Sehari-hari, lelaki berusia 57 tahun ini stand by di outlet yang berlokasi persis di pinggir rumahnya. Adapun Maryam menyambangi para agen dengan motor kesayangannya.
Di tempat kerjanya ini, Solihin membuka pelayanan setiap hari mulai pukul 05.30-17.30 WIB. Namun, tak jarang dia mesti melakukan jemput bola. Betul, Solihin mendatangi rumah nasabah untuk pelayanan-pelayanan pada situasi tertentu.
Yang menarik, kendati jam operasionalnya hanya sampai pukul 17.30, itu bukan berarti Solihin tak melayani nasabah di atas jam tersebut. Sejoli ini belum pernah sekalipun menolak apabila ada nasabah yang mendatangi rumah mereka pada malam hari.
“Sering ada yang datang malam-malam. Pernah suatu malam ada warga yang datang sambil menangis. Dia butuh dana untuk biaya anaknya yang sedang dirawat di rumah sakit,” tutur Maryam. Matanya tampak sedikit berkaca.
“Lelah? Pastinya iya. Tapi rasa lelah itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kepuasan kami untuk bisa menyenangkan orang lain. Makin bermanfaat bagi orang lain, hidup kami terasa makin berarti. Itu komitmen kami,” sambungnya.
“Saking asyiknya kami membantu nasabah, kami jadi tak pernah sempat menikmati hari libur, hehehe…” timpal Solihin setengah berkelakar.
Yang ‘Tertular’ Itu Bernama Rima dan Riham
Nasabah yang datang ke outlet sejoli ini bukan saja warga desa setempat, tapi warga dari desa, bahkan dari kecamatan lain. Malah boleh dikatakan, nasabahnya tersebar di 17 kecamatan. Yang menarik, di samping outlet ada sebuah ruang yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang gadai.
“Ada beberapa warga yang menggadaikan barang di luar kriteria yang ditentukan PT Pegadaian. Outlet kami tetap menampungnya. Barangnya ya disimpan di ruangan itu. Sedangkan barang gadai yang sesuai kriteria, seperti emas dan dokumen berharga, disimpan di kantor cabang,” terang Maryam.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
