Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Utang Luar Negeri Tembus Rp7.318 Triliun, Bank Indonesia Ungkap Penyebab Kenaikan di Akhir 2025
Advertisement . Scroll to see content

Burayot, Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem: Sebuah Perjalanan Wisata ke Kampung Pulo  

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:44 WIB
  • author Tatang Budimansyah
Burayot, Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem: Sebuah Perjalanan Wisata ke Kampung Pulo  
Gerbang masuk kawasan Kampung Pulo, di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang tampak resik dan bersih, membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. (Foto: Dok Zaki Munawar)

Sembilan orang penumpang bersiap melangkah ke darat ketika getek (rakit bambu) hampir merapat ke tepi danau. Detik berikutnya, tukang getek menancapkan pengayuh yang terbuat dari bilah bambu saat kendaraan air tradisional itu sudah benar-benar menepi. “Wilujeng sumping (selamat datang) di Kampung Pulo,” ucapnya ramah.

MELINTASI Situ (danau) Cangkuang, para penumpang hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk tiba di Kampung Pulo. Namun dalam penyeberangan yang singkat itu mereka tampak semringah.

Pada siang bolong itu matahari memang sedang menyengat dengan sempurna. Maklum musim kemarau. Tapi sengatannya tak mengusik keceriaan para pelancong.

Sepanjang perjalanan mereka dihibur oleh nyanyian sekelompok pengamen dan senda gurau tukang getek. Mereka juga disuguhi panorama hijau yang memesona.

Sejauh mata memandang, di sekeliling danau tampak Gunung Guntur, Mandalawangi, Kaledong dan Gunung Haruman.

“Weekend kali ini saya sengaja mengunjungi Kampung Pulo untuk merasakan atmosfer kehidupan di pemukiman adat dan melihat Candi Cangkuang,” ujar Elsa Agustina (32), wisatawan lokal asal Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin, 26 Oktober 2026.

Elsa tak sendirian. Bersama suami, dia memboyong ibu, kakak, dan dua keponakannya.

“Saya memang suka mengunjungi objek-objek wisata yang bernuansa sejarah dan budaya,” imbuhnya sambil mengunyah burayot, kudapan khas daerah setempat.

Elsa membeli aneka kudapan tradisional sesaat setelah keluarga itu turun dari getek. Perjalanan selama nyaris dua jam dari Bandung, ditambah aroma burayot yang menggoda selera, membuat perut mereka agak keroncongan.


Kendaraan air tradisional rakit (getek) siap mengantar para pelancong menuju kawasan Kampung Pulo dengan waktu tempuh 10 menit. (Foto: Dok Zaki Munawar)

 

Berbaur dengan para pengunjung lain yang datang dari berbagai daerah, Elsa dan keluarga berkeliling di Kampung Pulo. Objek wisata itu berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 24,3 kilometer dari pusat kota.

Elsa memetik banyak makna selama berada di kampung adat itu. Ya, tentang kuatnya tradisi yang diamanatkan leluhur, konservasi alam yang tetap terjaga, dan nilai-nilai budaya yang tak pernah lekang.

Elsa menyaksikan Candi Cangkuang sebagai simbol Hindu dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad sebagai tokoh muslim. Ini menjadi penanda bahwa sikap toleransi dan saling menghormati mengejawantah di Kampung Pulo, dari generasi ke generasi.

Panglima Perang Kerajaan Mataram

Beberapa saat setelah adzan Ashar berkumandang, sejumlah pengunjung memasuki Masjid Adat, satu-satunya masjid yang ada di Kampung Pulo. Meski bangunannya tak besar, masjid ini tampak bersih.

Di luar Kampung Pulo, wisatawan muslim tak sulit menemukan masjid atau musala. Sebelum menyeberang ke kawasan itu, pengunjung bisa beribadah di Masjid Baitul Mannan.

Masjid yang tak jauh dari area parkir ini memiliki penataan tempat wudu yang apik dan toilet yang wangi dan resik. Selain itu, di tepi Situ Cangkuang ada sejumlah musala yang juga tampak terawat.

“Di Kampung Pulo memang hanya ada tujuh bangunan, yaitu satu masjid dan enam rumah. Sesuai tradisi, jumlah bangunan di sini tak boleh ditambah atau dikurangi. Harus tetap berjumlah tujuh,” terang Zaki Munawar, Ketua Komunitas Masyarakat Adat Kampung Pulo.

Tujuh bangunan yang berdiri di pemukiman adat ini melambangkan jumlah anak Mbah Dalem Arief Muhammad. Enam rumah merupakan simbol jumlah anak perempuan, sedangkan satu masjid menyimbolkan anak laki-lakinya.

Saat ini Kampung Pulo yang memiliki luas 16,5 hektare itu dihuni oleh enam kepala keluarga dengan jumlah total 18 orang.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Mbah Dalem Arief Muhammad? “Beliau adalah seorang panglima perang Kerajaan Mataram penyebar agama Islam yang hidup di abad 17,” ujar Zaki.


Mengunjungi Kampung Pulo, para pelancong biasanya tak lupa membeli burayot, makanan khas Garut yang bisa ditemui di kawasan itu. (Foto: Dok Zaki Munawar)

 

Dia berkisah, sebagai seorang panglima perang, Mbah Dalem Arief Muhammad mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menggempur tentara VOC di Batavia.

“Namun beliau gagal dalam menjalankan misinya itu. Beliau tak kembali ke Mataram dan mencari tempat persembunyian yang aman, hingga akhirnya menemukan Kampung Pulo,” papar Zaki.

Dia menambahkan, ketika Mbah Dalem Arief Muhammad datang, masyarakat setempat adalah penganut ajaran Hindu.

“Melalui penyebaran Islam yang beradaptasi dengan budaya setempat, Islam dapat diterima masyarakat Kampung Pulo. Mbah Dalem wafat dan dimakamkan di sini, bersebelahan dengan Candi Cangkuang,” terangnya.

Tak jauh dari Candi Cangkuang dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad, terdapat museum yang di dalamnya tersimpan naskah-naskah kuno sebagai bukti penyebaran Islam.

“Sebagian naskah ditulis di atas kulit kayu menggunakan aksara Arab dengan bahasa Jawa kuno,” imbuh Zaki.

Dari kawasan tersebut, para pelancong dapat melihat bentangan sawah di bagian selatan, dan Gunung Guntur di sebelah barat.

Akses Mudah, Kuliner Halal

Ada sejumlah aturan yang harus ditaati para pengunjung untuk menghormati adat setempat.

“Pengunjung harus menjaga ketenangan ketika ada orang yang sedang berdoa atau beribadah, baik di Candi Cangkuang maupun di makam Mbah Dalem Arief Muhammad,” ujar Zaki

.Aturan lain, pengunjung tidak diperkenankan berziarah ke Makam Mbah Dalem Arief Muhammad pada hari Rabu, “Sedangkan pantangan bagi pemukim Kampung Pulo adalah tak boleh memelihara binatang berkaki empat, misalnya, kambing atau sapi,” ucapnya.

Ikhwal burayot yang disantap dengan lahap oleh Elsa, Zaki mengungkapkan bahwa semua makanan dan minuman yang dijual di kawasan wisata ini dijamin halal.

Sebanyak 32 pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Kampung Pulo sebagian besar sudah mendapat pembinaan dari pihak Kementerian Agama setempat. Mereka sudah mengantongi Sertifikat Halal.

Tak melulu merangkul dan memberdayakan para pelaku UMKM, pengelola Kampung Pulo juga mengajak warga sekitar untuk turut terlibat.

Dia menuturkan, pengelolaan wisata tak dilakukan satu pihak saja. Selain kelompok penggerak pariwisata dan komunitas masyarakat adat Kampung Pulo, ada pedagang, pemandu, pengelola rakit, dan unsur lain yang saling mendukung.


Para pelancong menikmati kawasan Kampung Pulo yang asri, hijau, dan resik. (Foto: Dok Zaki Munawar)

 

Zaki mafhum akan pentingnya akses yang aman dan mudah menuju Kampung Pulo. Oleh karena itu pihaknya melibatkan warga sekitar untuk menjadi tukang getek.

“Ya, transportasi air itu dikelola oleh paguyuban usaha warga bernama Putra Cangkuang. Saat ini jumlah rakit sekitar 24 unit, dengan kapasitas sekitar 15 orang per rakit. Pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp10.000 untuk penyeberangan pulang pergi,” terang Zaki.

Adapun tarif untuk masuk ke kawasan Kampung Pulo, pada hari biasa para pelancong dewasa dikenakan tarif sebesar Rp10.000 dan Rp5.000 untuk anak-anak.

Sedangkan pada weekend dan hari libur nasional, tarifnya Rp20.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak.

Upaya Memperkuat Ekonomi Syariah

Zaki menjelaskan bahwa pengelolaan wisata di kawasan Cangkuang terorganisir melalui kelompok penggerak dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang melibatkan masyarakat, pedagang, pemerintah, dan tokoh adat.

Ada Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), asosiasi para pemandu wisata (tour guide) yang  siap memandu wisatawan. Museum pun memiliki pemandu khusus yang menjelaskan tentang cagar budaya Cangkuang.

“Untuk pengunjung yang membutuhkan penjelasan khusus mengenai adat yang berlaku di Kampung Pulo, kuncen juga dapat memberikan penjelasan,” tuturnya.

Gambaran Kampung Pulo selaras dengan program yang digaungkan oleh Kementerian Pariwisata, yakni Pariwisata Ramah Muslim (Muslim Friendly Tourism).

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Pariwisata Ramah Muslim merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ekonomi syariah, mendorong investasi berkualitas, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam acara Driving Indonesia’s Halal Industry Competitiveness & Global Export Readiness di Menara Kadin, Jakarta, 28 Januari 2026.

Menurutnya, Pariwisata Ramah Muslim adalah upaya dalam membangun ekosistem yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Layanan ramah muslim, kata Ni Luh, merupakan peningkatan standar pelayanan destinasi tanpa mengubah jati diri budaya lokal.

“Layanannya bersifat pelengkap, sehingga destinasi akan tetap nyaman bagi seluruh wisatawan dari berbagai latar belakang,” ujarnya.

Dikatakannya bahwa kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada tradisi, budaya, dan kearifan lokal (local wisdom).

“Program ini merupakan upaya untuk memperkuat destinasi melalui peningkatan standar layanan yang ramah bagi wisatawan muslim, tanpa menghilangkan kekhasan budaya dan tradisi setempat,” tandasnya.

Jabar Juara Lagi

Saat ini populasi muslim di Indonesia berjumlah 248 juta jiwa (87 persen) dari jumlah total penduduk. Indonesia menyumbang 11,3 persen populasi muslim dunia dan 86 persen populasi muslim di ASEAN.

Untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, Kemenpar berkolaborasi dengan sejumlah lembaga, di antaranya dengan Bank Indonesia (BI).  

Lintas lembaga ini meluncurkan program Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). Dengan program ini, sejauh mana kesiapan provinsi dalam menerapkan Pariwisata Ramah Muslim berstandar internasional bisa diketahui.

Selain dengan BI, Kemenpar juga merangkul Bappenas. Tiga lembaga itu membuat standar nasional layanan Pariwisata Ramah Muslim. Tujuannya tak lain untuk menjamin konsistensi kualitas pelayanan pada destinasi Indonesia.

Pada perhelatan IMTI 2026, Provinsi Jawa Barat dinobatkan sebagai Provinsi Terbaik dengan menyabet Juara 1. Posisi Juara 2 dan 3 masing-masing ditempati oleh Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. 


Provinsi Jawa Barat menerima penghargaan sebagai Juara I IMTI 2026 di ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13, di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta. (Foto: Dok BI Jabar)

 

Penghargaan diserahkan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana kepada Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan pada acara Indonesia Muslim Friendly Travel Summit.

Acara yang dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali ini, merupakan rangkaian dari ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13. Perhelatan digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, 14–18 Oktober 2026.

Ini merupakan kali kedua Provinsi Jabar meraih posisi terbaik. Pada IMTI 2025, provinsi ini juga menyabet Peringkat I. Sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

Pada kesempatan itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menyatakan bahwa Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu pusat pariwisata ramah muslim dunia.

Dalam siaran pers Bank Indonesia, Ricky menyatakan bahwa pihaknya terus berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan daerah.

“Tujuannya agar Pariwisata Ramah Muslim mampu memberikan manfaat ekonomi yang makin luas bagi masyarakat. Selain itu, juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah,” ujar Ricky.


Sejumlah penghargaan prestisius berkaitan dengan Wisata Ramah Muslim yang diraih Provinsi Jawa Barat sepanjang 2025 dan 2026. (Infografis: desain AI/Tatang Budimansyah)

 

Dia menambahkan bahwa pengembangan Pariwisata Ramah Muslim merupakan salah satu potensi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Diharapkan, program ini mampu memperluas peluang usaha, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai nilai halal di berbagai daerah,” imbuhnya.

Di kancah global, peringkat Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 merangsek ke posisi kedua, dari peringkat kelima pada tahun sebelumnya.

Adapun berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026,  Indonesia menempati posisi keenam dunia dalam sektor Pariwisata Ramah Muslim.

Smiling West Java Muslim

Penghargaan prestisius yang diterima Provinsi Jawa Barat yang berkaitan dengan Pariwisata Ramah Muslim tidak diraih secara sekonyong-konyong.  

Sejumlah program penunjang untuk memperkuat ekosistem Pariwisata Ramah Muslim pun dibuat.

Sebut saja misalnya Smiling West Java Muslim-Friendly Tourism (SWJ-MFT) yang diluncurkan pada 2024 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat.

Pemprov Jabar berkolaborasi dengan Enhaii Halal Tourism Center (EHTC) Poltekpar NHI Bandung. Program ini dibuat untuk memotivasi pemerintah kabupaten dan kota, serta pelaku usaha lokal untuk berlomba menerapkan standardisasi akomodasi dan rekreasi ramah muslim secara konsisten.

Selain itu, ada pula program pendampingan Zona KHAS (Kuliner Halal, Aman, dan Sehat) untuk memastikan pelancong muslim dapat mengonsumsi kuliner lokal yang halal dan higienis.

Pemprov Jabar juga meluncurkan inovasi teknologi HalalBot, sebuah platform asisten virtual berbasis deep learning (AI). Platform ini berfungsi sebagai travel guide untuk membantu wisatawan merencanakan perjalanan, mengecek kuliner halal, dan mencari tempat ibadah terdekat secara mudah.

Dari sisi amenitas, Pemprov Jabar memberikan bantuan fasilitas pendukung ibadah kepada Forum Desa dan Kampung Wisata (Fordeka) Jawa Barat.

Matahari sudah makin condong ke barat. Sore itu waktu menunjukkan pukul empat lebih beberapa menit. Sebagian pengunjung sudah beranjak pulang. Elsa dan keluarga pun bersiap menyeberang kembali dengan menggunakan getek.

Berkunjung ke Kampung Pulo merupakan perjalanan wisata yang sangat berkesan bagi mereka. Pada hamparan hijau tetumbuhan, mereka menyaksikan tradisi, norma, dan budaya yang mengakar kuat.

Akses menuju lokasi yang mudah terjangkau, warga lokal yang ramah, dan adanya tempat ibadah yang representatif menjadi daya tarik tersendiri.

Selain lingkungan yang bersih, ketersediaan aneka kuliner yang telah tersertifikasi halal pun  membuat Elsa tak bakal kapok untuk kembali berkunjung ke Kampung Pulo.**  

Editor: Iwan Setiawan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut