Isu Wabup Purwakarta Bang Ijo Gabung ke PSI, Pengamat Politik: Tiga Parpol Kena Prank

PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Rencana Wakil Bupati Purwakarta Bang Ijo Hapidin bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi isu menarik untuk diperbincangkan.
Sebagian kalangan menilai keputusan Bang Ijo ini merupakan langkah cerdas dalam membaca peta politik lokal Purwakarta.
Kalangan lain, justru mempertanyakan kadar loyalitas Bang Ijo terhadap partai yang mengusungnya menjadi Wakil Bupati Purwakarta.
Pada Pilkada Purwakarta 2024, Bang Ijo diusung Partai Demokrat. Sebelumnya, pada Pemilu Legislatif Purwakarta, dia menjadi caleg untuk daerah pemilihan (dapil) 2 dengan bergabung bersama PKB.
Di tengah jalan, Bang Ijo mengurungkan niatnya menjadi caleg Purwakarta. Dia keluar dari PKB dan bergabung dengan Partai Nasdem untuk ikut berkontestasi di Pileg Jawa Barat.
Rampung Pileg, Bang Ijo mencoba peruntungan untuk ikut berkompetisi di Pilkada Purwakarta. Untuk mendapat tiket, dia tak lagi bersama Nasdem. Bang Ijo memilih Partai Demokrat sebagai kendaraan politiknya.
Berpasangan dengan Saepul Bahri Binzein, Bang Ijo meraih suara signifikan di Pilkada Purwakarta. Pasangan ini dilantik pada 20 Februari 2025.
Di masa jabatannya yang baru 1,5 bulan, Bang Ijo dikabarkan meninggalkan Partai Demokrat dan berencana bergabung dengan PSI Jawa Barat.
Hingga saat ini Bang Ijo belum memberikan keterangan resmi terkait kabar tersebut. Namun santer diberitakan, dia akan memperoleh karpet merah untuk menjadi Ketua DPW PSI Jawa Barat.
Saat dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, Bang Ijo belum mau berkomentar, “Nanti dikabari,” ujarnya singkat, Kamis (3/4/2025).
Kena Prank
Sejumlah kalangan menanggapi secara beragam tentang Langkah politis Bang Ijo. Wakil Ketua DPC PKB Purwakarta Alaikassalam berpendapat, langkah Bang Ijo berpindah-pindah parpol adalah wajar dan itu menjadi haknya.
“Sah-sah saja pindah partai, hanya ada satu etika yang harus diperhatikan, yakni etika dengan parpol yang mengusungnya pada Pilkada,” ujar Alaikassalam saat dihubungi melalui telepon, Kamis (3/4/2025).
Saat Partai Demokrat mengusung Bang Ijo dalam Pilkada 2024, Alaikassalam meyakini antarkedua belah pihak sudah ada komitmen yang dibangun.
“Misalnya, komitmen Bang Ijo untuk membesarkan Partai Demokrat Purwakarta. Jadi, ketika Bang Ijo tiba-tiba memutuskan meninggalkan Demokrat, wajar jika parpol ini merasa kecewa. Karena parpol inilah yang mengusung bang Ijo,” imbuh Alaikassalam.
Dihubungi secara terpisah, tokoh pemuda Bojong Asep Saepudin berpendapat lain. Asep mengatakan, rencana Bang Ijo untuk bergabung ke PSI adalah langkah yang tepat untuk menunjang karier politiknya.
“Bang Ijo harus mendapatkan partai yang aman dan nyaman bagi dirinya. Dia kan pendatang baru di kancah politik, tentunya wajar jika pilih pilih partai," ujar Asep.
“Bang Ijo sekarang level politiknya sudah bukan kaleng-kaleng lagi. Selain menjabat sebagai Wabup Purwakarta dan mempunyai tunjangan finansial yang sangat cukup, tentu dia perlu menempati jabatan dalam partai yang sedang berkembang saat ini,” imbuhnya.
Menurut Asep, keputusan Bang Ijo bergabung dengan Partai Demokrat, juga sudah tepat. Tapi menempati jabatan yang mentereng di partai tersebut sangatlah susah.
“Sekarang kan kabarnya Bang Ijo akan pindah ke PSI dengan Jabatan Ketua tingkat Provinsi. tentu itu perlu dilakukan kalau memang ada kesempatan, karena partai ini sedang berkembang cukup pesat walau partai baru,” tandasnya.
Pengamat politik Purwakarta Awod Abdul Gadir turut berkomentar. Dia mengatakan, selama ini Bang Ijo telah berhasil memperdaya tiga partai di Purwakarta, yakni PKB, Nasdem, dan Demokrat.
“Saya tak habis mengerti, kok bisa partai sebesar PKB, Demokrat, dan Nasdem bisa diprank oleh Bang Ijo,” ujar Awod.
Ikhwal Bang Ijo yang kerap loncat parpol, Awod menyebut bahwa itu hal wajar mengingat Bang Ijo merupakan sosok awam di bidang politik. “Justru saya mempertanyakan, kok begitu mudahnya partai kena tipu!” tandasnya.
Ditambahkan Awod, wajar jika Partai Demokrat yang merupakan partai pengusung di Pilkada 2024, meradang atas rencana Bang Ijo pindah ke partai lain.
“Secara moral, langkah Ijo ini tak etis. Ini menunjukkan sikap arogansinya. Dia tak akan menjadi wabup jika tak diusung Demokrat. Habis manis sepah dibuang. Kader Demokrat harus meminta pertanggungjawaban moral kepada Bang Ijo,” imbuh Awod.
Hingga berita disusun, iNewsPurwakarta.id belum berhasil memperoleh tanggapan dari Partai Demokrat.***
Editor : Iwan Setiawan