“Ya, karena berlatar dari keluarga tak mampu, saya sering dikucilkan oleh teman-teman. Cara bergaulnya dipilah-pilah. Seperti ada kasta. Anak orang kaya harus bergaul dengan yang kastanya sama. Maka saya bergaul dengan teman-teman yang bernasib sama: dari kalangan yang orang tuanya tak punya,” kenang Saidah.
“Di sini enak. Kami terbiasa saling menghargai. Tak akan pernah ditemukan kasus bullying di sini. Kalau saya salah, teman-teman menegur dengan baik. Mereka memberi tahu dengan cara yang baik,” tandas Saidah yang bercita-cita bekerja di perusahaan tambang baatu bara ini.
‘Biarlah Ibu yang Putus Sekolah’
Kisah Saidah tak kalah haru dengan Syifan. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk kontainer meninggal dunia saat Saidah berusia enam tahun.
Kasmi (49), ibu Saidah, hingga saat ini mesti berjualan kopi seduh keliling dengan menggunakan motor untuk mencukupi keburuhan hidup. “Itu dilakukan setiap hari, kadang hingga jam dua malam,” kata anak keempat dari lima saudara ini.
Saidah Nur Halimah, siswi SRMA 13 Bekasi yang menjelma dari minder menjadi sosok yang percaya diri. (foto: Tatang Budimansyah)
Saidah pun tak berpangku tangan. Dia rupanya sudah terbiasa membantu ibu mencari nafkah. Saat kelas 4 SD, Saidah sering dibawa ibu berjualan kopi. Dia pernah pula berjualan sandal, dan menjadi pelayan di sebuah warung kopi.
“Sekarang pun, untuk mengisi libur panjang, saya akan bekerja lagi di warung kopi. Hasilnya lumayan untuk menambah penghasilan. Soalnya abang saya yang tak tertua sudah tidak bekerja lagi. Dia menderita penyakit tuberkulosis (TBC). Dulu dia bekerja sebagai kurir, pengantar barang,” terang Saidah.
Saat ditanya soal perasaannya mendapat kesempatan menjadi murid Sekolah Rakyat, Saidah dengan tegas menjawab, “Saya bahagia, senang, dan tak akan pernah berhenti bersyukur,” tuturnya.
Padahal, ketika awal dia masuk SRMA, sempat juga dilanda kegundahan karena harus meninggalkan ibu di rumah dan mau tak mau harus berhenti membantu ibu mencari nafkah.
“Sampai akhirnya saya diberi petuah oleh ibu yang saat ini masih terngiang. Ya, ibu bilang: ‘biarlah ibu yang merasakan putus sekolah. Kalian jangan. Kalimat itu semakin menguatkan saya untuk meneruskan jenjang pendidikan,” kata Saidah.
Bahwa Saidah sempat ragu saat masuk Sekolah Rakyat, diamini oleh Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati. Dia mengungkapkan, saat awal masuk sekolah Saidah sempat ingin mengundurkan diri karena merasa lebih nyaman membantu ibunya bekerja. Ia bahkan pernah meminta izin pulang selama satu minggu untuk berjualan bersama ibunya. Namun pihak sekolah terus memberikan motivasi bahwa pendidikan akan menjadi jalan untuk memperbaiki masa depan keluarganya.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
