get app
inews
Aa Text
Read Next : AMKI Jaya–Smesco Siap Bersinergi, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pemberitaan dan Podcast

Sengatan Lebah dan Quinbi: Sepenggal Lakon dari Belantara Jaran Pusang

Jum'at, 04 September 2026 | 11:18 WIB
header img
Jahamudin alias Iyaf, sang pemburu madu liar di kawasan hutan Jaran Pusang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. (Foto: dok Iyaf)

Dari caranya memeras madu, bisa diterka bahwa Indriani Imlassyafitri (30) sudah sangat terbiasa melakukan pekerjaan itu. Lihat saja, tangannya yang terbungkus sarung berbahan lateks begitu cekatan, kendati dipenuhi lumuran madu. Menit berikutnya, cairan kental yang rasanya manis itu sudah berada di dalam botol-botol kemasan dengan berbagai ukuran. Siap untuk dipasarkan.

“MADU yang saya jual diambil dari alam liar. Dari lebah hutan,” tutur Indriani, pemukim Dusun Batupara, Desa/Kecamatan Lantung, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 1 September 2026.

Indriani memperoleh madu yang dihasilkan oleh lebah liar (Apis dorsata) dari kelompok pencari madu di kawasan hutan Jaran Pusang, Sumbawa.

Lebah jenis ini memang tidak dibudidayakan. Untuk memperoleh madunya, para pemburu harus memanjat pohon-pohon yang menjulang seperti pohon meni, tampoa atau binong di tengah belantara.

Untuk menemukan pohon yang menjadi koloni lebah, mereka harus melintasi sungai, meniti tebing, dan menaiki atau menuruni jurang.

Jahamudin adalah satu satu pemburu madu di belantara Jaran Pusang. Bersama kelompoknya yang berjumlah dua atau tiga orang, biasanya dia berangkat dari rumahnya di Desa Sepukur subuh hari.

“Setelah berjalan kaki sekitar tujuh jam, kami tiba di dalam hutan,” ujar lelaki yang biasa disapa Iyaf ini, Rabu, 2 September 2026.

Bermalam di Tengah Belantara

Jika sedang mujur, Iyaf dan kelompoknya hari itu juga bisa mendapatkan madu. Namun, pencarian madu tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya mereka tak satu pun menemukan koloni lebah hingga matahari terbenam.

Mereka tak serta merta pulang. Para pencari madu itu bermalam selama dua hingga empat hari di dalam hutan untuk mendapatkan yang mereka cari.

“Makanya setiap mencari madu, kami wajib membawa perbekalan, termasuk alas untuk tidur di dalam hutan,” terang lelaki kelahiran 1982 itu.   

Iyaf menjelaskan, berburu madu di malam hari hanya bisa dilakukan ketika tak ada bulan di langit. “Kalau ada bulan, aning (lebah) pasti menyerang kita. Aning di hutan ini ganas-ganas,” ujarnya.

Sepanjang menjadi pemburu lebah selama hampir 30 tahun, tak terhitung berapa kali Iyaf  disengat lebah. “Pokoknya sering (disengat). Wajah saya sampai bonyok-bonyok, hehehe,” ujarnya.

Kelompok pencari madu ini biasanya pulang dari perburuannya setelah menjinjing 8 hingga 12 jeriken madu liar. Mereka menjualnya seharga Rp1,5 juta per jeriken.

Iyaf biasanya segera menyeruput kopi yang telah disuguhkan Latifah, istrinya, sesaat setelah tiba di rumah. Esoknya, Indriani akan datang membeli madu yang masih segar itu.

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut