Tsunami 1,61 Meter Hantam Manggarai, BMKG Ungkap Ratusan Gempa Susulan Guncang Flores
Faisal memperkirakan proses peluruhan aktivitas gempa akan berlangsung cukup lama.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujarnya.
Berdasarkan grafik pemantauan BMKG, aktivitas gempa susulan belum menunjukkan penurunan yang signifikan dan masih terkonsentrasi di kawasan sebelah utara Pulau Flores. BMKG juga terus memantau pergerakan sesar secara real-time karena proses stabilisasi struktur geologi di wilayah tersebut membutuhkan waktu sebelum kembali normal.
Faisal menjelaskan gempa magnitudo 7,7 itu dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust, yang dikenal memiliki sejarah menghasilkan gempa besar dan merusak. Salah satu peristiwa serupa terjadi pada 1992 dengan magnitudo 7,8 pada kedalaman sekitar 28 kilometer.
“Ini adalah sejarah gempa di daerah Flores, kita dapat melihat akibat dari sesar belakang tadi. Ini ada di tahun 1992 dengan 7,8 magnitudo tapi kedalamannya ini sekitar 28 km. Jadi yang terjadi sekarang 15 km ini lebih dangkal dari gempa di tahun 92 dan juga pada saat itu terjadi tsunami ya,” kata Faisal.
Gempa kali ini terjadi pada kedalaman 15 kilometer, sehingga tergolong lebih dangkal dibandingkan gempa 1992. Kondisi tersebut menyebabkan guncangan yang lebih kuat, menimbulkan kerusakan bangunan, serta memicu tsunami yang terobservasi hingga wilayah pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan peta intensitas guncangan, kekuatan tertinggi mencapai skala VII MMI di Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Riung, Kabupaten Ngada, Kota Ambai, serta berdasarkan hasil observasi mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Sementara itu, skala VI MMI tercatat di Wolowae, Nagekeo, dan Kota Bajawa, sedangkan guncangan skala V MMI dirasakan di sejumlah wilayah lainnya.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Seluruh data tersebut diperoleh dari jaringan pemantauan nasional yang didukung lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Editor: Iwan Setiawan