Awalnya, hanya terlihat retakan pada bangunan. Namun, dalam waktu tiga hari, pergeseran tanah semakin parah hingga mendorong bagian tengah perpustakaan.
“Pagi-pagi saya kaget melihat bangunannya retak. Awalnya belum terlalu parah, tapi tiga hari kemudian kerusakannya semakin besar. Bagian tengah bangunan terdorong tanah sehingga sekarang kondisinya miring dan tidak stabil. Karena bangunannya dari bata, sangat berbahaya jika dipakai,” ujar Romli, Jumat (7/8/2026).
Sejak kejadian itu, seluruh aktivitas literasi di dalam gedung dihentikan.
Padahal, perpustakaan tersebut selama ini menjadi salah satu ruang belajar alternatif bagi masyarakat Desa Pasanggrahan.
Perpustakaan itu bermula dari gerakan swadaya masyarakat. Pada 2021, Romli bersama komunitasnya mendirikan Komunitas Literasi Anak Desa.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
