Sengatan Lebah dan Quinbi: Sepenggal Lakon dari Belantara Jaran Pusang
“Saya membeli madu dari Pak Iyaf. Kadang membeli dengan sarangnya, atau madunya saja yang sudah di dalam jeriken,” terang Indriani.

Madu hasil perburuan Iyaf dan kelompoknya kemudian dikemas dengan merek Quinbi. Ada lima pilihan ukuran kemasan, mulai dari 100 ml hingga 1.000 ml.
“Alhamdulillah, dengan memanfaatkan media sosial, madu produk saya sudah dikenal hingga ke luar kota,” ujarnya.
Untuk menarik perhatian pembeli, Quinbi dikemas dengan sangat apik. “Pokoknya harus eye-catching, supaya orang tertarik melihatnya, hehehe,” imbuh Indriani.
Berkenalan dengan Bale Berdaya
Dalam sebulan madu kemasan 1.000 ml seharga Rp300.000, bisa terjual hingga 40 botol. “Setiap bulan selalu terjadi peningkatan jumlah pembeli,” tuturnya.
Rasa madu memang manis. Namun berbisnis madu tidak sekonyong-konyong berbuah manis. Paling tidak, itulah yang dialami Indriani. Manisnya berbisnis cairan kental itu baru dirasakannya sejak 2024. Padahal, dia memulai berjualan sejak 2020.
Awalnya madu dikemas dalam botol air mineral 600 ml, tanpa diberi merek. Benar-benar apa adanya. Pembelinya pun hanya dari Desa Lantung. Tak heran jika jumlah pelanggannya bisa dihitung dengan jari.
“Penghasilan saya waktu itu asal-asalan. Padahal kualitas madunya lebih bagus daripada madu dari lebah yang diternakkan,” kenang Indriani.

Titik balik usaha Indriani terjadi pada 2024. Saat itu dia bergabung dalam program yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
Perusahaan pertambangan tembaga dan emas yang beroperasi di Sumbawa Barat itu meluncurkan Bale Berdaya untuk meningkatkan perekonomian lokal secara berkelanjutan. Program ini merangkul para pelaku UMKM agar naik kelas.
Editor : Iwan Setiawan