get app
inews
Aa Text
Read Next : Godzilla El Nino Diprediksi Landa Indonesia, Kekeringan hingga Banjir Mengintai

Godzilla El Nino Mengancam Indonesia, dari Panas Ekstrem hingga Wabah Penyakit

Senin, 23 Maret 2026 | 19:03 WIB
header img
Fenomena El Nino yang diprediksi muncul pada April 2026. foto: Istimewa

JAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Epidemiolog dari Griffith University, dr Dicky Budiman, mengingatkan bahwa fenomena “Godzilla El Nino” bukan sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan ancaman kesehatan yang kompleks dan berlapis.

Fenomena El Nino yang diprediksi muncul pada April 2026 mulai memicu kekhawatiran serius. Sejumlah pihak bahkan menyebutnya sebagai Godzilla El Nino karena potensi dampaknya yang luas, terutama terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut Dicky, sejumlah lembaga seperti BMKG telah mengingatkan bahwa El Nino berpotensi berkembang dari kondisi lemah menjadi kuat, dengan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Ia menjelaskan, El Nino 2026 dapat memicu berbagai kondisi ekstrem secara bersamaan, mulai dari suhu panas berlebih, kekeringan, penurunan kualitas udara, hingga pola hujan yang tidak menentu. Situasi ini disebutnya sebagai kondisi multi hazard, yakni gabungan ancaman yang berdampak langsung pada kesehatan manusia.

"Ini yang menciptakan kondisi multi hazard namanya, ya. Hazard ini ancaman terhadap atau risiko kesehatan berupa panas, suhu panas, kering, polusi, hujan sporadis. Ini yang sangat kompleks dari perspektif kesehatan masyarakat," jelasnya kepada iNews.id, Senin (23/3/2026).

Salah satu dampak paling terasa adalah meningkatnya polusi udara selama musim kemarau, bahkan hingga melampaui ambang batas aman. Kondisi ini turut memperbesar risiko gangguan kesehatan.

"Risikonya, ya, akibat panas ekstrim tentu adanya heat exhaustion dan juga heat stroke fatal bahkan jika tidak ditangani cepat termasuk dehidrasi berat dan potensi gangguan ginjal akut ketika mengalami dehidrasi," kata Dicky.

Buruknya kualitas udara juga berkontribusi terhadap peningkatan penyakit pernapasan. "Seperti ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, juga penyakit kardiovaskuler," ujarnya.

Tak hanya itu, perubahan lingkungan akibat cuaca ekstrem turut mendorong peningkatan penyakit menular, terutama yang berkaitan dengan air dan vektor.

"Diare akibat kuman leptospirosis atau hepatitis A juga meningkat," tuturnya. "Lalu, demam berdarah juga akan meningkat. Pun malaria, karena kemarau yang panjang," tambah Dicky.

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut