Dalam Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) 2024, disebutkan bahwa program Mekar Bestie adalah bukti dari kepedulian Elnusa atas pelestarian lingkungan dalam pengolahan sampah daur ulang.
Elnusa mengajak difabel yang disebutnya sebagai ‘Sahabat Istimewa’ untuk menghasilkan karya dari olahan limbah plastik yang memiliki nilai jual.
“Sehari-hari, Khaidar membuat kreasinya itu seusai pulang sekolah, setiap Rabu dan Kamis. Tapi jika ada orderan dari Elnusa, dia lebih bersemangat. Setiap hari dia menjahit, malah pada hari Minggu pun kadang dia ada di sheltered workshop,” tutur Lia.
Untuk menunjang kegiatan produksi, imbuh Lia, Elnusa menyokongnya dengan memberi bantuan berupa alat produksi seperti mesin jahit dan bordir.
“Elnusa memberi jalan, tinggal bagaimana anak-anak memanfaatkannya. Nyatanya, semua siswa di sini tak menyia-nyiakan kesempatan itu,” tambah Lia.
Kekuatan yang Tumbuh dalam Kebersamaan Nasib
Selama menjadi pengajar dan pembimbing di YPLB Nusantara, Lia mengaku tak pernah merasakan duka atau mengalami hal yang tak mengenakkan.
Baginya, setiap waktu berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus memiliki keasyikan tersendiri. Lia mengaku banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik.
Ya, pelajaran tentang kasih sayang terhadap sesama, dan tentang kekuatan yang tumbuh dalam kebersamaan nasib.
Saat ini YPLB Nusantara menampung 124 orang berkebutuhan khusus. Selain itu, ada 35 anak lainnya yang dibina namun tidak tinggal di asrama karena memiliki orang tua.
“Mereka yang tinggal di asrama adalah anak disabilitas yatim piatu,” terang Sujono (67), pendiri sekaligus Ketua YPLB Nusantara.
Para Sahabat Istimewa Elnusa ini terdiri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga usia dewasa. Mereka adalah para penyandang tunagrahita, tunadaksa, tunarungu, down syndrome, dan autis.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
