Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Penghasutan, Bareskrim Dalami Laporan JK
Advertisement . Scroll to see content

Ceramah Soal Mati Syahid Berujung Laporan Polisi, Jusuf Kalla: Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 18:42 WIB
  • author Tatang Budimansyah
Ceramah Soal Mati Syahid Berujung Laporan Polisi, Jusuf Kalla: Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan
Jusuf Kalla (JK) saat menggelar konferensi pers di Jakarta terkait ceramah di UGM beberapa waktu lalu. (foto: Ari Sandita Murti/iNews.id)

JAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, angkat bicara setelah dilaporkan ke polisi atas dugaan penistaan agama. Laporan itu berkaitan dengan pernyataannya soal mati syahid dalam ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu.

Merespons tudingan tersebut, JK mengaku tengah mempelajari letak persoalan dari laporan yang ditujukan kepadanya. Ia juga menyampaikan doa agar pihak yang melaporkannya mendapat ampunan.

"Saya sedang mempelajari itu di mana letak (tuduhan). Mudah-mudahan Tuhan Allah memaafkannya, para pemfitnah itu. Wal-fitnatu asyaddu minal-qatl. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, semua memfitnah saya semua," kata JK dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Ia menegaskan, penggunaan istilah syahid dalam ceramahnya tidak lepas dari konteks forum yang dihadirinya, yakni jemaah Muslim di masjid lingkungan kampus. Menurutnya, audiens yang hadir merupakan kalangan terbatas dan memahami konteks pembahasan.

"Menjelaskan tentang ceramah saya, ceramah Ramadan, artinya yang hadir cuma orang Muslim di masjid, di kampus, berarti yang hadir orang intelektual, dan lingkungan terbatas, itu dahulu dipahami," ujarnya.

Dalam ceramah tersebut, JK lebih dulu menampilkan video yang menggambarkan konflik di berbagai daerah di Indonesia, seperti Maluku dan Poso. Ia menyebut kondisi konflik saat itu sangat brutal dan tidak lepas dari sentimen agama.

"Inilah konflik, bagaimana kejamnya waktu itu, paling jahat, paling ganas, inilah. Itu jelas dikatakan tadi (tokoh agama), agama masuk di situ, Islam-Kristen berbuat begitu," tuturnya.

Ia menjelaskan, konflik berbasis agama kerap memicu tindakan kekerasan ekstrem, bahkan melibatkan warga yang sebelumnya hidup berdampingan sebagai tetangga.

"Kami bertiga masuk ke situ untuk menenangkan, anda berani tidak, berani tidak Ade Armando ke situ?" jelasnya.

JK juga menegaskan bahwa dirinya diundang sebagai narasumber dalam ceramah Ramadan 2026 dengan tema utama perdamaian. Dalam paparannya, ia mengurai berbagai jenis konflik, mulai dari konflik global hingga yang terjadi di Indonesia.

"Jadi, saya ingin jelaskan tentang di UGM itu, acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa dilakukan di masjid, saya diundang datang karena temanya perdamaian. Saya jelaskan tentang perdamaian, perdamaian adalah akhir dari konflik, apa itu konflik, akhir dari perdamaian. Kemudian mulai konflik dunia ini, konflik di Eropa, perang dunia pertama saya uraikan," paparnya.

Ia menambahkan, pembahasan konflik karena agama hanya disampaikan secara singkat sebagai bagian dari keseluruhan materi.

"Dan bagaimana konflik di Indonesia, ada konflik karena ideologi di Madiun, ada konflik karena wilayah seperti Tim-Tim, konflik ekonomi seperti di Aceh, saya jelaskan satu per satu. Kemudian 1 menit saja saya bicarakan konflik karena agama," terangnya.

Dalam penjelasannya, JK menyinggung konflik di Poso yang dipicu oleh isu agama, termasuk pemahaman tentang syahid dalam Islam dan martir dalam Kristen.

"Saya mendamaikan ini, apa saya menista agama, saya pertaruhkan jiwa saya masuk ke daerah itu. Saya tahu kenapa dia berbuat begitu, dia pikir ini perang agama (perang suci), siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam, Kristen namanya martir, tapi saya berada di masjid, tidak mengerti martir, karena hampir sama syahid dengan martir, cuma bedanya caranya," ungkapnya.

Ia menegaskan, istilah syahid digunakan karena menyesuaikan dengan audiens di masjid yang dinilai lebih familiar dengan istilah tersebut dibandingkan martir.

"Kalau syahid mati karena membela agama, martir juga begitu mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja, saya di masjid maka saya pakai kata syahid karena kalau saya pakai kata martir jemaah tidak tahu," katanya.

Polemik ceramah tersebut berujung pada laporan ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi lainnya.

 

 

 

 

 

Editor: Iwan Setiawan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut