Meski gedungnya rusak, Romli dan para relawan tidak ingin aktivitas membaca ikut mati.
Ribuan buku kemudian dipindahkan ke sejumlah posyandu yang tersebar di setiap dusun.
Posyandu disulap menjadi pojok baca sederhana. Masing-masing titik menampung sekitar 50 buku agar warga tetap dapat mengakses bahan bacaan.
“Sayang kalau buku hanya disimpan. Akhirnya kami bekerja sama dengan posyandu di setiap dusun. Buku-buku kami bagi supaya masyarakat tetap bisa membaca meski perpustakaan tidak bisa dipakai,” ujarnya.
Namun, langkah tersebut belum mampu menggantikan fungsi perpustakaan secara utuh.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
