Terlepas dari plus atau minus isi orasi, narasi komparatif yang dilontarkan Irvan sebenarnya hal yang lumrah. Apa yang disampaikannya, sesuai dengan jargon yang diusung, yakni gerakan perubahan. Lain soal jika dia adalah bagian dari rezim, tentu tak elok jika dia bersikap kontradiktif.
Dalam kontestasi politik, kompetisi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dengan gamblang bermain psy war, atau bisa memposisikan diri sebagai korban, yakni playing victim. Atau bisa melakukan kombinasi dari keduanya.
Itu pilihan setiap kontestan. Tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang sudah difikirkan secara matang. Apapun pilihan yang diambil, akan selalu membuahkan resistensi dan konsekuensi.
Termasuk juga jargon yang menjadi pilihan, pasti membuahkan konsekuensi. Gerakan perubahan yang diusung Ivan, sejauh ini belum terasa gemanya.
Masyarakat masih menanggapinya secara pasif, atau cenderung apriori. Pada saatnya nanti, jika gerakan itu dihembuskan secara intens, boleh jadi pesan yang disuarakan sampai ke benak masyarakat.
Seperti apa kelak tanggapan masyarakat? Pastilah beragam. Kelompok yang menilai rezim yang saat ini berkuasa buruk, akan berada di garda depan gerakan perubahan.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait