Peringati HUT RI ke-81, Petani Bawang Merah Didorong Makin Mandiri Hadapi Kemarau
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Musim kemarau panjang menjadi tantangan serius bagi petani bawang merah. Selain harus berhadapan dengan keterbatasan air, petani juga dibebani tingginya harga umbi bibit dan tuntutan meningkatkan produktivitas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kering. Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, sebanyak 56,18 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau lebih kering dari kondisi normal.
Sementara 48,77 persen wilayah diprediksi mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang dari normal. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian bagi petani bawang merah. Komoditas yang hampir selalu digunakan dalam masakan masyarakat Indonesia ini memiliki kebutuhan nasional sekitar 2,8 hingga 3 kilogram per kapita setiap tahun.
Di tengah kebutuhan yang tinggi, produktivitas bawang merah di tingkat petani saat ini masih berkisar 9–10 ton per hektare. Padahal, peluang meningkatkan hasil masih terbuka melalui inovasi teknologi dan praktik budidaya yang lebih efisien.
Melihat tantangan tersebut, PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menggelar Kampanye Petani Bawang Merah Merdeka pada 13–21 Agustus 2026.
Kampanye yang digelar dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi ruang belajar bagi petani untuk mengenal berbagai alternatif teknologi budidaya, sekaligus berbagi pengalaman dalam menghadapi perubahan iklim, tingginya biaya produksi, dan persoalan produktivitas.
Kegiatan berlangsung di sejumlah sentra bawang merah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain Brebes, Pati, dan Sleman.
Beragam kegiatan digelar, mulai dari Temu Lapang Petani atau Farm Field Day, diskusi budidaya, demonstrasi pertanaman, hingga berbagi praktik terbaik budidaya bawang merah menggunakan benih atau True Shallot Seed (TSS).
Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan petani, tetapi juga penyedia persemaian, penyuluh pertanian, pedagang, distributor, toko pertanian, serta berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem bawang merah.
General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia, Budi Hariyono, mengatakan semangat kemerdekaan dalam pertanian bukan berarti petani terbebas dari tantangan.
Menurutnya, kemerdekaan justru berarti petani memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan terbaik ketika menghadapi berbagai perubahan dan risiko.
“Kemerdekaan bagi petani bukan berarti bebas dari tantangan. Kemerdekaan berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan terbaik ketika menghadapi perubahan,” ujar Budi.
Karena itu, kata dia, Kampanye Petani Bawang Merah Merdeka diarahkan untuk membuka ruang belajar dan menghadirkan lebih banyak pilihan bagi petani dalam menentukan strategi usaha taninya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah budidaya bawang merah menggunakan True Shallot Seed (TSS).
Berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan umbi sebagai bahan tanam, TSS memungkinkan petani memulai budidaya dari benih berbentuk biji.
Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi petani di tengah tingginya harga umbi bibit. Selain berpotensi menekan biaya bahan tanam, penggunaan TSS juga membuka peluang menghasilkan tanaman yang lebih seragam dan produktif.
Namun, penggunaan TSS masih tergolong baru bagi sebagian petani yang selama ini terbiasa menggunakan umbi. Karena itu, edukasi dan pendampingan dinilai penting agar petani memahami teknik budidayanya secara menyeluruh.
Dalam kampanye tersebut, Ewindo juga memperkenalkan MERDEKA F1, varietas bawang merah dari biji yang dikembangkan sebagai salah satu pilihan bagi petani Indonesia.
Varietas ini memiliki potensi hasil 14–18 ton per hektare, lebih tahan terhadap penyakit layu Fusarium dan antraknosa, serta menghasilkan umbi berwarna merah cerah dengan ukuran yang relatif seragam.
Potensi hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas bawang merah petani yang saat ini masih berada di kisaran 9–10 ton per hektare.
Budi menegaskan, kehadiran MERDEKA F1 bukan untuk menggantikan seluruh pola budidaya yang selama ini dilakukan petani.
Sebaliknya, varietas tersebut dihadirkan sebagai pilihan tambahan yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi lahan, kemampuan budidaya, dan kebutuhan masing-masing petani.
“Melalui MERDEKA F1, kami ingin membawa pesan bahwa petani memiliki jawaban dan pilihan baru dalam menghadapi tantangan budidaya. Bukan berarti TSS menggantikan seluruh cara yang selama ini dilakukan petani, tetapi menjadi alternatif yang dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sentra,” katanya.
Menurut Ewindo, keberhasilan inovasi pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan petani memahami dan memilih teknologi yang paling sesuai dengan kondisi lahannya.
Karena itu, Kampanye Petani Bawang Merah Merdeka tidak diarahkan untuk memaksakan satu metode tertentu.
Sebaliknya, kampanye tersebut mendorong petani memiliki lebih banyak referensi agar mampu menentukan keputusan usaha tani secara mandiri.
“Semangat kemerdekaan yang ingin kami bawa melalui kampanye ini adalah bahwa petani memiliki kesempatan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menentukan pilihan terbaik bagi usaha taninya. Ketika tantangan berubah, petani tetap memiliki ruang untuk mencari jawaban yang paling sesuai dengan kebutuhannya,” pungkas Budi.
Editor : Iwan Setiawan