JAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam jalur yang aman meskipun hingga akhir Mei tercatat mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau sekitar 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Juni 2026 yang digelar Jumat (5/6/2026), Purbaya merespons berbagai pandangan yang menilai kondisi fiskal Indonesia tengah memburuk. Menurutnya, angka defisit yang terjadi saat ini masih jauh dari level yang mengkhawatirkan.
“Kalau dihitung sederhana, 0,7 persen dalam lima bulan dikalikan sampai setahun, hasilnya sekitar 1,8 persen. Jadi APBN kita amat sangat aman. Jangan dibilang pemerintah mengelola anggaran secara ugal-ugalan,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, kesehatan fiskal nasional juga tercermin dari posisi keseimbangan primer yang masih mencatat surplus sebesar Rp58,6 triliun. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan target awal APBN 2026 yang memperkirakan keseimbangan primer mengalami defisit Rp89,7 triliun.
Menurut Purbaya, surplus keseimbangan primer menjadi indikator penting karena menunjukkan kemampuan pemerintah membiayai pengeluaran negara tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penambahan utang baru. Kondisi itu dinilai memperkuat keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.
Di sisi penerimaan negara, pemerintah berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN tahun ini. Realisasi tersebut meningkat 19,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kinerja penerimaan terbesar masih ditopang sektor perpajakan yang menyumbang Rp958,2 triliun, tumbuh 18,9 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau meningkat 22,1 persen, sedangkan penerimaan dari kepabeanan dan cukai tercatat Rp123,8 triliun, naik 0,7 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga menunjukkan tren positif. Hingga akhir Mei 2026, realisasinya mencapai Rp226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Purbaya menilai capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kondisi penerimaan negara mengalami perbaikan signifikan dibandingkan tahun lalu yang masih dibayangi kontraksi.
“Kita melihat perbaikan yang sangat signifikan. Tahun lalu pajak masih negatif, sekarang tumbuh lebih dari 22 persen. Ini menunjukkan reformasi perpajakan mulai memberikan hasil,” katanya.
Di sisi pengeluaran, belanja negara telah mencapai Rp1.365,4 triliun atau sekitar 35,5 persen dari total pagu APBN 2026. Realisasi tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun.
Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp1.059,3 triliun yang terdiri atas belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp517,7 triliun serta belanja non-kementerian/lembaga Rp541,6 triliun. Adapun transfer ke daerah mencapai Rp306,1 triliun, meski sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski optimistis terhadap kondisi fiskal nasional, Purbaya mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang berpotensi menghambat aktivitas ekonomi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan kemacetan logistik di Pelabuhan Tanjung Priok.
Untuk memastikan persoalan tersebut dapat segera ditangani, ia berencana meninjau langsung kondisi di lapangan.
“Ekonomi sudah bergerak cepat, tetapi masih ada hambatan di lapangan. Besok saya akan ke pelabuhan untuk melihat langsung. Kalau ada yang tidak bisa dibenahi, ya akan kami evaluasi,” tegasnya.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
