Bukan Simsalabim: Di Lingkar Industri IMIP, Dedaunan Berubah Jadi Uang

Tatang Budimansyah
Kelompok Ecoprint Intan Permata memilah dedaunan untuk dijadikan pola yang nantinya menjadi karya seni yang menakjubkan. (Foto: Dok Intan Permata)

Ingatan Susanti (35) meloncat ke sebuah hari pada Desember empat tahun silam. Almanak menunjukkan angka 2022, ketika dia bersama puluhan perempuan lainnya mengikuti pelatihan cara membuat ecoprint. Rupanya, momen itu menjadi awal perjalanan Susanti dalam titian bisnis yang kini dia geluti.

“SEBELUM pelatihan berlangsung, awalnya sih saya nggak berharap yang muluk-muluk. Ya ikut aja. Setelah itu, akan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. Tapi saat pelatihan saya kok jatuh cinta ya dengan kerajinan ecoprint,” ujar Susanti, Rabu, 26 Agustus 2026.

Program yang diprakarsai oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri pengolahan nikel terpadu itu, digelar di Aula Wisata Mangrove, Desa Matansala, Kecamatan Bungku Tengah, Morowali, Sulawesi Tengah. 

Program ini digelar sebagai pengejawantahan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Puluhan ibu rumah tangga dari dua desa dilibatkan, yakni dari Desa Matansala dan Tofuti.

Susanti, pemukim Desa Matansala itu, masih teringat ketika dia begitu antusias mengikuti semua materi yang diberikan seorang instruktur.

Tak tanggung-tanggung, instrukturnya bukanlah sosok kaleng-kaleng. Dia adalah Ni Nyoman Yeni Susanti, pakar ecoprint pendiri brand Griya Anyar Dewata asal Kabupaten Badung, Bali.

“Ini menunjukkan bahwa program ini bukan hanya untuk ‘menggugurkan kewajiban’ IMIP dalam menjalankan CSR-nya. Tapi perusahaan ini benar-benar ingin memberdayakan kaum ibu,” tutur Susanti.

Ibu dari tiga anak itu mengaku sangat enjoy saat Ni Nyoman Yeni Susanti memaparkan materi pelatihan. Sesi demi sesi. Mulai dari definisi ecoprint, hingga praktik menerapkan pola dari daun di secarik kain.

“Senang banget diberi kesempatan ikut dalam program ini,” ujar Susanti yang juga tercatat sebagai anggota BPD di desanya itu.

Berawal dari situlah dia mulai menggeluti kerajinan ecoprint. Ya, kerajinan yang menghasilkan karya seni dari teknik memberi pola dan warna pada media seperti kain, dengan memanfaatkan bahan alami.

Kerajinan ini sangat ramah lingkungan karena menggunakan bagian tumbuhan seperti daun atau bunga untuk dijadikan polanya. 

Atas konsistensinya dalam menggeluti kerajinan ecoprint, Susanti diberi kepercayaan sebagai Ketua Kelompok Ecoprint Intan Permata sejak 2023. “Saat ini anggota Intan Permata berjumlah 15 orang. Semuanya aktif, alhamdulillah” terangnya.


Tangan-tangan cekatan Kelompok Ecoprint Intan Permata membuat mug menjadi tampak cantik dan menarik. (Foto: Dok Intan Permata)

 

Kini, bagi Susanti dan para anggota Intan Permata, tiada hari tanpa berkutat dengan lembaran kain dan dedaunan.  Bagi mereka, menciptakan karya ecoprint bukan lagi sekadar hobi, tapi sudah menjadi sumber rezeki tambahan.

Mereka mengaku bersyukur karena IMIP yang menjadi pusat aktivitas hilirisasi nikel nasional itu, tak lepas tangan begitu saja setelah pelatihan rampung digelar.

Susanti berujar, IMIP secara terus-menerus memberikan pendampingan dan pembinaan kepada Intan Permata. Kelompok ini juga mendapat sokongan berupa pemberian alat produksi seperti dandang, kompor, dan mesin jahit.

Tak hanya itu, IMIP juga kerap menggelar upaya peningkatan kapasitas, dengan materi di antaranya berupa teknik pemasaran, pengelolaan keuangan, dan branding.

“Dalam setiap even, seperti pameran atau sejenisnya, kami selalu dilibatkan. Jadi, kami tak pernah berhenti berproduksi,” tutur Susanti.

Kebersamaan yang Menghasilkan Uang

Yang membahagiakan, lanjut Susanti, sejak beberapa bulan silam IMIP sudah secara kontinu memesan hasil kerajinan ecoprint Intan Permata. Produk yang biasanya dipesan berupa tas goni, tumbler atau mug.

“Ya, biasanya jika perusahaan sedang mengadakan even, ada karyawan yang sedang berulang tahun, atau ketika ada tamu, ecoprint kami dipesan untuk cendera mata,” imbuh ibu dari tiga anak itu.

Produk yang dihasilkan Intan Permata di antaranya berupa tas kain goni, tumbler, gelas keramik, kipas bambu, dan topi. Harga produk tersebut berkisar antara Rp50.000-Rp200.000.

“Seingat saya, sudah delapan kali IMIP memesan produk Intan Permata. Juni kemarin pesan 150 buah gelas keramik. Alhamdulillah. Seperti biasa, keuntungan dari hasil penjualannya dibagikan kepada para anggota. Dalam sekali produksi, setiap anggota kelompok bisa mengantongi hingga Rp1.650.000,” ujar Susanti.

Amran Boli, Kepala Desa Matansala mengaku salut dengan kiprah para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Ecoprint Intan Permata. Sejak diberi kesempatan oleh IMIP berupa pelatihan membuat ecoprint, mereka konsisten menjalankan usahanya.  

Intan Permata berkumpul bukan untuk mengobrol ngalor-ngidul membahas sesuatu yang tak karuan, “Kebersamaan mereka menghasilkan uang. Lumayan untuk menambah penghasilan,” ujar Amran, 30 Agustus 2026.

Sokongan Amran ditunjukkan dengan merelakan rumah orang tuanya untuk dijadikan sebagai tempat produksi bagi Intan Permata.

Menurut Amran, sebenarnya tempat paling ideal untuk rumah produksi adalah aula Wisata Mangrove. Di sana, di samping menikmati keindahan pantai Matansala, para pengunjung wisata bisa menyaksikan proses pembuatan ecoprint. Itu akan menjadi daya tarik tersendiri.

Sangat disayangkan karena sejak 2025 lokasi wisata tersebut untuk sementara ditutup. Penyebabnya, jembatan sepanjang lebih dari 100 meter untuk trekking di kawasan tersebut rusak sejak 2024.

“Kalau boleh berharap, semoga IMIP segera turun tangan untuk membantu memperbaikinya. Soalnya tempat itu cocok untuk mempromosikan produk ecoprint Intan Permata,” ujar Amran.

Ikhwal kegiatan Kelompok Ecoprint Intan Permata, Amran mengaku selama ini relatif lancar tanpa kendala berarti. “Dari sisi produksi bagus. Jalan terus. Mereka makin terampil membuat ecoprint,” ujarnya.  

Kendati demikian, ada sedikit ganjalan yang diyakini akan terpecahkan jika IMIP turun tangan, “Harga ecoprint Intan Permata belum terjangkau oleh semua kalangan. Masih dianggap mahal. Ini karena harga bahan bakunya, terutama tas, juga cukup mahal,” terang Amran.  

Dia mengatakan, selama ini Intan Permata membeli bahan baku berupa tas yang sudah jadi, bukan lembaran kain.

“Saya berharap ke depan Intan Permata mendapat pelatihan menjahit supaya terampil membuat tas. Dengan begitu, harga jual produknya makin terjangkau dan pemasarannya pun akan meluas,” ujar Amran.

UMKM Serap Ribuan Tenaga Kerja

Kelompok Ecoprint Intan Permata hanya satu dari ribuan unit usaha yang tumbuh di tengah geliat ekonomi kawasan industri IMIP.

Upaya pemberdayaan masyarakat melalui program CSR merupakan komitmen IMIP untuk tumbuh selaras dengan masyarakat di tengah pesatnya industrialisasi.

“Tujuannya untuk menjaga hubungan harmonis dengan warga sekitar,” demikian diungkapkan Head of Department Community Development & CSR PT IMIP, R. Tommy Adi Prayogo.

“Inisiatif ini difokuskan sebagai investasi strategis untuk mengatasi tantangan sosial-ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan melalui kemandirian ekonomi, memperkuat infrastruktur dan kualitas hidup, serta memitigasi risiko kesenjangan,” paparnya. 

Atas komitmennya dalam menjalankan CSR, IMIP menyabet sejumlah penghargaan. Terbaru, dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 di Solo pada 6 Agustus 2026, perusahaan ini menyabet tiga penghargaan, yakni:

  • Silver Award Kategori Economic Empowerment melalui program pemberdayaan ekonomi kreatif ecoprint bertajuk Jejak Alam dalam Kain.
  • Bronze Award Kategori Health Quality Improvement melalui program Gerakan Masyarakat Sehat.
  • Bronze Award Kategori Education melalui program peningkatan mutu pendidikan berkelanjutan di Sekolah Terpadu IMIP.

Sebelumnya, pada April 2026 di ajang Nusantara CSR Awards (NCSRA) ke-17 tahun 2026, IMIP meraih penghargaan predikat Platinum sebagai salah satu perusahaan penggerak utama implementasi CSR terbaik nasional.


PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada April 2026 meraih penghargaan Nusantara CSR Awards (NCSRA) predikat Platinum berkat program pemberdayaan masyarakat dan Kesehatan. (Dok IMIP)

 

Dilansir dari situs resmi IMIP, Tim Research and Support Department Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP mencatat bahwa sektor kuliner menjadi kategori usaha terbesar di Kecamatan Bahodopi.

Per Oktober 2025, tercatat sebanyak 2.107 unit usaha (26 persen) dari total 7.643 unit UMKM. Dari 2.107 unit kuliner, di dalamnya termasuk 111 kafe dan restoran. Jumlah UMKM yang mencapai ribuan tersebut, berhasil menyerap 16.705 orang tenaga kerja lokal.

Sekitar 43 km dari rumah Susanti, ada sosok bernama Nicolas Hamdani (35), pemilik kedai kopi yang membuka usahanya di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Desa/Kecamatan Bahodopi.

Boleh jadi antara Susanti dan Nicolas tak saling mengenal, apalagi berinteraksi. Namun, keduanya sama-sama merasakan berkah atas keberadaan PT IMIP.

Nico, sapaan akrab Nicolas Hamdani, termasuk sosok yang cerdas membaca peluang bisnis. Lelaki yang bekerja di sebuah perusahaan di Desa Lalampu sebagai general manager itu meyakini bahwa kawasan sekitar industri adalah ladang cuan.


Kehadiran PT IMIP menjadi berkah bagi para pelaku usaha, seperti yang dirasakan oleh Nico Hamdani, pemilik Waroeng Kopi Boss. (Foto: dok WKB)
 

Naluri bisnisnya terus menggelitik hingga pada 2 Agustus 2025 dia memutuskan membuka kedai dengan nama Waroeng Kopi Boss. Benar saja, naluri bisnis Nico nyatanya tak meleset. Waroeng Kopi Boss tak pernah sepi dari pengunjung.

“Saya bisa pastikan, keberadaan industri akan   selalu berpengaruh terhadap berbagai lini usaha di sekitarannya,” tandas Nico, Kamis, 27 Agustus 2026.

Dia tak menampik bahwa kehadiran PT IMIP berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan geliat ekonomi warga di sekitar kawasan industri.

Nico mengungkapkan, pada awal Waroeng Kopi Boss dibuka, kondisi di kawasan industri sudah berkembang pesat. “Di sekitar kami sudah banyak toko bangunan, sejumlah kantor kontraktor, dan rumah-rumah kos,” terangnya.

Dia menambahkan, kondisi ekonomi masyarakat ikut berubah karena sebagian besar sudah memperoleh pekerjaan, yakni menjadi karyawan PT IMIP.

Bahwa Waroeng Kopi Boss tak pernah sepi dari pengunjung, bukanlah isapan jempol belaka. Lihat saja, para karyawan IMIP dan warga sekitar, mulai dari pekerja lapangan hingga kantoran menjadi langganannya.

Nico enggan mengungkapkan berapa omzet yang diraupnya. Namun yang pasti per hari lebih dari seratus cangkir kopi dia sajikan untuk para pelanggannya itu.

“Pelanggan saya sebagian besar adalah pekerja IMIP. Selain itu, pelanggan saya yang lainnya yakni para pemilik usaha di sekitar sini, juga warga lokal. Tanggal muda dan akhir pekan biasanya lebih ramai,” terang Nico.

Bidang Usaha pun Bermunculan

Untuk melayani para pelanggan setianya, Nico mempekerjakan delapan orang pegawai, “Melihat bisnis ini cukup prospektif, jika Tuhan berkehendak saya dan istri berencana membuka cabang take away di SPBU Bahodopi,” imbuhnya.

Dia menuturkan, selain kedai dan rumah makan, bidang usaha lain pun ikut tumbuh karena adanya aktivitas industri IMIP, “Bisnis kuliner makin menjamur, belum lagi toko-toko bangunan, pakaian, dan pasar-pasar kecil. Pokoknya perputaran uang di sekitar kawasan IMIP keren abis,” terangnya.

Bagi Nico, IMIP sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi sekitar. “Saya katakan demikian karena sebagian besar yang menumbuhkan perekonomian itu adalah mereka yang bekerja dan beraktivitas di dalam kawasan itu,” tandasnya.


Sejumlah karyawan PT IMIP tengah menikmati seduhan kopi dan aneka camilan di Waroeng Kopi Boss. (Foto: Dok WKB)
 

Ikhwal tenaga kerja, Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar memaparkan bahwa per Juli 2026 jumlah tenaga kerja aktif di kawasan IMIP mencapai 97.427 orang. Sedangkan tenaga kerja alih daya yang bekerja di sejumlah perusahaan kontraktor dan jasa sebanyak 20.000 orang.

Dari jumlah tenaga kerja aktif, sebanyak 90.405 orang (92 persen) berasal dari Sulawesi. Adapun tenaga kerja dari Sulawesi Tengah tercatat lebih dari 30 ribu, dengan rincian 17 ribu dari Morowali dan 10 ribu dari Bahodopi.

Pertumbuhan industri di Morowali, khususnya di IMIP, berimbas kepada berkembangnya sektor ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah. Sepanjang Juni 2025 hingga Juli 2026, ada kenaikan serapan tenaga kerja sebesar 13,53 persen.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan jumlah angkatan kerja formal di Sulawesi Tengah, dari 477,2 ribu orang pada Agustus 2023, menjadi 500,1 ribu orang pada 2024. Jumlah tersebut kembali mengalami peningkatan pada Agustus 2025 menjadi 525,8 ribu orang.

“Perkembangan industri pengolahan di Morowali mendorong adanya pergeseran struktur ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah, dari sektor pertanian dan perikanan ke sektor industri,” ujar Emilia.

Dia menambahkan, keberadaan Kawasan IMIP juga berdampak terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi daerah. “Sektor industri pengolahan tercatat menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di provinsi ini,” terangnya.

Dalam upayanya memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM), PT IMIP menggelar program magang, pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi/lembaga pendidikan vokasi.


Perkembangan jumlah tenaga kerja PT IMIP tahun 2020-2026. (Infografis: tatang budimansyah/AI)
 

Penggerak Utama Perputaran Uang

Dengan fakta yang dipaparkan Emilia tersebut, tak berlebihan jika Nico mengajak warga di sekitar kawasan industri tidak menyia-nyiakan peluang bisnis yang membentang di depan mata.

Menurutnya, siapa pun harus memanfaatkan kehadiran kawasan industri. Seberapa besar manfaatnya, tergantung bagaimana seseorang meresponsnya dalam membaca peluang.

Membaca peluang? Benar. Ujaran yang dilontarkan Nico memang tepat. Sejak IMIP beroperasi, perusahaan pengolahan nikel terintegrasi ini telah mampu mengubah wajah Bahodopi.

Hingga akhir 2025, terjadi pertumbuhan ekonomi di kecamatan ini. Pola konsumsi harian warga yang didominasi karyawan kawasan IMIP, berpengaruh terhadap terjadinya pertumbuhan tersebut.

Fakta ini terungkap ketika tim Research and Support Department Secretariat General Affair PT IMIP melakukan survei. Hasil survei menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran warga mencapai Rp5.750.880 setiap bulan.

Pada September 2025, jumlah karyawan sebanyak 86.804 orang. Dengan demikian, perputaran uang di Bahodopi mencapai Rp499,1 miliar per bulan.

“Belanja harian karyawan IMIP menjadi penggerak utama perputaran uang, hingga mampu menstimulasi muncul dan tumbuhnya UMKM,” terang Media Relations Head PT IMIP, Dedy Kurniawan.

Dia menambahkan, kehadiran UMKM yang tersebar di lingkar industri IMIP menjadi penyedia utama kebutuhan warga.

“Sebagian besar warga berbelanja kebutuhan sehari-hari di kios atau warung lokal. Ini dipengaruhi oleh faktor kedekatan lokasi dari tempat tinggal. Lebih cepat dan mudah dijangkau,” imbuh Dedy.

Dikatakannya bahwa lonjakan populasi pekerja di sekitar kawasan setiap tahun menciptakan kestabilan konsumsi kebutuhan dasar warga. Kondisi ini melahirkan banyak peluang baru, di antaranya usaha kuliner, kios harian, laundry, dan transportasi.


Sejumlah Karyawan PT IMIP turut berperan dalam menggeliatnya denyut ekonomi di Kecamatan Bahodopi. (Dok IMIP)

 

Dedy menjelaskan bahwa pola konsumsi yang konsisten membantu pelaku usaha lokal memperoleh arus pendapatan secara berkelanjutan.

Tingginya kebutuhan pokok tenaga kerja di kawasan industri IMIP menciptakan pola ekonomi yang saling bergantung, antara kebutuhan konsumsi dan ketersediaan barang serta jasa lokal.

“Rantai ekonomi ini berjalan setiap hari dan terjadi peningkatan jumlah usaha secara kontinu setiap tahun,” tuturnya.

Jalan Bagus, Perputaran Ekonomi Lancar

Kelancaran bisnis di lingkar industri IMIP ditopang dengan infrastruktur jalan yang memadai. Lagi-lagi, melalui CSR-nya, IMIP punya peran dalam hal ini.

“Kondisi jalan berpengaruh terhadap kelancaran aktivitas masyarakat sehari-hari. Terutama ketika makin pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri,” terang Ben R Mahesa, Staf Pilar Sosial & Infrastruktur pada Department Community Development & CSR PT IMIP.

Oleh karena itu IMIP merasa terpanggil untuk ikut andil dalam perbaikan infrastruktur, “Jalan yang bagus akan memperlancar mobilitas, distribusi barang, akses ke tempat usaha, serta memangkas waktu dan biaya perjalanan,” ujarnya.

Ben melanjutkan, setelah jalan diperbaiki muncul usaha-usaha baru di sepanjang jalan tersebut. Sebut saja misalnya warung, toko, dan rumah kos.


Pembuatan U-ditch sebagai bagian dari CSR IMIP untuk kelancaran drainase. (Foto: Dok IMIP)
 

Selain berdampak terhadap lancarnya perputaran ekonomi, perbaikan jalan juga berdampak terhadap kemudahan mobilitas para pekerja menuju kawasan industri.

Beberapa wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau, sekarang menjadi lebih mudah diakses, terutama permukiman desa dan area yang agak jauh dari pusat industri.

“Dampaknya, mobilitas warga menjadi lebih mudah dan cepat. Akses ke sekolah, fasilitas kesehatan, tempat kerja, dan ke pusat usaha menjadi lebih lancar,” imbuh Ben.

Susanti, Nico, dan ribuan warga lainnya di sekitar kawasan industri IMIP, boleh jadi tak saling mengenal. Tak saling berinteraksi. Nico dan istri tercintanya sibuk meracik kopi yang dipesan para pelanggan setianya.

Sementara Susanti dan para anggota Kelompok Ecoprint Intan Permata asyik membuat pola dan motif dari berbagai jenis dedaunan di permukaan tumbler, topi, atau tas kain goni.  

Sesekali mereka bersenda gurau. Larut dalam kebersamaan. Berbagai jenis dedaunan yang ada di hadapan mereka, sebentar lagi akan menjadi lembar-lembar rupiah. Mereka tak perlu menggunakan mantra Simsalabim.***    

 

Editor : Iwan Setiawan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network