Bukan Simsalabim: Di Lingkar Industri IMIP, Dedaunan Berubah Jadi Uang
Sangat disayangkan karena sejak 2025 lokasi wisata tersebut untuk sementara ditutup. Penyebabnya, jembatan sepanjang lebih dari 100 meter untuk trekking di kawasan tersebut rusak sejak 2024.
“Kalau boleh berharap, semoga IMIP segera turun tangan untuk membantu memperbaikinya. Soalnya tempat itu cocok untuk mempromosikan produk ecoprint Intan Permata,” ujar Amran.
Ikhwal kegiatan Kelompok Ecoprint Intan Permata, Amran mengaku selama ini relatif lancar tanpa kendala berarti. “Dari sisi produksi bagus. Jalan terus. Mereka makin terampil membuat ecoprint,” ujarnya.
Kendati demikian, ada sedikit ganjalan yang diyakini akan terpecahkan jika IMIP turun tangan, “Harga ecoprint Intan Permata belum terjangkau oleh semua kalangan. Masih dianggap mahal. Ini karena harga bahan bakunya, terutama tas, juga cukup mahal,” terang Amran.
Dia mengatakan, selama ini Intan Permata membeli bahan baku berupa tas yang sudah jadi, bukan lembaran kain.
“Saya berharap ke depan Intan Permata mendapat pelatihan menjahit supaya terampil membuat tas. Dengan begitu, harga jual produknya makin terjangkau dan pemasarannya pun akan meluas,” ujar Amran.
UMKM Serap Ribuan Tenaga Kerja
Kelompok Ecoprint Intan Permata hanya satu dari ribuan unit usaha yang tumbuh di tengah geliat ekonomi kawasan industri IMIP.
Upaya pemberdayaan masyarakat melalui program CSR merupakan komitmen IMIP untuk tumbuh selaras dengan masyarakat di tengah pesatnya industrialisasi.
“Tujuannya untuk menjaga hubungan harmonis dengan warga sekitar,” demikian diungkapkan Head of Department Community Development & CSR PT IMIP, R. Tommy Adi Prayogo.
“Inisiatif ini difokuskan sebagai investasi strategis untuk mengatasi tantangan sosial-ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan melalui kemandirian ekonomi, memperkuat infrastruktur dan kualitas hidup, serta memitigasi risiko kesenjangan,” paparnya.
Editor : Iwan Setiawan