Selain itu, pengelola masjid juga diimbau menyediakan takjil bagi pemudik yang masih menjalankan ibadah puasa Ramadan. Pada malam hari, disarankan tersedia minuman hangat untuk membantu pengemudi menjaga stamina sebelum kembali ke perjalanan.
“Beristirahat sejenak bisa menyelamatkan nyawa, mencegah musibah karena kalau. Supirnya, ngantuk, dan nanti nabrak, kecelakaan banyak bisa terjadi,” katanya.
Kementerian Agama menilai tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan sepeda motor, khususnya di jalur Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatra, berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan akibat kelelahan pengemudi. Karena itu, masjid diposisikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan publik bagi masyarakat, terutama para pemudik.
"Agar mudah dikenali, masjid yang berpartisipasi akan diberi penanda khusus di jalur utama sehingga pemudik dapat singgah tanpa ragu," ujar Nasaruddin.
Program ini juga melibatkan rumah ibadah lain di sejumlah daerah. Di wilayah Sumatra Utara dan kawasan Indonesia Timur, gereja turut difungsikan sebagai tempat singgah bagi pemudik. Pendekatan tersebut disebut sebagai wujud bahwa rumah ibadah merupakan ruang kemanusiaan yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama.
“Adanya program ini, dapat meniru masjid nabi, masjid juga menerima tamu baik muslim dan non muslim, jangan ada diskriminasi. Masjid harus jadi rumah besar kemanusiaan, dan sebagai strategi yang membantu kesuksesan manajemen mudik Lebaran,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi pergerakan 143 juta pemudik. Salah satunya dengan memanfaatkan masjid sebagai titik istirahat, sehingga diperlukan sinkronisasi data dengan Kementerian Agama agar pelaksanaannya di lapangan berjalan selaras.***
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
