Siswa Paket C SKB Purwakarta Belajar Sosiologi dan Matematika di Gunung Hejo
Dengan pendekatan tersebut, Sosiologi tidak berhenti sebagai teori di dalam buku, melainkan digunakan untuk membaca fenomena yang berlangsung di sekitar peserta didik.
Mereka melakukan perhitungan yang berkaitan langsung dengan kegiatan reboisasi, mulai dari menentukan jarak tanam, memperkirakan jumlah bibit berdasarkan luas lahan, hingga menghitung kebutuhan air tanaman.
Jarak tanam 3 x 3 meter, misalnya, menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami penerapan konsep luas dan perhitungan dalam kondisi nyata.
Matematika yang biasanya hadir melalui angka dan rumus di ruang kelas berubah menjadi alat untuk membantu peserta didik memahami kebutuhan dan mengambil keputusan di lapangan.
Setelah berdiskusi dan melakukan perhitungan, peserta didik mempraktikkan proses penanaman secara langsung.
Mereka belajar mengenali jenis tanaman, memilih bibit, menyiapkan lubang tanam, memberikan pupuk dasar, menempatkan bibit, menutup tanah, hingga melakukan penyiraman. Mereka juga diperkenalkan dengan tanaman keras dan jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang memiliki manfaat ekologis maupun manfaat bagi masyarakat.
Bagi Maman, proses tersebut penting karena pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan melakukan dan merawat.
“Aksara, Angka, dan Akar” juga tidak dirancang sebagai kegiatan yang selesai setelah satu kali penanaman.
Maman mengatakan, pembelajaran luar kelas seperti ini diarahkan untuk menjadi agenda berkelanjutan dengan tema, lokasi, dan objek pembelajaran yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan peserta didik.
Kegiatan ini bukan hanya untuk hari ini dan bukan kegiatan yang selesai setelah penanaman dilakukan. Pihaknya ingin agenda seperti ini terus berlanjut.
“Tanaman yang ditanam hari ini bisa menjadi objek pembelajaran berikutnya, mulai dari mengukur pertumbuhan, memantau perawatan, sampai melihat interaksi masyarakat dengan lingkungan,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pendekatan TDBA (Tindak, Dengar, Baca, Alami) dalam pembelajaran di Kabupaten Purwakarta.
Peserta didik menjalani proses belajar secara utuh: mendengar penjelasan, membaca situasi lingkungan, melakukan perhitungan, bertindak melalui penanaman, dan mengalami secara langsung proses pembelajaran di alam.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan ruang bagi penguatan karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Cageur tercermin melalui aktivitas di alam; Bageur melalui kepedulian terhadap lingkungan; Bener melalui tanggung jawab; Pinter melalui kemampuan memahami dan memecahkan persoalan; sedangkan Singer melalui keterampilan menerapkan pengetahuan.
Maman menilai, pendidikan kesetaraan perlu memberikan bekal yang lebih luas daripada sekadar capaian akademik.
“Pendidikan kesetaraan harus mampu memberikan bekal kehidupan. Pembelajaran perlu dekat dengan realitas peserta didik, membangun karakter, sekaligus memberikan keterampilan yang dapat mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Pembelajaran di Gunung Hejo juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi serta mendorong manusia untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.
Bagi peserta didik Paket C SKB Purwakarta, pengalaman tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan sehari.
Dengan pakaian yang dipenuhi keringat dan tanah, mereka kembali membawa pengalaman bahwa pelajaran tidak selalu harus berlangsung di depan papan tulis.
Di Gunung Hejo, mereka belajar bahwa Sosiologi membantu membaca kehidupan, Matematika membantu memahami kenyataan secara terukur, dan lingkungan memberikan ruang untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Aksara membantu membaca kehidupan. Angka membantu memahami kenyataan. Dan akar mengajarkan bahwa masa depan harus ditanam dan dirawat sejak sekarang.
Dari Gunung Hejo, pendidikan kesetaraan menunjukkan bahwa ruang belajar dapat berada di mana saja di dalam kelas, di tengah masyarakat, maupun di alam terbuka selama pengetahuan mampu tumbuh menjadi pengalaman, karakter, keterampilan, dan tindakan nyata.
Editor: Iwan Setiawan