get app
inews
Aa Text
Read Next : Tanamkan Disiplin Lalulintas Sejak Dini, Polwan Purwakarta Gelar Police Goes To School

Jamu Tak Selalu Harus Digendong, Ini Jamu Digital Lho!

Selasa, 25 Maret 2025 | 02:49 WIB
header img
Susi Suryani menyiapkan produk jamu buatannya untuk segera dipasarkan. foto: iNewsPurwakarta/tatang budimansyah.

Jari-jari kedua tangan Susi Suryani menguning. Tapi perempuan itu enggan membersihkannya. Warna jari tangannya yang tak lazim ini, menarik perhatian rekan-rekan kerja Susi di sebuah pabrik kecap di Desa Wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang.

KETIKA salah satu rekannya bertanya mengapa jari tangannya menguning, Susi menjawab, “Tiap malam saya membuat jamu. Warna kuning yang menempel ini dari kunyit!”

Ya, setiap malam, perempuan asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini membuat jamu asam kunyit. Dia mengupas kunyit, menumbuk, hingga menghaluskannya ke dalam blender.

Penasaran dengan jamu buatan Susi, beberapa rekan kerjanya minta dibawakan. Susi menyanggupinya. Dia kerap membawa jamu sederhananya itu ke pabrik. Membagi-bagikannya kepada rekan-rekan kerja. Rasanya? Tentu saja getir.

Terlalu sering memperoleh jamu secara gratis, rekan-rekan susi menjadi tak enak hati. Akhirnya mereka tetap minta dibawakan jamu, tapi dengan membayarnya. Tak lagi gratis.

Hari-hari selanjutnya, ke pabrik tempatnya bekerja, Susi menenteng jerigen berisi jamu asam kunyit buatannya. Pulang kerja, jerigen sudah dalam keadaan kosong melompong. Jamu racikannya laku keras. Salah satu langganannya adalah managernya. Vivi namanya.

Suatu hari, kenang Susi, managernya itu minta dibuatkan jamu yang rasanya enak. Tidak berasa getir seperti biasa. Susi menyanggupinya. Dia beri gula putih dan gula merah dalam adonan jamunya.

Alhamdulillah, Bu Vivi sangat menyukainya,” kenang Susi saat ditemui di rumahnya, di Kampung Cisantri, RT/RW 01/02 Desa Cilandak, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (23/3/2025).

Jamu racikan laku keras, membuat Susi makin bersemangat. Dia terus membuat racikan. Bahan bakunya tak lagi hanya asam dan kunyit, tapi tumbuh-tumbuhan herbal lainnya.

Itu kisah 20 tahun yang lalu. Tepatnya pada 2005. Tak ada yang menyangka bahwa masa itu merupakan titik awal bagi seorang Susi menjadi sosok inspiratif bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Purwakarta saat ini.

“Lambat laun, pelanggan saya bukan hanya rekan-rekan di pabrik kecap, tetapi warga Purwakarta pada umumnya. Pemasarannya cukup dari mulut ke mulut. Maklum, waktu itu internet belum menjamur seperti sekarang,” ujar ibu dari tiga anak ini.

Susi terus melakukan percobaan. Dia meracik beberapa varian. Ilmu perjamuan dia comot dari internet, “Untuk mencari tahu tentang dunia perjamuan, saya datangi perpustakan, dan sering berlama-lama berada di dalam warung internet (warnet). Dulu kan untuk membuka internet harus begitu,” imbuh perempuan lulusan SLTA ini.

Bersyukur, Arif Hidayat, sang suami, mendukungnya. Malah, suaminya yang lebih sering pergi ke warnet untuk menimba ilmu seputar jamu. Termasuk untuk mencari tahu tentang jenis-jenis kemasan yang cocok, hingga yang berkaitan dengan legalitas usahanya.

Pada pertengahan 2006, Susi memutuskan mengundurkan diri dari pabrik kecap. Dia ingin lebih fokus menjadi tukang jamu. Selain meracik jamu di rumah, saat itu dia mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan yang tetap bertalian dengan usahanya itu.

Misalnya, mengurus legalitas, mendaftarkan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) membuat sertifikat halal, dan berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian setempat.

“Aktifitas saya sudah banyak. Saya berpikir, kalau saya terus bekerja di pabrik, paling pendapatan saya segitu-gitu saja kan. Sementara waktu saya habis di situ, dari pagi sampai sore. Selain itu, anak saya juga tak terurus. Jadi, saya memilih resign,” ujarnya.

Langkah Susi untuk lebih serius menggeluti usahanya, diikuti oleh sang suami. Tahun berikutnya, suaminya pun memilih mengundurkan diri dari sebuah perusahaan minuman multinasional.

Sejak saat itu, pasangan ini kompak untuk terus mengembangkan sayap usahanya, hingga sang suami meninggal dunia pada 2017 silam. Kini, tanpa suami, Susi tetap menggeluti usahanya tersebut.  

Setelah melewati 20 tahun perjalanan usahanya, Susi kini memiliki 24 varian minuman herbal yang dijual dengan berbagai kemasan modern. “Saya memberi merek Herblass, singkatan dari herbal yang banyak dibablasin,” ujarnya.

Banyak yang tak menyangka bahwa produk minuman herbal Susi ini diproduksi di rumahnya. Semua jenis kemasan yang digunakan, tak kalah dengan produk yang dibuat di pabrik modern. Untuk memproduksi minuman herbal, Susi kini dibantu oleh lima orang pekerja.

Susi tak kesulitan memperoleh bahan baku. Dia bekerja sama dengan petani lokal. “Saya meracik jamu dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Ratusan jenis tanaman herbal tersedia di mana-mana. Tak akan sulit mencarinya,” ujarnya.

Menggempur Covid-19 dengan Gempur

Memasuki era digitalisasi, Susi mafhum akan pentingnya platform digital untuk keberlangsungan usahanya. Dia mengaku mulai tergugah mengakrabi platform digital pada saat Tanah Air diterjang pandemi Covid-19.

Kebijakan pemerintah menerapkan lock down saat itu, mau tak mau berimbas kepada banyaknya UMKM yang terpaksa gulung tikar. Alih-alih terpuruk dan meratapi usahanya yang diprediksi bakal sepi pembeli, Susi malah tergerak untuk ‘memanfaatkan’ masa pandemi dengan mengenalkan produknya.

“Pada masa pandemi, tahun 2020, varian minuman herbal yang saya kasih nama Gempur jadi booming. Laku di pasaran. Alhamdulillah, Gempur bisa memulihkan stamina dan menjaga imunitas, khususnya mereka yang positif terjangkit Corona. Hingga saat ini sebagian masih menjadi pelanggan saya,” ujarnya.

Untuk menjangkau lebih luas pelanggan, Susi memanfaatkan media sosial dan marketplace dalam pemasaran. Dibantu dengan seorang admin, Susi kini aktif di sejumlah platform media sosial, “Saya sering live. Hasilnya alhamdulillah,” tuturnya.

Yang menarik, saat live dia tak hanya mengenalkan produk, tetapi juga sering menjadi ‘konsultan’ untuk segala hal yang berkaitan dengan dunia perjamuan.

Dia menjelaskan, dibanding dengan cara konvensional, pemasaran dengan memanfaatkan ekosistem digital jauh lebih menguntungkan. Perbedaannya sangat signifikan.

“Karena, saya bisa menjangkau lebih luas pelanggan, lebih efektif dan efisien, serta lebih leluasa mengenalkan produk. Pasar menjadi tak berbatas. Maka, bagi saya digital marketing bukan saja pilihan, tapi sudah menjadi keharusan,” ujarnya.

Di platform marketplace, Susi bergabung dengan beberapa E-commerce, di antaranya Shopee. “Saya bergabung dengan Shopee sejak beberapa tahun lalu. Tapi, toko saya yang bernama Herblass Mart mulai diseriusi sejak 6 bulan lalu. Bersyukur, selalu ada orderan,” imbuh perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (Aspetri) ini.  

Untuk distribusi orderan di wilayah Purwakarta dan sekitarnya, Susi juga memanfaatkan platform digital transportasi online. Sedangkan untuk transaksi bisnisnya ini, dia sudah terbiasa menggunakan QRIS. “Transaksi dengan cashless, terasa lebih aman, fleksibel, dan efektif,” terangnya.

Susi mengaku belum puas dengan hasil pencapaiannya sekarang. Di tengah kesibukannya meracik jamu, menjadi narasumber seminar, dan mengikuti pameran UMKM, dia berencana lebih mengoptimalkan penjualan jamunya dengan semua platform digital.

Obsesinya, ingin membudidayakan tanaman herbal dan mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan bahan alami untuk memperoleh kesehatan.

“Target saya ke depan yakni membentuk tim pemasaran profesional untuk memperkuat eksistensi produk herbal Indonesia di kancah internasional,” harapnya.

“Bagi saya, digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi sebagai cara untuk melestarikan eksistensi jamu sebagai warisan leluhur. Kita mampu menjadikan jamu mendunia tanpa kehilangan filosofi handmade-nya, melalui platform digital,” imbuh Susi.

Dari modal Rp20.000 sejak awal memproduksi pada 2005, kini Susi mengantongi omzet Rp50 juta per bulan. Varian produknya terdiri dari berbagai pilihan seperti powder, kapsul, dan jamu instan siap minum. Harganya mulai Rp10.000-Rp140.000.

Ramai-ramai Beralih ke Platform Digital

Apa yang dilakoni Susi selama ini, sejalan dengan dorongan pemerintah agar para pelaku UMKM naik kelas. Caranya, tentu dengan beralih ke platform digital. Data dari Kementerian UMKM menyebutkan, sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 61,07 persen.

Pada akhir 2024, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta unit usaha. Angka ini sanggup menyerap 97 persen tenaga kerja. Adapun kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional mencapai 15,7 persen dari total ekspor.

Seperti diketahui, Platform digital merupakan sarana untuk mempertemukan antarindividu atau kelompok melalui internet. Jenis platform digital di antaranya E-commerce, media sosial, keuangan online, transportasi online, dan pendidikan online.

Sangat menarik untuk disimak studi berupa survei yang dilakukan Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) tentang peran platform digital terhadap Pengembangan UMKM di Indonesia.

Melalui siaran pers pada awal 2024, INDEF menyebutkan bahwa sebanyak 33,86 persen UMKM yang semula melakukan penjualan secara konvensional, beralih ke penjualan secara online. Sebanyak 5,12 persen UMKM memanfaatkan platform digital sebagai satu-satunya sarana dalam berjualan.

INDEF juga menyebutkan, dua platform online yang paling banyak digunakan oleh UMKM untuk berjualan adalah aplikasi media sosial (56,30 persen) dan aplikasi e-commerce (47,64 persen).

 “Shopee (50 persen) menjadi platform digital yang paling banyak digunakan oleh responden UMKM untuk berjualan online dalam satu tahun terakhir, diikuti oleh dua aplikasi media sosial lainnya,” tulis INDEF.

Hasil survei INDEF menunjukkan, saat responden hanya dapat memilih satu platform utama untuk berjualan secara online, Shopee  menjadi aplikasi yang paling sering digunakan oleh pelaku UMKM, yakni sebesar (36,22 persen). Peringkat di bawahnya sebesar 18,50 persen, dan aplikasi Online Food Delivery (16,93 persen).

 INDEF juga mencatat bahwa UMKM mengalami peningkatan omzet tahunan dan berhasil menciptakan lapangan kerja baru, setelah melakukan digitalisasi dalam bisnisnya. Peningkatan omzet tahunan rata-rata sebesar 88,37 persen.

Dengan gambaran tersebut, maka para pelaku UMKM yang enggan melakukan transformasi ke ruang digital, sangat dimungkinkan akan mengalami stagnasi.  

Susi Suryani, di akhir wawancara, mengutarakan bahwa sehat itu berawal dari sebuah gawai. Di era serba digital ini, jamu dapat diperoleh dengan hanya meng-klik ‘beli’ di marketplace.

“Jamu tak selalu harus digendong. Melalui platform digital, minuman herbal ini bisa melanglangbuana, tanpa mengurangi cita rasa, dan khasiatnya setara dengan ‘jamu gendong’,” ujarnya.***

 

 

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut