Menurutnya, lirik lagu tersebut merupakan refleksi atas perjalanan hidup yang penuh kenakalan pada masa lalu. Ia mengaku bersyukur diciptakan sebagai laki-laki karena merasa jika saat itu menjadi perempuan, dirinya belum tentu mampu menjaga diri dengan baik.
"Perjalanan spiritual setiap orang berbeda-beda. Cerita hidup, cerita cinta, rumah tangga hingga perjalanan pengembaraan seseorang juga berbeda. Saat itu saya merenung dan berpikir, 'Ya Tuhan, untung saya diciptakan menjadi laki-laki. Kalau menjadi perempuan bagaimana jadinya saya?' Itulah yang ingin saya ungkapkan dalam puisi tersebut," jelasnya.
Om Zein juga mengungkapkan, puisi itu kerap ia bacakan dalam berbagai kesempatan. Kemudian pada tahun 2023, saat dirinya masih belum menjadi bupati, seorang seniman menawarkan untuk mengaransemennya menjadi sebuah lagu.
"Puisi itu sering saya bacakan. Tahun 2023 ada seorang seniman yang datang dan meminta agar puisi itu diaransemen menjadi lagu. Saya setuju dan lahirlah lagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' yang sekarang justru menuai kritik," tuturnya.
Selain menuai kritik publik, Om Zein juga menerima somasi dari Jabar Bantuan Hukum terkait lagu tersebut. Menanggapi langkah hukum itu, ia menyatakan akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim kuasa hukumnya.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
