Resiknya Travoy Rest KM 88B Cipularang: Lantas, ke Mana Sampah-Sampah Itu?

Tatang Budimansyah
Travoy Rest KM 88B Cipularang, Purwakarta Jawa Barat, dinobatkan sebagai rest area terbaik oleh Kementerian PU. (Foto: Tatang Budimansyah/iNewsPurwakarta.id)

Sembari melantunkan lagu dangdut lawas yang entah apa judulnya, Ojang memindahkan sampah dari tong ke gerobak becak motor (cator). Detik berikutnya, dia kembali menenteng sapu dan pengki. Ya, Ojang kembali berkeliling berburu sampah. Kali ini yang keluar dari mulutnya bukan lantunan, tapi siulan dengan lagu yang sama. Begitu energik! 

CUACA memang agak mendung. Namun pada Rabu malam itu, 15 April 2025, langit di atas Travoy Rest KM 88B Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), Purwakarta, Jawa Barat tak menumpahkan hujan.

Ojang yang saat itu mendapat tugas di luar ruangan, tak perlu bersusah payah menghindar dari cipratan air hujan seperti kemarin. Dia tampak leluasa mengumpulkan sampah.

“Pekan ini saya mendapat giliran sore. Kerja mulai jam 3 sore hingga jam 11 malam. Setiap shift terdiri dari 10-12 orang. Selama 24 jam, kami dibagi menjadi tiga shift,” terang Ojang, petugas cleaning service yang telah bekerja di Travoy Rest KM 88B sejak 2011.

Ojang merupakan satu dari puluhan petugas kebersihan lainnya di rest area jalur Bandung–Jakarta itu. “Saya dan semua petugas kebersihan di sini, adalah ‘akamsi’ alias anak kampung sini, hehehe,” tutur pemukim Kampung Citapen, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta itu.  

Berkat tangan cekatan Ojang dan rekan-rekannya, Travoy Rest KM 88B menjadi rest area yang nyaman, asri, dan bikin pengunjung betah berlama-lama di sini, “Malah saking betahnya, pengunjung jadi malas melanjutkan perjalanan,” seloroh ayah dari tiga anak itu.


Dengan riang Ojang memburu sampah di seantero Travoy Rest KM 88B. (Foto: Tatang Budimansyah/iNewsPurwakarta.id)
 

 

Betulkah? Ya, Ojang tidak sedang membual. Lihat saja Aris Firmansyah, warga Pademangan Barat, Jakarta Utara. Dia baru saja membeli 4 kg peuyeum (tape singkong) di zona Kampung UMKM, yang berada di sebelah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).  

Ditemani istri dan adik iparnya, Aris mengaku sudah lebih dari satu jam berada di Travoy Rest KM 88B, sebelum melanjutkan perjalanannya. Mengisi bahan bakar atau tidak, dia mengaku pasti singgah ke sini dalam setiap perjalanan dari Bandung ke Jakarta.

“Semua kebutuhan ada di sini. Memasuki rest area 88, saya merasa dimanjakan. Selain aman dan nyaman, tempat ini begitu resik sejauh mata saya memandang. Tak terlihat adanya ceceran sampah,” tandas Aris.

Rumah Kompos yang Mentereng

Lantas, ke mana sampah itu dibuang? Padahal sebagai tempat yang boleh dibilang pusat keramaian, Travoy Rest KM 88B pasti memproduksi sampah yang tak sedikit. Tanpa pengelolaan yang tepat, malah bakal menimbulkan masalah baru: mencemari lingkungan!

“Kami punya Rumah Kompos,” terang Tomi Riyanto, Supervisor Jasa Marga Related Business (JMRB) Travoy Rest KM 88B. “Soal sampah, siklusnya tidak berakhir di tangan petugas kebersihan. Sebaliknya, sampah yang diangkut ke Rumah Kompos merupakan tahap awal dari proses pengolahan,” imbuhnya.

Rumah Kompos yang dimaksud Tomi, adalah sebuah bangunan berukuran 40 X 12 meter yang terletak di bagian belakang areal rest area. Rupanya, dalam hal pengelolaan sampah terpadu dan mandiri, manajemen Travoy Rest KM 88B tak main-main.

“Di tempat inilah proses pengolahan sampah, mulai dari diturunkan dari cator hingga menjadi pupuk organik dilakukan,” terang Tomi.


Dibantu dua orang pekerja, Supervisor Jasa Marga Related Business (JMRB) Travoy Rest KM 88B Tomi Riyanto memilah sampah organik dan non-organik. (Foto: Tatang Budimansyah/iNewsPurwakarta.id)
 

Bangunan ini tampak kokoh dan mentereng. Tampak sejumlah mesin yang digunakan untuk mengolah sampah. Mulai dari mesin pemilah, pencacah, pengayak, hingga mesin fermentasi beroperasi setiap hari. Hasil pengolahannya berupa pupuk organik padat dan cair.

“Proses produksi pupuk berlangsung selama 14 hari. Dalam sekali proses kami menghasilkan 30 kg pupuk organik. Jadi dalam sebulan kami mampu memproduksi 60 kg,” terang Tomi.


Pupuk organik padat yang diproduksi Jasa Marga Related Business (JMRB) Travoy Rest KM 88B. (Foto: Tatang Budimansyah/iNewsPurwakarta.id)
Kendati bukan untuk tujuan komersial, pupuk organik yang dihasilkan dikemas secara apik. “Kami gunakan untuk kalangan sendiri. Untuk taman di Travoy Rest ini agar tetap hijau dan segar. Selain itu, kami juga pasok ke Travoy Rest KM 88A dan KM 207A Palikanci,” tambahnya.

 

Kelola Sampah hingga Tuntas

Keberadaan Rumah Kompos menarik perhatian Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq. Dia mengapresiasi praktik pengelolaan sampah terpadu dan mandiri yang dilakukan manajemen Travoy Rest KM 88B.

Ujaran itu dilontarkan Hanif saat melakukan inspeksi ke tujuh rest area ruas tol Trans Jawa, termasuk ke Travoy Rest KM 88B, Kamis, 25 Desember 2025. Saat itu, Hanif dan rombongan berkesempatan meninjau Rumah Kompos.

Kementerian LH dalam siaran persnya menyatakan, peninjauan ini merupakan implementasi Surat Edaran Menteri LH/Kepala BPLH dan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Hanif ingin melihat ketersediaan fasilitas pemilahan, sistem pengangkutan berkala, dan penguatan koordinasi antara pengelola jalan tol dengan pemerintah daerah. Tujuannya tak lain untuk menjamin sampah tak menumpuk di area publik. “Sesuai UU, pengelola kawasan wajib mengelola sampahnya sendiri sampai tuntas,” tandas Hanif.

Dia mengaku akan mengambil tindakan hukum bagi pengelola yang tak menyediakan fasilitas pengolahan sampah, “Kami menerapkan sanksi paksaan pemerintah kepada rest area yang belum memenuhi kewajibannya,” imbuhnya.

Sabtu, 14 Maret 2026, Hanif kembali menginspeksi rest area ruas Tol Trans Jawa. Kunjungannya tersebut sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet yang digelar sehari sebelumnya dalam hal menjaga kenyamanan masyarakat selama musim mudik. “Pak Presiden mewanti-wanti bahwa pengelola kawasan wajib mengelola sampahnya sendiri,” tandasnya.


Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau Rumah Kompos. (Foto: dok Kementerian LH)

 

 

Hanif menemukan sejumlah rest area yang belum memiliki fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Kementerian LH memberi waktu kepada pengelola rest area untuk melakukan perbaikan sesegera mungkin.

Rest Area Percontohan

Keseriusan manajemen Travoy Rest KM 88B dalam menjaga agar tetap prima dalam pelayanan, nyaman, asri, dan bersih, mendapat ganjaran dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Bukan, bukan sekali tempat persinggahan ini meraih penghargaan, tetapi tiga kali berturut-turut.

“Benar, Kementerian PU menganugerahi Travoy Rest KM 88B sebagai Pengelola Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) Tipe A Terbaik I,” ujar Manajer Operasional JMRB Heri Nuryanto di kantornya, Kamis, 14 April 2026.

Predikat bergengsi tersebut, diperoleh pada ajang peringatan Hari Bakti Kementerian PU, “Kami memenanginya secara berturut-turut yakni pada 2022, 2023, dan 2024,” sambung Heri.

Berkat penerapan pengelolaan sampah terpadu di Travoy Rest KM 88B, PT Jasa Marga (Persero) Tbk dinilai berkomitmen mempraktikkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Maka, selain dari Kementerian PU, tak terlalu mengagetkan jika perusahaan ini menyabet dua penghargaan lainnya yakni:

  • 4 Juli 2025,  meraih Anugerah Utama Sektor Infrastruktur di ajang IDX Channel Anugerah ESG 2025
  • 21 Januari 2026, meraih Indonesia Green Awards (IGA) 2026, Kategori Pengembangan Pengolahan Sampah Terpadu yang digelar La Tofi School of Social Responsibility

Penghargaan dari Kementerian PU yang diraih Jasa Marga tiga kali berturut-turut. (Foto: dok Jasa Marga)

 

 

Dari pencapaian itu, sangatlah wajar apabila Travoy Rest KM 88B menjadi rest area percontohan di negeri ini. Dari sisi pengelolaan sampah saja, rest area ini menjadi lokasi studi banding bagi rest area lain, di antaranya rest area KM 62, 57, dan 275.

Heri melanjutkan, rest area lain pun memang sudah dilengkapi fasilitas pengolahan sampah. “Namun, proses pengolahannya masih dilakukan secara manual dan sederhana,” ujarnya.

Puaskah pihak manajemen dengan pencapaiannya dalam pengelolaan sampah? Jawabannya ternyata tidak. Buktinya, rest area yang memiliki luas 26 hektare ini telah memiliki site plan yang bakal diejawantahkan dalam waktu dekat.

Tomi tak menampik, saat ini residu hasil pengolahan sampah masih berkisar antara 30-40 persen. Angka yang lumayan tinggi. Residu tersebut sebagian besar dihasilkan dari sampah sisa makanan. 

“Kami ingin pengolahan tak menyisakan residu. Ya, zero waste. Residu tersebut akan diolah dengan memanfaatkan maggot untuk pakan ternak seperti ikan dan burung,” jelasnya.

Untuk keperluan tersebut manajemen merencanakan membangun rumah maggot, inkubator, dan insinerator, yakni mesin pelebur sampah sisa yang tak bisa dimanfaatkan. Dengan penambahan tiga alat tersebut, diharapkan nantinya tidak ada lagi residu yang tertinggal.

Tak hanya itu, akan disediakan pula lahan untuk uji pupuk, hidroponik, aviary, dan galeri untuk memajang pupuk dan hasil tanam.

Seperti Destinasi Wisata

Luas lahan yang dimiliki Travoy Rest KM 88B lebih dari memadai untuk mendirikan fasilitas-fasilitas tersebut. Dari luas total 26 hektare, ada belasan hektare lagi yang siap untuk dimanfaatkan.

“Yang jelas, rest area ini akan menjadi magnet dan makin memiliki daya tarik, seiring dengan makin lengkapnya fasilitas yang dimiliki,” imbuh Tomi.

Bahwa Travoy Rest KM 88B menjadi magnet bagi para pengunjung, memang bukanlah isapan jempol. Rupanya, tempat ini bukan saja disinggahi oleh para pengemudi yang hendak melepas lelah sejenak setelah sekian jam berada di depan setir mobil. 

Travoy Rest KM 88B juga kerap dikunjungi oleh warga sekitar untuk menikmati kuliner, cuci mata, atau sekadar nongkrong bersama keluarga. Tak ubahnya seperti destinasi wisata.

“Saya bersama istri dan anak-anak sengaja dari rumah ke rest   area 88B. Bukan untuk singgah, tapi tujuan utama kami memang ke sini. Kami berkunjung untuk cari makanan yang enak, salat di masjid yang resik, atau mendengarkan live music sambil pilih-pilih makanan tradisional. Singkatnya, cari hiburan lah,” ujar Hadi Saepul Rizal, Sabtu sore, 4 April 2026.

Hadi, warga Kelurahan Nagrikidul, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta itu, mengaku kedatangannya ke Travoy Rest KM 88B, bukanlah kali yang pertama.

“Kadang saya yang ngajak anak-anak, kadang mereka yang merengek ingin ke sini. Tempat favorit anak-anak adalah Rumah Tumbuh Melon, yakni budidaya melon dengan sistem hidroponik di dalam greenhouse. Mereka suka berlama-lama di sana. Memetik sendiri melon yang ranum, dan membelinya beberapa kilo,” papar Hadi. 

Untuk mencapai lokasi Travoy Rest KM 88B, dia melajukan kendaraannya masuk dari Gerbang Tol Jatiluhur ke arah Bandung. Kemudian dia keluar di Gerbang Tol Darangdan KM 99A. Lantas, kendaraannya masuk kembali ke Gerbang Tol 99B, yakni ke jalur Bandung-Jakarta.


Rumah Tumbuh Melon, salah satu tempat favorit para pengunjung Travoy Rest KM 88B. (Foto: dok Jasa Marga)

 

 

Melahirkan Kebanggaan

Menariknya, keluarga Hadi bukan satu-satunya yang terpincut dengan pelayanan dan fasilitas Travoy Rest KM 88B. Ternyata banyak warga Purwakarta yang datang dengan tujuan yang sama seperti keluarga Hadi.

“Umumnya mereka mengaku merasa nyaman selama berada di rest area ini, karena memiliki fasilitas yang lengkap. Sebagai pengelola, tentu saja saya merasa bangga,” tutur Heri.

Kebanggaan, bukan hanya milik Heri. Para ‘pemburu sampah,’ yakni Ojang dan rekan-rekannya, juga merasakan hal yang sama. Ojang mengaku merasa tersanjung dan bersukacita ketika para pengunjung makin kerasan selama berada di Travoy Rest KM 88B.

Andil Ojang dan rekan-rekannya tak bisa dikesampingkan. Boleh jadi, dari tangan merekalah semuanya bermula, hingga pada akhirnya Travoy Rest KM 88B dinobatkan menjadi yang terbaik.

Ojang dan tim terus bekerja. Sementara Travoy Rest KM 88B tak henti berdenyut, ditingkahi orang-orang yang berlalu-lalang, ibu yang memanfaatkan ruang laktasi, jamaah yang tengah khusyuk di dalam Masjid Al Safar, atau keluarga yang sedang menikmati gurihnya sate maranggi. Ojang turut melebur dalam denyut itu.**

Editor : Iwan Setiawan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network