Angka Gangguan Bicara pada Anak Prasekolah di Indonesia Masih Tinggi
PURWAKARTA, iNewsPurwakarta.id – Angka gangguan bicara dan bahasa pada anak usia prasekolah di Indonesia tergolong masih tinggi. Berdasarkan survei Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2023, prevalensi gangguan bicara dan bahasa pada kelompok usia tersebut mencapai 5–8 persen.
Gangguan kemampuan berbahasa tidak hanya memengaruhi cara anak berkomunikasi, tetapi juga berdampak pada kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, membangun hubungan sosial, hingga mengembangkan keterampilan hidup.
Karena itu, penanganan sejak dini dinilai menjadi faktor penting agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Secara teoritis maupun empiris, penanganan anak berkebutuhan khusus memerlukan kolaborasi antara tenaga profesional, guru, dan keluarga. Atas dasar itu, orang tua perlu dibekali keterampilan agar mampu memberikan pendampingan dan intervensi yang tepat di lingkungan rumah.
Hal itulah yang melatarbelakangi Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar pelatihan bagi orang tua yang memiliki anak dengan hambatan berbahasa dan berkomunikasi.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam menyusun dan menerapkan program intervensi berbasis keluarga agar perkembangan kemampuan komunikasi anak dapat lebih optimal,” ujar Ketua tim pelaksana pelatihan, Ismawati Kosasih, M.Si.
Editor : Iwan Setiawan