Bukan Simsalabim: Di Lingkar Industri IMIP, Dedaunan Berubah Jadi Uang
Pada September 2025, jumlah karyawan sebanyak 86.804 orang. Dengan demikian, perputaran uang di Bahodopi mencapai Rp499,1 miliar per bulan.
“Belanja harian karyawan IMIP menjadi penggerak utama perputaran uang, hingga mampu menstimulasi muncul dan tumbuhnya UMKM,” terang Media Relations Head PT IMIP, Dedy Kurniawan.
Dia menambahkan, kehadiran UMKM yang tersebar di lingkar industri IMIP menjadi penyedia utama kebutuhan warga.
“Sebagian besar warga berbelanja kebutuhan sehari-hari di kios atau warung lokal. Ini dipengaruhi oleh faktor kedekatan lokasi dari tempat tinggal. Lebih cepat dan mudah dijangkau,” imbuh Dedy.
Dikatakannya bahwa lonjakan populasi pekerja di sekitar kawasan setiap tahun menciptakan kestabilan konsumsi kebutuhan dasar warga. Kondisi ini melahirkan banyak peluang baru, di antaranya usaha kuliner, kios harian, laundry, dan transportasi.

Dedy menjelaskan bahwa pola konsumsi yang konsisten membantu pelaku usaha lokal memperoleh arus pendapatan secara berkelanjutan.
Tingginya kebutuhan pokok tenaga kerja di kawasan industri IMIP menciptakan pola ekonomi yang saling bergantung, antara kebutuhan konsumsi dan ketersediaan barang serta jasa lokal.
“Rantai ekonomi ini berjalan setiap hari dan terjadi peningkatan jumlah usaha secara kontinu setiap tahun,” tuturnya.
Jalan Bagus, Perputaran Ekonomi Lancar
Kelancaran bisnis di lingkar industri IMIP ditopang dengan infrastruktur jalan yang memadai. Lagi-lagi, melalui CSR-nya, IMIP punya peran dalam hal ini.
“Kondisi jalan berpengaruh terhadap kelancaran aktivitas masyarakat sehari-hari. Terutama ketika makin pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri,” terang Ben R Mahesa, Staf Pilar Sosial & Infrastruktur pada Department Community Development & CSR PT IMIP.
Oleh karena itu IMIP merasa terpanggil untuk ikut andil dalam perbaikan infrastruktur, “Jalan yang bagus akan memperlancar mobilitas, distribusi barang, akses ke tempat usaha, serta memangkas waktu dan biaya perjalanan,” ujarnya.
Ben melanjutkan, setelah jalan diperbaiki muncul usaha-usaha baru di sepanjang jalan tersebut. Sebut saja misalnya warung, toko, dan rumah kos.

Selain berdampak terhadap lancarnya perputaran ekonomi, perbaikan jalan juga berdampak terhadap kemudahan mobilitas para pekerja menuju kawasan industri.
Beberapa wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau, sekarang menjadi lebih mudah diakses, terutama permukiman desa dan area yang agak jauh dari pusat industri.
“Dampaknya, mobilitas warga menjadi lebih mudah dan cepat. Akses ke sekolah, fasilitas kesehatan, tempat kerja, dan ke pusat usaha menjadi lebih lancar,” imbuh Ben.
Susanti, Nico, dan ribuan warga lainnya di sekitar kawasan industri IMIP, boleh jadi tak saling mengenal. Tak saling berinteraksi. Nico dan istri tercintanya sibuk meracik kopi yang dipesan para pelanggan setianya.
Sementara Susanti dan para anggota Kelompok Ecoprint Intan Permata asyik membuat pola dan motif dari berbagai jenis dedaunan di permukaan tumbler, topi, atau tas kain goni.
Sesekali mereka bersenda gurau. Larut dalam kebersamaan. Berbagai jenis dedaunan yang ada di hadapan mereka, sebentar lagi akan menjadi lembar-lembar rupiah. Mereka tak perlu menggunakan mantra Simsalabim.***
Editor : Iwan Setiawan