Sebab, bagi warga Pasanggrahan, yang hilang akibat bencana bukan sekadar sebuah bangunan.
Ada ruang belajar, tempat bermain, tempat bertemu, sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak yang kini terpaksa kehilangan rumah literasinya.
“Kami ingin kembali berkontribusi untuk masyarakat, terutama anak-anak. Mudah-mudahan ada perhatian dari para pemangku kebijakan dan BUMN yang ada di sekitar agar perpustakaan ini bisa berdiri lagi dan kegiatan literasi kembali berjalan,” ujar Romli.***
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
