Hari ke-10 Kasus Satpam PJT II Tewas Terborgol, Ketua RW : Warga Sempat Dengar Teriakan Minta Tolong
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id - Misteri kematian Sumarna (43), petugas keamanan (satpam) PJT II yang ditemukan tewas dengan kedua tangan terborgol di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, hingga kini masih belum terungkap. Memasuki hari ke-10 penyelidikan, muncul sejumlah keterangan baru dari warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.
Ketua RW 7 Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, mengungkapkan bahwa setelah melakukan pengecekan terhadap lima RT di wilayahnya, tidak ditemukan adanya warga yang hilang ataupun orang asing yang masuk ke lingkungan tersebut pascakejadian.
"Saya sudah mengecek lima RT yang berada di wilayah RW 7. Alhamdulillah tidak ada warga yang hilang, semuanya masih aman dan tidak ada orang yang masuk," ujarnya.
Ia juga memastikan hingga saat ini belum menerima informasi dari aparat kepolisian terkait penangkapan pelaku.
"Sampai saat ini saya selaku Ketua RW belum mendengar informasi pelaku sudah tertangkap," katanya.
Keterangan yang cukup menyita perhatian berasal dari pengakuan sejumlah warga yang mendengar suara keributan pada dini hari sebelum jasad korban ditemukan.
Menurut Ketua RW, seorang warga mendengar suara gaduh seperti orang bertengkar dari arah lokasi kejadian. Sementara warga lainnya mengaku mendengar suara seseorang berteriak meminta pertolongan.
"Ada yang menyampaikan mendengar suara kegaduhan seperti orang ribut. Kemudian ada juga warga yang mendengar suara jeritan minta tolong," ungkapnya.
Namun, tidak ada warga yang berani keluar rumah untuk mengecek sumber suara tersebut karena saat itu kondisi masih gelap menjelang waktu Subuh.
"Yang mendengar tidak berani keluar rumah. Saat dimintai keterangan polisi pun mereka tidak bisa memastikan siapa yang berteriak karena hanya mendengar suaranya saja," jelasnya.
Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal dunia, Ketua RW mengaku sempat berbincang dengan Sumarna.
Dalam pertemuan itu, korban bercerita pernah menegur sekelompok pelaku vandalisme secara baik-baik. Meski demikian, korban tidak pernah mengaku memiliki persoalan atau konflik dengan siapa pun.
"Dia pernah bilang sempat menegur pelaku vandalisme, tetapi baik-baik. Tidak pernah bercerita punya konflik dengan seseorang," tuturnya.
Karena itu, Ketua RW meyakini kasus kematian Sumarna tidak berkaitan dengan aksi vandalisme.
Ketua RW juga membenarkan adanya penemuan alat komunikasi handy talky (HT) milik korban di sekitar lokasi kejadian.
Menurutnya, HT ditemukan berada di atas sebuah perahu yang berada di tepi waduk.
"Yang menemukan pertama saya tidak tahu. Tapi memang benar HT ditemukan di ujung perahu dan kami bersama petugas keamanan mengetahui adanya penemuan itu," ujarnya.
Ia menambahkan, saat mendatangi lokasi penemuan HT, dirinya tidak melihat adanya bekas jejak kaki di sekitar area tersebut.
Informasi lain yang diterimanya menyebutkan, korban masih terlihat beraktivitas sekitar pukul 02.30 WIB.
Seorang warga yang setiap dini hari berbelanja untuk kebutuhan warung mengaku sempat melihat Sumarna berada di sekitar lokasi.
"Menurut informasi yang saya terima, sekitar setengah tiga pagi almarhum masih terlihat sedang melakukan peregangan atau senam ringan," katanya.
Di mata warga, Sumarna dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Selain menjadi petugas keamanan paling senior di posnya, ia juga disebut memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.
"Beliau orangnya baik, paling senior di pos keamanan, jiwa sosialnya tinggi dan hubungan dengan warga juga sangat baik," ungkap Ketua RW.
Hingga kini, Satreskrim Polres Purwakarta masih terus mengusut kasus tersebut. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ulang, memeriksa sejumlah saksi, serta menerjunkan tim Inafis Polda Jawa Barat dan anjing pelacak K-9 guna mengungkap pelaku di balik kematian tragis satpam PJT II tersebut.***
Editor : Iwan Setiawan