get app
inews
Aa Text
Read Next : Tanamkan Disiplin Lalulintas Sejak Dini, Polwan Purwakarta Gelar Police Goes To School

Perpustakaan Rusak Akibat Pergeseran Tanah, 6.000 Buku Dipindah ke Posyandu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:43 WIB
header img
Kondisi bangunan Perpustakaan Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, rusak. Foto: iNewsPurwakarta.id/Irwan

PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Tawa anak-anak yang biasanya terdengar setiap akhir pekan di Perpustakaan Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kini tak lagi terdengar.

Bangunan yang selama bertahun-tahun menjadi ruang belajar, membaca, dan berkumpul warga itu harus ditutup setelah mengalami kerusakan parah akibat bencana pergeseran tanah pada 1 Februari 2026.

Kerusakan bangunan diperkirakan mencapai 75 persen. Dinding dan lantai mengalami retakan, bangunan tampak miring, bahkan sebagian plafon runtuh.

Kondisi tersebut membuat bangunan dikosongkan karena dinilai membahayakan jika tetap digunakan.

Kepala Perpustakaan Desa Pasanggrahan sekaligus Pegiat Literasi Anak Desa, Romli Abdul Gopar, mengatakan kerusakan bermula setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Awalnya, hanya terlihat retakan pada bangunan. Namun, dalam waktu tiga hari, pergeseran tanah semakin parah hingga mendorong bagian tengah perpustakaan.

“Pagi-pagi saya kaget melihat bangunannya retak. Awalnya belum terlalu parah, tapi tiga hari kemudian kerusakannya semakin besar. Bagian tengah bangunan terdorong tanah sehingga sekarang kondisinya miring dan tidak stabil. Karena bangunannya dari bata, sangat berbahaya jika dipakai,” ujar Romli, Jumat (7/8/2026).

Sejak kejadian itu, seluruh aktivitas literasi di dalam gedung dihentikan.

Padahal, perpustakaan tersebut selama ini menjadi salah satu ruang belajar alternatif bagi masyarakat Desa Pasanggrahan.

Perpustakaan itu bermula dari gerakan swadaya masyarakat. Pada 2021, Romli bersama komunitasnya mendirikan Komunitas Literasi Anak Desa.

Seiring berkembangnya kegiatan dan agar lebih mudah mengakses berbagai program bantuan, komunitas tersebut kemudian berubah nama menjadi Perpustakaan Desa.

Kini, perpustakaan memiliki lebih dari 6.000 koleksi buku. Isinya beragam, mulai dari buku untuk anak usia dini, pelajar, hingga orang dewasa.

Ada buku pelajaran, cerita anak, pertanian, keterampilan, hingga pengembangan diri.

Sebagian besar koleksi tersebut merupakan bantuan dari Perpustakaan Nasional pada 2024. Sementara sebagian lainnya berasal dari donasi masyarakat dan komunitas literasi.

“Buku kami sekarang lebih dari 6.000 eksemplar. Lengkap untuk semua usia, mulai dari anak SD sampai dewasa. Ada juga buku pertanian dan buku edukasi lainnya,” kata Romli.

Meski gedungnya rusak, Romli dan para relawan tidak ingin aktivitas membaca ikut mati.

Ribuan buku kemudian dipindahkan ke sejumlah posyandu yang tersebar di setiap dusun.

Posyandu disulap menjadi pojok baca sederhana. Masing-masing titik menampung sekitar 50 buku agar warga tetap dapat mengakses bahan bacaan.

“Sayang kalau buku hanya disimpan. Akhirnya kami bekerja sama dengan posyandu di setiap dusun. Buku-buku kami bagi supaya masyarakat tetap bisa membaca meski perpustakaan tidak bisa dipakai,” ujarnya.

Namun, langkah tersebut belum mampu menggantikan fungsi perpustakaan secara utuh.

Sebelum rusak, perpustakaan menjadi tempat favorit anak-anak setiap Sabtu dan Minggu. Mereka datang untuk membaca bersama, belajar, hingga mengikuti berbagai kegiatan edukatif.

Tak hanya anak-anak, ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan perpustakaan untuk mencari berbagai referensi, termasuk buku pertanian dan keterampilan.

“Anak-anak sekarang lebih banyak di rumah. Dulu setiap Sabtu dan Minggu mereka selalu berkegiatan di perpustakaan. Sekarang kembali lagi bermain gadget karena tidak ada aktivitas seperti dulu,” tutur Romli.

Perpustakaan tersebut bahkan tidak hanya dikunjungi warga sekitar. Sejumlah wisatawan yang singgah di kawasan wisata sekitar juga kerap datang untuk membaca.

Romli mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan agar gedung perpustakaan dapat kembali digunakan.

Pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah desa maupun perusahaan yang sebelumnya memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Namun, upaya perbaikan masih terkendala status lahan yang bukan merupakan aset pemerintah serta keterbatasan anggaran.

“Kami sudah mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemberi CSR. Harapan kami sederhana, semoga ada solusi agar perpustakaan ini bisa diperbaiki. Kami ingin anak-anak kembali memiliki ruang belajar yang aman,” katanya.

Bagi Romli, keberadaan perpustakaan semakin penting, terutama saat tahun ajaran baru ketika banyak anak usia dini mulai belajar membaca.

Ia berharap pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan, hingga BUMN di sekitar Purwakarta dapat bersama-sama mencari solusi.

Sebab, bagi warga Pasanggrahan, yang hilang akibat bencana bukan sekadar sebuah bangunan.

Ada ruang belajar, tempat bermain, tempat bertemu, sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak yang kini terpaksa kehilangan rumah literasinya.

“Kami ingin kembali berkontribusi untuk masyarakat, terutama anak-anak. Mudah-mudahan ada perhatian dari para pemangku kebijakan dan BUMN yang ada di sekitar agar perpustakaan ini bisa berdiri lagi dan kegiatan literasi kembali berjalan,” ujar Romli.***

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut