.***
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
