Dalam praktiknya, AMMAN berkolaborasi dengan KUMPUL, lembaga yang bergerak dalam pengembangan ekosistem kewirausahaan dan pemberdayaan usaha rintisan serta UMKM.
“Saya senang dilibatkan dalam Bale Berdaya. Dalam program itu saya memperoleh pelatihan, pembinaan, dan pendampingan secara intensif mulai dari branding, pengelolaan keuangan, legalitas usaha, dan lainnya,” terang Indriani.
Selamat Tinggal Botol Mineral Bekas
Bale Berdaya berperan besar dalam mempertajam naluri bisnis Indriani. Dia jadi lebih bersemangat dan termotivasi setelah ikut program itu. “Karena hobi saya memang jualan. Sejak saat itu saya fokus jualan madu,” imbuhnya.
Indriani tak lagi menggunakan botol mineral bekas untuk kemasan. Perizinan pun dibuat, marketplace dijamah, dan merek dengan nama Quinbi mulai diperkenalkan.
“Jalan yang dibuka AMMAN membuat akses pasar Quinbi makin luas. Produk saya tak lagi dijual hanya di sekitar Desa Lantung, tetapi sudah menyebar ke kota-kota besar,” ungkap Indriani.
Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact PT AMMAN menyebutkan, program Bale Berdaya 2024 berhasil meningkatkan omzet para pelaku UMKM. Jika dirata-ratakan, kenaikannya mencapai 100,2 persen.
Dia mengatakan, sebelum mengikuti program, secara umum persoalan yang kerap ditemukan pada UMKM antara lain pencatatan keuangan yang tak tertib dan identitas merek serta kemasan yang masih lemah.
Kolaborasi PT AMMAN dengan Narasa Indonesia dari Bogor untuk mencetak UMKM yang tangguh. (Dok: AMMAN)
Selain itu, legalitas perizinan belum lengkap, kualitas dan kapasitas produksi belum konsisten, serta pemasarannya pun masih terbatas pada lingkungan sekitar.
“Sebagian UMKM masih berorientasi pada kemampuan membuat produk. Mereka belum memiliki pemahaman yang memadai terkait perhitungan harga pokok produksi, model bisnis, strategi pasar, dan pengembangan jejaring,” terang Aji.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
