Ketika Solar Menjadi Penghubung Kehidupan di Waduk Jatiluhur
Perahu diesel yang dikemudikan Muldiana makin mendekati Pelabuhan Biru. Lelaki yang akrab disapa Mang Yana ini mematikan mesin perahunya beberapa saat sebelum tiba di tepi danau. Setelah benar-benar menepi, dia segera menambatkan perahu. Tiga orang penumpang terdiri dari suami, istri dan anak beranjak dari perahu, menuju daratan yang agak menanjak.
“YANG barusan menumpang perahu saya itu wisatawan dari Bekasi. Saya baru saja mengantarkan mereka berkeliling bendungan,” ujar Mang Yana mengawali obrolan di sebuah warung kopi di tepi Pelabuhan Biru, Minggu sore, 21 Juni 2026.
Waduk Jatiluhur yang berada di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat itu merupakan rumah kedua bagi Mang Yana. Lelaki berusia 40 tahun itu telah mengisi separuh hidupnya di danau ini sebagai pengemudi ojek perahu. Dia memilih Pelabuhan Biru, salah satu objek wisata yang berada di dalam kawasan bendungan sebagai tempat mangkalnya.
“Ya, sudah 20 tahun saya jadi tukang ojek perahu. Waktu yang lumayan lama,” tutur pemukim Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta ini. Maka tak heran jika kecipak air danau dan deru mesin perahu menjadi irama yang sudah teramat akrab di telinganya.
Mang Yana sudah akrab dengan alam di sekitar bendungan dan mampu membaca kondisi cuaca. Intuisi semacam itu memang sangat berguna bagi para tukang ojek perahu.
“Jika cuaca tak mendukung, saya menolak untuk mengantarkan penumpang. Khawatir terjadi apa-apa ketika berada di tengah danau. Saya memang akan kehilangan rezeki. Tapi kan keselamatan lebih penting daripada uang, ya tidak?” ujar ayah satu anak itu.
Di zona Pelabuhan Biru, ada belasan ojek perahu yang siap melayani penumpang. Karena zona ini merupakan objek wisata, maka sebagian besar penumpangnya adalah para wisatawan.
Ini berbeda dengan para ojek perahu yang beroperasi di Kampung Serpis. Di zona ini kalangan penumpangnya lebih beragam, mulai dari wisatawan, para pemancing, hingga anak sekolah.
Tarif ojek perahu untuk sekali jalan sebesar Rp25.000/orang. Rata-rata kapasitas penumpang untuk setiap perahu sebanyak 10 orang. Para wisatawan biasanya membutuhkan jasa ojek perahu untuk berkeliling di tengah danau sekitar 25-30 menit.
Selain membawa para penumpang berkeliling, Mang Yana dan para pengemudi ojek perahu lainnya sekaligus bertindak semacam pemandu wisata. Mereka mengajak para wisatawan berkeliling untuk melihat-lihat aktivitas para nelayan jaring apung di tengah danau, restoran apung, dan panorama air yang menakjubkan.
Solar Berarti Sumber Nafkah
Pekerjaan yang digeluti Mang Yana dan para pengemudi ojek perahu lainnya, sangat bergantung kepada BBM jenis solar. Ya, solar. Bisa dibayangkan bagaimana mereka bisa melajukan perahu tanpa solar.
Ketiadaan solar sama artinya dengan sirnanya nafkah mereka. Padahal, keberadaan ojek perahu di perairan Waduk Jatiluhur yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II ini memiliki peran penting dalam menyokong aktivitas dan perekonomian warga.
Dengan diantar oleh ojek perahu ke lokasi keramba jaring apung (KJA), para pemancing bisa mengail banyak ikan di tengah danau. Para wisatawan bisa leluasa menikmati pemandangan waduk yang eksotis. Belum lagi warga yang berdomisili di seberang danau jadi dimudahkan ketika hendak pergi ke pusat kota Purwakarta. Singkat kata, lalu lintas di perairan Waduk Jatiluhur yang memiliki luas 83 km² itu mustahil berjalan tanpa solar.

Bukan hanya oleh para pengemudi ojek perahu, solar juga dibutuhkan oleh para nelayan KJA yang umumnya memiliki perahu. Kendaraan air tersebut digunakan untuk mengontrol proses budidaya, mengangkut pakan, dan mengangkut ikan hasil tangkapannya ke darat. Saat ini KJA di perairan Jatiluhur berjumlah 33.000 petak.
Bagi para pengemudi ojek perahu dan nelayan KJA, solar adalah penghubung kehidupan. Tanpa pasokan energi yang lancar, aktivitas ekonomi mereka bisa lumpuh. Benar, tak ada yang bisa menampik bahwa solar menjadi urat nadi Waduk Jatiluhur.
“Tanpa perahu, produksi ikan akan terganggu,” ujar Rahmat, nelayan KJA yang berada di zona Kampung Serpis. Lelaki yang bermukim di Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur ini, setiap hari harus mengontrol keramba miliknya di tengah danau. Tak heran jika perahu menjadi kendaraan utama para nelayan KJA.
“Alhamdulillah, selama ini pasokan solar tak pernah tersendat. Selalu lancar,” ujar Rahmat. Hal senada dilontarkan Mang Yana, “Saya biasanya membeli dua liter untuk beberapa rit. Para pengemudi ojek perahu membeli solar dari pengecer yang ada di tepi danau,” terang Mang Yana.
Seusai menjalani rutinitas hariannya mengantar jemput penumpang, Mang Yana beranjak pulang dan tiba di rumah sederhananya menjelang maghrib. Menyeruput kopi hitam yang diseduh sang istri, membuat tubuhnya kembali bugar.
Kabupaten Purwakarta mendapat pasokan BBM dari Fuel Terminal (FT) Cikampek. Pendistribusiannya dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga. Adapun untuk Kecamatan Jatiluhur, khususnya wilayah waduk, BBM didistribusikan dengan armada mobil tangki melalui rute utama, yakni dari FT Cikampek ke Gerbang Tol Kalihurip Utama dan keluar di Gerbang Tol Jatiluhur.
Pendistribusian BBM untuk Pulau Jawa memang dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga. Adapun wilayah operasional PT Elnusa Petrofin meliputi wilayah luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun demikian, keduanya berada dalam naungan PT Pertamina (Persero) yang berkomitmen dalam hal pendistribusian BBM.
Daur Ulang Sampah
Seperti diketahui, PT Elnusa Petrofin merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa logistik dan distribusi BBM. Perusahaan ini menjadi ujung tombak distribusi energi Pertamina, layanan transportasi BBM, pengelolaan terminal energi, dan penyaluran BBM ke seluruh wilayah Indonesia.
Yang menarik, dalam perjalanan operasionalnya PT Elnusa Petrofin juga berkontribusi penuh dalam mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Misalnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui program ini, perusahaan merangkul para pelaku UMKM, juga berkontribusi dalam bidang pendidikan dan lingkungan.
Warbiah Tanjung, pemukim jalan Ketapang Kelurahan Simaremare, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga, Sumatra Utara, adalah satu dari beberapa pelaku UMKM yang dibina PT Elnusa Petrofin. Perempuan ini bersama anak dan suaminya mendaur ulang sampah plastik bekas kemasan menjadi tas dan tikar. Produknya diberi nama Abdus Barus.

“Saya memulai dengan kerajinan ini sejak 2016,” ujar Warbiah saat dihubungi melalui telepon, Sabtu, 20 Juni 2026. Tak susah bagi Warbiah untuk mengumpulkan bahan baku.
Dia meminta warga sekitar rumahnya untuk tidak membuang sampah bekas kemasan. Warbiah membelinya seharga Rp5.000-10.000 untuk sekantong plastik. Selain itu, Warbiah juga kerap memunguti sampah-sampah plastik yang bertebaran di tepi pantai, tak jauh dari rumahnya.
Menurutnya, daripada sampah-sampah tersebut dibuang tanpa manfaat, lebih baik diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
“Pada awalnya banyak orang menganggap apa yang saya lakukan itu aneh. Namun saya tetap melanjutkan pekerjaan ini,” imbuhnya.
Bersyukur, hingga saat ini kerajinan dari daur ulang sampah Abdus Barus sudah mengisi sebuah galeri yang menjual berbagai produksi dari pelaku UMKM.
Setiap tahun galeri tersebut memesan sekitar 100 buah tas. Harga untuk satu tas sebesar Rp80.000.
Menjalin Hubungan Harmonis
Usaha kreatif yang dilakukan Warbiah, dilirik oleh PT Elnusa Petrofin Fuel Terminal (FT) Sibolga. Penanggungjawab CSR FT Sibolga Jogie Tri Olga Harahap menjelaskan, setidaknya ada lima UMKM yang menjadi binaan FT Sibolga.
Selain menyokong para pelaku UMKM, FT Sibolga juga memberikan atensi dalam bidang lingkungan dan pendidikan masyarakat sekitar, “Kami mengadakan program Elnusa Petrofin Go to School dan rutin melakukan penanaman pohon mangrove dan trembesi,” ujar Olga.
Dia menambahkan, interaksi pihak FT Sibolga dengan warga sekitar terasa harmonis, “Masyarakat sangat welcome dengan keberadaan FT Sibolga,” ujarnya.
Ke depan, dia berharap kantor pusat memfasilitasi FT Sibolga dalam upaya lebih memberdayakan pelaku UMKM. “Misalnya mengadakan pelatihan dan edukasi, dengan mendatangkan mentor, yakni seorang entrepreneur yang mumpuni,” imbuhnya.
Kisah Mang Yana dan Warbiah, hanya bagian kecil dari beragam kisah yang lahir dari kiprah PT Elnusa Petrofin. Mang Yana terus mengantar penumpang berkeliling Waduk Jatiluhur dengan perahu dieselnya. Begitu juga dengan Warbiah. perempuan ini terus berkarya menganyam plastik bekas kemasan minuman hingga menjadi karya yang artistik.***
Editor : Iwan Setiawan