get app
inews
Aa Text
Read Next : Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, RSUD Bayu Asih Bagikan Masker ke Pengunjung

Syifan, Saidah dan Sekolah Rakyat: Ketika Kemiskinan Tak Lagi Mengubur Harapan

Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:26 WIB
header img
Para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat, tampak gagah dan memesona. Foto: Dok SRMA 13 Bekasi

Rasa tak berdaya, gundah, dan sedih bercampur menjadi satu. Semuanya berkecamuk hebat di dada Syifan Alyori (16). Dia merasa anak-anak dari keluarga tak mampu seperti dirinya, tak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Bagaimana mungkin cita-citanya menjadi dokter akan tercapai, jika keinginannya untuk bersekolah terancam putus di tengah jalan.

“BENAR, saya memang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tepatnya dokter spesialis penyakit jantung,” ujar Syifan saat berbincang di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Jalan HM. Joyomartono No. 19, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 17 Juni 2026.

Syifan mengaku sore itu kegiatannya tak terlalu padat. Ujian kenaikan kelas telah rampung. Para murid saat itu sedang bersiap menggelar class meeting sebelum memasuki libur panjang.

Dia mulai bercerita, perasaan yang campur aduk itu menghantuinya selama berminggu-minggu menjelang hari kelulusannya dari SMP Negeri 7 Kota Bekasi pada 2025.

Hingga pada akhirnya, sekitar dua minggu setelah pembagian rapor, ada pegawai Dinas Sosial setempat datang ke sekolah dan memperkenalkan program Sekolah Rakyat.

“Kata guru, Sekolah Rakyat merupakan program Kementerian Sosial yang diinisiasi Pak Presiden Prabowo. Sekolah ini khusus untuk keluarga tak mampu. Tak perlu bayar alias gratis. Saya ditawari masuk Sekolah Rakyat,” kenang Syifan. 

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari di mana perasaan Syifan dipenuhi sukacita. Tak ada lagi Syifan yang gundah dan murung. Yang ada adalah Syifan yang semringah, yang terus memancarkan kebahagiaan.

Terlebih setelah dia dipastikan tercatat sebagai salah satu murid yang diterima di SRMA Bekasi, melalui beberapa tahapan dan mekanisme yang diterapkan Kementerian Sosial.

“Sekolah di sini gratis. Semua kebutuhan ditanggung negara, mulai dari pakaian, makan, hingga kebutuhan sehari-hari. Selain itu sistemnya boarding school. Memang sejak dulu saya ingin bersekolah di boarding school,” ujar Syifan. Matanya tampak berkaca-kaca. Sesekali dia menghela napas sebelum melanjutkan perbincangannya.

 


Syifan Aloyri, ingin menggapai cita-citanya menjadi dokter spesialis penyakit jantung. (foto: Tatang Budimansyah)
 

 

Sulit membayangkan bagaimana nasib pendidikan Syifan jika program Sekolah Rakyat tak pernah hadir. Nenden Safrina, ibu Syifan, adalah seorang single parent. Dia mesti berjuang membesarkan kedua anaknya setelah suaminya meninggal dunia.

 “Saya tak pernah mengenal Bapak. Beliau  meninggal saat saya berusia empat bulan. Bapak adalah pejuang keluarga yang tangguh. Beliau bekerja sebagai sopir pada usaha rental mobil milik saudaranya,” ujarnya.

 Trias Alyori, ayah Syifan, meninggal karena serangan jantung. Saat itu dia sedang mengantarkan mobil ke Jambi.

“Dalam perjalanan, bapak beristirahat di sebuah SPBU karena kelelahan. Di SPBU itu bapak meninggal. Itulah mengapa saya ingin menjadi dokter spesialis penyakit jantung. Ya, agar apa yang menimpa Bapak, tak dialami oleh orang lain,” terang Syifan.

 Setelah ayahnya meninggal, dengan sendirinya sang ibu harus membanting tulang untuk menghidupi keluarga. “Saat itu ibu bekerja di sebuah biro pembuatan SIM. Saya dan kakak perempuan saya sudah terbiasa hidup sangat, sangat, dan sangat sederhana,” papar Syifan.

Indahnya Kebersamaan

Rupanya cobaan tak berhenti sampai di situ. Sejak 2021, Nenden didiagnosis menderita kanker ovarium. Karena kondisi kesehatannya makin menurun, dia berhenti bekerja di biro jasa pembuatan SIM.

Untuk menyambung hidup, dia bekerja dari rumah. “Ibu menerima cucian dan menyetrika pakaian para tetangga. Hingga akhirnya pekerjaan itu pun terpaksa ditinggalkan karena sakitnya makin parah. Kini, ibu tak lagi bisa bekerja,” tutur Syifan.

Di balik kesedihannya atas kondisi ibu, Syifan tetap bertekad melanjutkan sekolahnya untuk merealisasikan cita-citanya. Kesungguhan dan motivasi Syifan untuk belajar dipuji oleh para guru SRMA.

“Di asrama kami belajar tentang indahnya kebersamaan, etika berbicara kepada orang lain, disiplin waktu, cara bersikap di masyarakat, dan sopan santun. Di sini kami diajarkan bagaimana berbicara dengan baik dan menghormati orang lain,” tutur Syifan.

Dia mengaku banyak perubahan perilaku dan pola hidup setelah menjadi siswa Sekolah Rakyat. “Misalnya, dulu saya sering menunda pekerjaan. Kalau ada tugas selalu berpikir, ‘ah, dikerjakan nanti saja’. Akibatnya tugas sering terlambat. Di sini semua tugas dipantau. Guru selalu mengingatkan tugas yang sudah dan belum dikumpulkan. Jadi saya menjadi lebih disiplin,” kata Syifan.

“Perilaku saya juga berubah. Dulu saya sering berbuat kurang sopan kepada orang yang lebih tua. Saya pun pernah melawan orang tua. Sekarang saya lebih menghargai orang lain karena diajarkan etika dan cara berbicara yang baik agar tidak menyakiti perasaan orang lain,” imbuhnya.

Ikhwal indahnya kebersamaan dan adanya perubahan perilaku, juga sangat dirasakan siswa lainnya bernama Saidah Nur Halimah (17), anak seorang ibu penjual kopi seduh keliling.

“Perubahannya banyak sekali. Waktu di SMP saya belum pernah dapat ranking. Paling banter saya dapat ranking ke-14. Di sini alhamdulillah, ranking saya bagus,” ujar Saidah.

Dikatakannya, prestasinya saat di SMP tak pernah menonjol karena dia mengaku merasa minder dan kehilangan kepercayaan diri. Kondisi itu berpengaruh terhadap minat belajar.

“Ya, karena berlatar dari keluarga tak mampu, saya sering dikucilkan oleh teman-teman. Cara bergaulnya dipilah-pilah. Seperti ada kasta. Anak orang kaya harus bergaul dengan yang kastanya sama. Maka saya bergaul dengan teman-teman yang bernasib sama: dari kalangan yang orang tuanya tak punya,” kenang Saidah.  

“Di sini enak. Kami terbiasa saling menghargai. Tak akan pernah ditemukan kasus bullying di sini. Kalau saya salah, teman-teman menegur dengan baik. Mereka memberi tahu dengan cara yang baik,” tandas Saidah yang bercita-cita bekerja di perusahaan tambang baatu bara ini.  

‘Biarlah Ibu yang Putus Sekolah’

Kisah Saidah tak kalah haru dengan Syifan. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk kontainer meninggal dunia saat Saidah berusia enam tahun.

Kasmi (49), ibu Saidah, hingga saat ini mesti berjualan kopi seduh keliling dengan menggunakan motor untuk mencukupi keburuhan hidup. “Itu dilakukan setiap hari, kadang hingga jam dua malam,” kata anak keempat dari lima saudara ini.

 


Saidah Nur Halimah, siswi SRMA 13 Bekasi yang menjelma dari minder menjadi sosok yang percaya diri. (foto: Tatang Budimansyah)

 

Saidah pun tak berpangku tangan. Dia rupanya sudah terbiasa membantu ibu mencari nafkah. Saat kelas 4 SD, Saidah sering dibawa ibu berjualan kopi. Dia pernah pula berjualan sandal, dan menjadi pelayan di sebuah warung kopi.

“Sekarang pun, untuk mengisi libur panjang, saya akan bekerja lagi di warung kopi. Hasilnya lumayan untuk menambah penghasilan. Soalnya abang saya yang tak tertua sudah tidak bekerja lagi. Dia menderita penyakit tuberkulosis (TBC). Dulu dia bekerja sebagai kurir, pengantar barang,” terang Saidah.  

Saat ditanya soal perasaannya mendapat kesempatan menjadi murid Sekolah Rakyat, Saidah dengan tegas menjawab, “Saya bahagia, senang, dan tak akan pernah berhenti bersyukur,” tuturnya.

Padahal, ketika awal dia masuk SRMA, sempat juga dilanda kegundahan karena harus  meninggalkan ibu di rumah dan mau tak mau harus berhenti membantu ibu mencari nafkah.

“Sampai akhirnya saya diberi petuah oleh ibu yang saat ini masih terngiang. Ya, ibu bilang: ‘biarlah ibu yang merasakan putus sekolah. Kalian jangan. Kalimat itu semakin menguatkan saya untuk meneruskan jenjang pendidikan,” kata Saidah.

Bahwa Saidah sempat ragu saat masuk Sekolah Rakyat, diamini oleh Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati. Dia mengungkapkan, saat awal masuk sekolah Saidah sempat ingin mengundurkan diri karena merasa lebih nyaman membantu ibunya bekerja. Ia bahkan pernah meminta izin pulang selama satu minggu untuk berjualan bersama ibunya. Namun pihak sekolah terus memberikan motivasi bahwa pendidikan akan menjadi jalan untuk memperbaiki masa depan keluarganya.

“Awalnya, Saidah mengalami masalah gizi karena terbiasa menahan lapar dan pola makannya tidak teratur. Ia pernah merasa tidak cocok makan ayam dan daging. Saat diperiksa dokter, tidak ditemukan alergi. Masalahnya lebih karena tubuhnya tidak terbiasa mengonsumsi makanan tersebut. Namun kini kondisinya sudah jauh lebih baik,” papar Lastri.

Tak Biasa Makan Daging

Lastri melanjutkan, di SRMA yang mulai beroperasi pada 14 Juli 2025 ini, banyak hal unik dan menarik. Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal. Misalnya, pada kondisi awal, siswa di sekolah formal umumnya sudah siap untuk belajar ketika mendaftar.

Sedangkan di Sekolah Rakyat, pihak sekolah harus terlebih dahulu menyiapkan anak agar siap belajar. Mereka berasal dari keluarga miskin ekstrem dengan latar belakang yang beragam.

 


Lastri Fajarwati, M.Pd, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi memperlihatkan buku karya para siswanya. (Foto: Tatang Budimansyah)
 
“Sebagian besar pola hidupnya tidak teratur. Ada yang tidur di mana saja, makan tidak teratur, atau tak memiliki kamar mandi di rumah. Ada pula yang pernah menjadi korban kekerasan atau perundungan. Akibatnya, ketika masuk ke Sekolah Rakyat, banyak siswa memiliki rasa percaya diri yang rendah,” terangnya.

 

Maka, menurut Lastri, tak terlalu mengagetkan jika pada beberapa bulan pertama, banyak siswa yang bangun siang karena terbiasa  begadang. Bahkan ada pula yang sudah kecanduan rokok.

“Pada awal masuk, ada sekitar 20 siswa yang memiliki kebiasaan merokok. Mereka berusaha merokok secara sembunyi-sembunyi. Kami tidak menggunakan pendekatan dengan kekerasan, tetapi lebih pada upaya merehabilitasi, edukasi, dan pembiasaan. Saat ini jumlah siswa yang masih menjalani proses rehabilitasi tinggal sekitar tiga orang,” terangnya.

“Pada tiga bulan pertama difokuskan pada masa matrikulasi. Siswa dibiasakan untuk bangun pukul 4.00 pagi, makan dengan tertib dengan menggunakan sendok, menjaga kebersihan dan Kesehatan, dan bersyukur atas makanan yang tersedia,” imbuhnya.

Diakuinya, ada siswa yang tidak terbiasa makan ayam, daging, atau telur karena sebelumnya jarang mengonsumsi makanan tersebut. Sebagian hanya terbiasa makan mi instan. Mereka diberi edukasi dan pembiasaan agar memiliki pola makan yang lebih sehat.

Lastri melanjutkan, pada masa awal adaptasi ada beberapa siswa yang memilih mengundurkan diri. Alasannya karena tidak siap dengan kedisiplinan dan aturan asrama. Mereka tidak ingin meninggalkan kebiasaan lama dan merasa kehilangan kebebasan.

Sebelum ada keputusan keluar, sekolah selalu melakukan edukasi, mediasi, dan pendampingan.  Jika tetap tidak bisa beradaptasi, barulah digantikan oleh siswa lain,” ujar Lastri.

Yang menggembirakan, selama tinggal di asrama kondisi kesehatan siswa mengalami peningkatan. Sebab, pola makan mereka menjadi teratur, kondisi gizi membaik, dan berat badan pun meningkat.

 Selama menjalani masa pendidikan di asrama, para siswa memperoleh makan tiga kali sehari, seragam, dan alat kebersihan pribadi seperti sampo, sabun, pasta gigi dan minyak wangi.

“Program Sekolah Rakyat hadir untuk membantu mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan yang layak dan pembekalan yang cukup, sehingga anak-anak dapat menjadi agen perubahan bagi keluarganya dan masyarakat. Ini adalah program mulia karena menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir untuk rakyat,” ujar Lastri.

SRMA 13 Bekasi berada di kompleks Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) milik Kementerian Sosial. Tercatat ada 180 anak yang saat ini menempuh pendidikan di SRMA 13 Bekasi. Mereka terdiri dari 104 siswi dan 76 siswa. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah rintisan Sekolah Rakyat tahap 1A.

Sekitar 75 persen siswa berasal dari Kota Bekasi dan sekitar 25 persen dari Kabupaten Bekasi.Mereka merupakan anak-anak yang berasal dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kelompok Desil 1 dan Desil 2.

 


Para siswa baru saja menerima perlengkapan untuk kebersihan diri. Mereka tampak semringah. (foto: Tatang Budimansyah)
 
“Proses rekrutmen dilakukan bersama pendamping PKH dan tim lapangan. Data diverifikasi langsung ke rumah-rumah calon siswa sebelum akhirnya mereka diterima,” terang Lastri.

 

Dia melanjutkan, selain para guru, di Sekolah Rakyat juga terdapat wali asuh. Di SRMA 13 Bekasi ada 18 wali asuh, “Satu wali asuh mendampingi 18 siswa,” tuturnya.

Menampung 45.000 Siswa

Yang menarik, lanjut Lastri, bantuan dari Kemensos tidak hanya diberikan kepada siswa. Nyatanya, orang tua siswa juga mendapatkan pelatihan dan pembinaan ekonomi. Mereka diberikan pembekalan usaha, bantuan modal, dan pendampingan oleh pendamping PKH.

Tujuannya agar orang tua memiliki kemandirian ekonomi sehingga kesejahteraan keluarga meningkat seiring keberhasilan pendidikan anak.

“Misalnya, jika orang tua ingin membuka usaha seperti berjualan atau membuat tahu, mereka akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan,” terang Lastri.

Lastri melanjutkan, untuk siswa baru tahun ajaran 2026/2027, akan dipusatkan di Delta Mas, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Di sana, Sekolah Rakyat yang berdiri di atas lahan seluas 5,4 hektare ini diperuntukkan bagi siswa dari jenjang SD hingga SMA, dengan daya tampung 1.080 siswa.

Untuk memastikan kesiapan operasionalnya, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda dan pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) meninjau lokasi pada 12 Juni 2026. Rombongan didampingi Sekda Kabupaten Bekasi Endin Samsudin.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Sosial menargetkan hingga akhir 2026 sebanyak 183 Sekolah Rakyat beroperasi. Nantinya, dari jumlah tersebut akan mampu menampung 45.000 siswa.

Dilansir dari situs resmi Kemensos, proses pembangunan 93 Sekolah Rakyat sudah hampir rampung  dan beroperasi untuk tahun ajaran 2026/2027.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan, sebanyak 48.975 bakal calon siswa telah terjangkau program Sekolah Rakyat. Hal itu diungkapkannya dalam Rakor Optimalisasi Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen bersama 126 perwakilan pemerintah daerah dari 93 kabupaten/kota pemilik Sekolah Rakyat permanen, di Gedung Aneka Bhakti, Kemensos, Rabu 17 Juni 2026.

 Dikatakan Gus Ipul, secara nasional pada tahun ajaran 2026/2027 akan beroperasi 178 Sekolah Rakyat dari target yang dicanangkan. Ini terdiri dari 93 sekolah permanen, 77 sekolah rintisan 2025, dan 8 sekolah rintisan baru. “Dari kesiapan fisik, sebanyak 69 lokasi telah rampung dan 24 lainnya sudah dapat difungsikan,” terang Gus Ipul.

“Gedung selesai bukan berarti sekolah siap. Bagaimana memindahkan siswa, menerima siswa baru, dan memastikan dukungan di tahap awal itu yang menentukan,” tegasnya.

Bersiap Menuju Indonesia Emas

Antusiasme masyarakat yang tinggi menjadi indikator sekaligus tantangan. Dari total 48.975 anak yang telah terdata, mayoritas berasal dari kelompok paling rentan 85,8 persen penerima PKH dan 77,6 persen dari desil 1–2 DTSEN dengan sebagian merupakan anak yang sebelumnya tidak pernah mengenyam pendidikan.

“Yang kita lihat bukan hanya capaian akademik, tapi perubahan anak-anak ini. Mereka sekarang jauh lebih sehat, lebih disiplin, lebih percaya diri, dan punya harapan terhadap masa depan,” kata Gus Ipul.

Dia melanjutkan, Kemensos juga menetapkan tujuh langkah percepatan, mulai dari penetapan siswa, sosialisasi masyarakat, hingga mobilisasi guru dan siswa. “Dalam waktu yang terbatas, kecepatan respons daerah menjadi faktor kunci,” ujarnya.

Dia berharap Kemensos juga akan membuka akses publik melalui kegiatan open house Sekolah Rakyat sebagai bentuk transparansi sekaligus penguatan dukungan masyarakat.

“Program Sekolah Rakyat bukan sekadar pembangunan infrastruktur pendidikan, melainkan intervensi sosial untuk memastikan anak-anak dari keluarga paling rentan tidak lagi tertinggal dari sistem pendidikan nasional,” tandas Gus Ipul.

Sulit untuk disangkal bahwa Sekolah Rakyat memang sangat berperan dalam upaya memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Program ini menjadi jawaban bagi mereka yang semula nyaris tak berdaya oleh keadaan. Terutama oleh keadaan ekonomi yang menghimpit.

Lihat saja Saidah dan Syifan. Di asrama SRMA 13 Bekasi tampak begitu bersemangat menjalankan hari-harinya. Keduanya, bersama siswa-siswa Sekolah Rakyat lainnya, sedang merajut masa depan yang gemilang.

Syifan dan Saidah tak lagi sibuk memikirkan bagaimana membayar biaya sekolah dan membantu orang tua mencari nafkah. Mereka kini sibuk mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan belajar, dan memupuk mimpi-mimpi yang dulu terasa mustahil.

Bagi mereka, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Di sanalah harapan yang nyaris padam kembali dinyalakan. Mereka diliputi rasa percaya diri yang tinggi, optimisme, dan bersiap untuk menuju Indonesia Emas 2045.**  

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut