Kerja sama dimulai pada November 2024. Anak-anak diberi pelatihan menjahit selama satu minggu. Bulan berikutnya mereka mulai membuat produk berupa tas laptop, pouch, dan goodie bag.
“Bahan bakunya dari Elnusa, dan hasil produksinya pun dibeli oleh Elnusa, selain dijual ke masyarakat,” tuturnya.
Kerja sama itu berlanjut hingga tahun berikutnya dengan jumlah pesanan dari Elnusa yang lebih banyak. Selain memberi bahan baku berupa limbah, Elnusa juga memberikan pelatihan-pelatihan.
Yang Introvert pun Jadi Percaya Diri
Mekar Bestie, imbuh Sujono, membuat anak-anak penghuni YPLB Nusantara yang tadinya tak bisa apa-apa, kini menjadi terampil dan berwawasan. Bakat yang tadinya terpendam, kini bermunculan.
Dia melihat banyak perubahan yang terjadi pada diri anak-anak. Sebelumnya, anak yang tadinya banyak termenung, sekarang menjadi aktif berkegiatan. Anak yang introvert pun menjadi terbuka dan lebih percaya diri.
Kegiatan ini pun mengubah anak yang hiperaktif menjadi anteng di depan mesin jahit.
Dia mengungkapkan, sebenarnya Elnusa juga memberi kesempatan bagi ‘Sahabat Istimewa’ untuk bekerja di perusahaan tersebut. Hal itu sesuai dengan Pasal 53 Ayat 2 UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Pasal itu menyebutkan bahwa perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.
Persoalannya, umumnya anak-anak masih merasa nyaman berada dan beraktivitas di lingkungannya sendiri. Itu pula yang menjadi dasar yayasan akhirnya membuat sheltered workshop.
“Yang jelas, berkegiatan di yayasan pun, anak-anak tetap memiliki semangat. Potensi mereka harus terus dikembangkan,” ujar Sujono.
Editor : Iwan Setiawan
Artikel Terkait
