get app
inews
Aa Text
Read Next : Bupati Purwakarta Salahgunakan Dana CSR? Ini Kata Ketua Forum TJSLP

Bukan Simsalabim: Di Lingkar Industri IMIP, Dedaunan Berubah Jadi Uang

Senin, 31 Agustus 2026 | 14:43 WIB
header img
Kelompok Ecoprint Intan Permata memilah dedaunan untuk dijadikan pola yang nantinya menjadi karya seni yang menakjubkan. (Foto: Dok Intan Permata)

Ingatan Susanti (35) meloncat ke sebuah hari pada Desember empat tahun silam. Almanak menunjukkan angka 2022, ketika dia bersama puluhan perempuan lainnya mengikuti pelatihan cara membuat ecoprint. Rupanya, momen itu menjadi awal perjalanan Susanti dalam titian bisnis yang kini dia geluti.

“SEBELUM pelatihan berlangsung, awalnya sih saya nggak berharap yang muluk-muluk. Ya ikut aja. Setelah itu, akan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. Tapi saat pelatihan saya kok jatuh cinta ya dengan kerajinan ecoprint,” ujar Susanti, Rabu, 26 Agustus 2026.

Program yang diprakarsai oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri pengolahan nikel terpadu itu, digelar di Aula Wisata Mangrove, Desa Matansala, Kecamatan Bungku Tengah, Morowali, Sulawesi Tengah. 

Program ini digelar sebagai pengejawantahan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Puluhan ibu rumah tangga dari dua desa dilibatkan, yakni dari Desa Matansala dan Tofuti.

Susanti, pemukim Desa Matansala itu, masih teringat ketika dia begitu antusias mengikuti semua materi yang diberikan seorang instruktur.

Tak tanggung-tanggung, instrukturnya bukanlah sosok kaleng-kaleng. Dia adalah Ni Nyoman Yeni Susanti, pakar ecoprint pendiri brand Griya Anyar Dewata asal Kabupaten Badung, Bali.

“Ini menunjukkan bahwa program ini bukan hanya untuk ‘menggugurkan kewajiban’ IMIP dalam menjalankan CSR-nya. Tapi perusahaan ini benar-benar ingin memberdayakan kaum ibu,” tutur Susanti.

Ibu dari tiga anak itu mengaku sangat enjoy saat Ni Nyoman Yeni Susanti memaparkan materi pelatihan. Sesi demi sesi. Mulai dari definisi ecoprint, hingga praktik menerapkan pola dari daun di secarik kain.

“Senang banget diberi kesempatan ikut dalam program ini,” ujar Susanti yang juga tercatat sebagai anggota BPD di desanya itu.

Berawal dari situlah dia mulai menggeluti kerajinan ecoprint. Ya, kerajinan yang menghasilkan karya seni dari teknik memberi pola dan warna pada media seperti kain, dengan memanfaatkan bahan alami.

Kerajinan ini sangat ramah lingkungan karena menggunakan bagian tumbuhan seperti daun atau bunga untuk dijadikan polanya. 

Atas konsistensinya dalam menggeluti kerajinan ecoprint, Susanti diberi kepercayaan sebagai Ketua Kelompok Ecoprint Intan Permata sejak 2023. “Saat ini anggota Intan Permata berjumlah 15 orang. Semuanya aktif, alhamdulillah” terangnya.


Tangan-tangan cekatan Kelompok Ecoprint Intan Permata membuat mug menjadi tampak cantik dan menarik. (Foto: Dok Intan Permata)

 

Kini, bagi Susanti dan para anggota Intan Permata, tiada hari tanpa berkutat dengan lembaran kain dan dedaunan.  Bagi mereka, menciptakan karya ecoprint bukan lagi sekadar hobi, tapi sudah menjadi sumber rezeki tambahan.

Mereka mengaku bersyukur karena IMIP yang menjadi pusat aktivitas hilirisasi nikel nasional itu, tak lepas tangan begitu saja setelah pelatihan rampung digelar.

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut