Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tanamkan Disiplin Lalulintas Sejak Dini, Polwan Purwakarta Gelar Police Goes To School
Advertisement . Scroll to see content

Siswa SMAN 1 Purwakarta Nekat Lecehkan Guru, Purwanto: Disengaja dan Tak Bisa Dibenarkan!

Senin, 20 April 2026 | 12:05 WIB
  • author irwan
Siswa SMAN 1 Purwakarta Nekat Lecehkan Guru, Purwanto: Disengaja dan Tak Bisa Dibenarkan!
Kadisdik Jawa Barat, Purwanto (tengah). (Foto: iNewsPurwakarta.id/Irwan)

PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto mendatangi langsung SMAN 1 Purwakarta, sekolah yang diduga menjadi lokasi perundungan terhadap guru oleh siswa

Purwanto mengatakan, peristiwa yang viral di media sosial itu dipicu dinamika saat pembelajaran berlangsung, namun tindakan para siswa dilakukan secara sengaja.

Purwanto menjelaskan, kejadian bermula saat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang diampu oleh guru bernama Syamsiah atau dikenal dengan Bu Atun.

Saat itu, kata Purwanto, siswa tengah mengerjakan tugas kelompok bertema keberagaman, mulai dari membuat makanan hingga menampilkan seni daerah.

Awalnya, pembagian kelompok telah ditentukan. Namun menjelang presentasi, terjadi perubahan urutan kelompok. Sembilan siswa yang semula mendapat giliran kedua harus bergeser ke sesi terakhir.

"Kelompok ini akhirnya tampil di giliran terakhir. Selama pembelajaran berlangsung, mereka tetap terlihat biasa saja, bahkan sempat berfoto bersama guru," ujar Purwanto usai menjadi pembina upacara di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

Namun, lanjut dia, setelah guru meninggalkan kelas, para siswa tersebut justru melakukan aksi tidak pantas dengan mengacungkan jari tengah dan perilaku melecehkan lainnya, yang kemudian direkam dan viral di media sosial.

Purwanto menegaskan, tindakan tersebut dilakukan secara sengaja meski diduga berawal dari rasa kesal karena perubahan giliran presentasi.

"Tindakan itu jelas disengaja, meskipun mungkin dipicu kekecewaan. Tapi ini tetap tidak bisa dibenarkan," ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, ia mengatakan, Disdik Jawa Barat memastikan para siswa tidak dikeluarkan dari sekolah. Mereka akan menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan, termasuk kegiatan sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Selain itu, ia menyebutkan, para siswa akan mendapatkan pendampingan psikolog, pengawasan guru wali setiap hari, serta evaluasi rutin bersama orang tua setiap minggu.

"Hak pendidikan mereka tetap dipenuhi, tapi harus dibarengi pembinaan agar perilakunya berubah," ucap Purwanto.

Purwanto juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk perilaku siswa saat ini. Ia menilai, perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi sekolah, tetapi juga lingkungan, orang tua, dan teknologi.

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Jabar telah menginstruksikan agar siswa tidak memegang ponsel saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

"Kalau tidak diawasi, anak bisa saja bermain media sosial saat guru mengajar, bahkan bisa live. Ini yang harus dicegah," katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya aturan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, yang seharusnya dibatasi.

Kasus ini disebut menjadi refleksi bersama bagi dunia pendidikan. Purwanto menekankan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan seluruh elemen masyarakat.

"Sebagus apa pun konsepnya, kalau tidak ada konsistensi dari semua pihak, tidak akan berjalan," ujarnya.

Ke depan, Disdik Jabar akan memperketat pengawasan serta memastikan seluruh sekolah menerapkan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah, khususnya terkait penggunaan gawai dan penguatan pendidikan karakter. ***

Editor: Iwan Setiawan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut