Memasuki masa jelang dan usai Idul Fitri, permintaan simping meningkat drastis. Banyak warga memesan untuk camilan di rumah maupun sebagai buah tangan bagi keluarga yang mudik.
Dalam sehari, Meri bisa memproduksi hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. Sementara pada hari normal, penjualan biasanya meningkat saat tanggal merah atau akhir pekan, ketika wisatawan datang ke Purwakarta untuk berburu oleh-oleh khas daerah.
Jika dahulu simping identik dengan rasa kencur yang otentik, kini variannya semakin beragam. Mulai dari keju, wijen, bawang, pandan, nanas, durian, cokelat, stroberi, nangka, hingga udang.
Bahan baku pembuatannya terdiri dari tepung terigu yang dicampur tapioka, ditambah bawang daun, kencur, dan garam. Adonan yang telah tercampur rata kemudian dicetak menggunakan alat khusus, lalu dipanggang di atas bara api selama beberapa menit hingga matang dan kering. Setelah itu, simping siap dikemas dan dipasarkan.
Untuk harga, satu bungkus simping dijual sekitar Rp9.000. Namun menjelang Lebaran, harganya naik menjadi Rp10.000 per bungkus, seiring meningkatnya harga bahan baku.
Di tengah maraknya camilan modern, para pengrajin di Kampung Kaum terus bertahan demi menjaga warisan kuliner khas daerah. Simping tetap menjadi rasa yang dirindukan, terutama saat momen kebersamaan di Hari Raya.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
