Musim Kering Mengancam, Petani Jawa Barat Perkuat Strategi Tanam
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Ancaman musim kering dan cuaca ekstrem tahun ini diperkirakan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian nasional. Risiko kemarau panjang yang mulai mengintai sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian hingga stabilitas pasokan pangan masyarakat apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Sebagai langkah penguatan ketahanan pangan berbasis edukasi dan adaptasi lapangan, ratusan petani di Sukabumi, Jawa Barat mengikuti kegiatan temu lapangan di sentra produksi hortikultura cabai keriting. Kegiatan tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan mengenai strategi budidaya menghadapi musim panas, pengelolaan risiko pertanian, hingga pemanfaatan varietas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Dalam kegiatan itu, para petani mendapatkan edukasi langsung terkait pentingnya perubahan pola budidaya di tengah kondisi iklim yang semakin sulit diprediksi. Materi yang dibahas meliputi pengelolaan air, efisiensi pemupukan, penentuan waktu tanam, hingga pemilihan varietas unggul yang sesuai untuk musim kering.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan yakni benih cabai keriting TANGGUH 77 F1, varietas hibrida yang dirancang adaptif terhadap kondisi musim panas. Varietas ini diklaim memiliki ketahanan terhadap sejumlah ancaman utama seperti virus Gemini (GV), layu bakteri, dan busuk batang yang kerap menyebabkan penurunan produksi cabai saat musim kemarau.
Selain memiliki daya adaptasi yang baik di dataran rendah hingga menengah, TANGGUH 77 F1 juga disebut memiliki potensi hasil mencapai 21 ton per hektare dengan umur panen relatif cepat, sekitar 73–75 hari setelah tanam.
Editor : Iwan Setiawan