Ribuan Warga Purwakarta Gelar Salat Istisqa, Ketuk Pintu Langit Minta Hujan Segera Turun
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Di tengah kemarau panjang yang membuat puluhan desa di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dilanda kekeringan, ribuan umat Muslim turun ke lapangan untuk melaksanakan salat istisqa, Rabu (16/9/2026).
Salat meminta hujan ini digelar secara serentak di hampir 17 kecamatan se-Kabupaten Purwakarta. Di Alun-alun Kabupaten Purwakarta, sekitar seribu jemaah berkumpul sejak siang hari.
Di bawah terik matahari, jemaah dari berbagai kalangan tetap bertahan mengikuti rangkaian ibadah. Suasana khusyuk terlihat ketika takbiratul ihram dikumandangkan dan seluruh jemaah mengikuti gerakan imam hingga salam pada rakaat kedua.
Salat istisqa dipimpin Ustadz Asep Fitriadi. Sementara Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, KH John Dien, menyampaikan khutbah dan memimpin doa.
Dalam khutbahnya, KH John Dien menjelaskan bahwa salat istisqa merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam dan hukumnya sunnah muakkadah, khususnya ketika hujan tidak kunjung turun dalam waktu yang lama.
Menurutnya, salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.
“Intinya memohon, mengetuk pintu langit untuk turunnya hujan,” kata KH John Dien, Rabu (16/9/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa salat istisqa bukan berarti manusia menuntut agar hujan langsung turun setelah ibadah dilaksanakan.
Waktu dikabulkannya doa, kata dia, merupakan kehendak Allah SWT. Karena itu, manusia berkewajiban terus berikhtiar sambil tetap menjaga lingkungan.
“Jadi kewajiban kita ikhtiar. Dikabulkan kapan-kapannya itu urusan Allah Subhanahu wa Ta'ala,” ujarnya.
KH John Dien berharap hujan segera turun di Purwakarta dengan intensitas yang membawa keberkahan dan mampu membantu masyarakat yang kini menghadapi dampak kekeringan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak berhenti pada doa. Upaya menjaga lingkungan, mulai dari kebersihan, tumbuh-tumbuhan, saluran air hingga kawasan pegunungan, juga harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Jadi intinya menjaga ekosistem, kebersihan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Sri Jaya Midan, mengatakan dampak kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air rumah tangga.
“Kekeringan terutama untuk ketersediaan air rumah tangga. Baik itu minum, cuci dan sebagainya. Beberapa daerah terjadi,” kata Sri Jaya Midan.
Menurutnya, cuaca yang kering juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan di sejumlah wilayah Purwakarta.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan melakukan introspeksi di tengah kondisi kemarau panjang.
Dampak kekeringan juga mulai dirasakan warga. Diah (39), salah seorang jemaah, mengaku debit air PDAM di rumahnya mulai mengecil. Bahkan, air yang keluar terkadang terlihat agak keruh.
“Iya, di Purwakarta di berbagai daerah sudah alami kekeringan. Di rumah saya juga sudah mulai kesulitan air. Air PDAM pun kini yang keluar agak kecil, bahkan sedikit kotor,” ujar Diah.
Ia berharap pelaksanaan salat istisqa yang diikuti ribuan umat Muslim tersebut menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera mengguyur Purwakarta.
“Berharap dengan ikut salat ini, menjadi upaya kita, ikhtiar kita agar bisa diturunkan hujan,” katanya.
Usai salat, khutbah, dan doa bersama, para jemaah kemudian saling bersalaman dan bermaaf-maafan sebagai bagian dari rangkaian ibadah sekaligus wujud taubat kepada Allah SWT.
Sebelumnya, BPBD Kabupaten Purwakarta mencatat bencana kekeringan telah melanda 55 desa dan kelurahan di 15 kecamatan.
Kondisi tersebut berdampak terhadap hampir 90 ribu jiwa yang mengalami krisis air bersih. Untuk membantu warga, BPBD Purwakarta telah menyalurkan lebih dari satu juta liter air bersih selama musim kemarau tahun ini.
Di tengah kondisi tersebut, ribuan warga kini menanti satu hal yang sama: hujan segera turun dan membawa kembali ketersediaan air bagi masyarakat Purwakarta.***
Editor: Iwan Setiawan