Jamu Tak Selalu Harus Digendong, Ini Jamu Digital Lho!

Di platform marketplace, Susi bergabung dengan beberapa E-commerce, di antaranya Shopee. “Saya bergabung dengan Shopee sejak beberapa tahun lalu. Tapi, toko saya yang bernama Herblass Mart mulai diseriusi sejak 6 bulan lalu. Bersyukur, selalu ada orderan,” imbuh perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (Aspetri) ini.
Untuk distribusi orderan di wilayah Purwakarta dan sekitarnya, Susi juga memanfaatkan platform digital transportasi online. Sedangkan untuk transaksi bisnisnya ini, dia sudah terbiasa menggunakan QRIS. “Transaksi dengan cashless, terasa lebih aman, fleksibel, dan efektif,” terangnya.
Susi mengaku belum puas dengan hasil pencapaiannya sekarang. Di tengah kesibukannya meracik jamu, menjadi narasumber seminar, dan mengikuti pameran UMKM, dia berencana lebih mengoptimalkan penjualan jamunya dengan semua platform digital.
Obsesinya, ingin membudidayakan tanaman herbal dan mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan bahan alami untuk memperoleh kesehatan.
“Target saya ke depan yakni membentuk tim pemasaran profesional untuk memperkuat eksistensi produk herbal Indonesia di kancah internasional,” harapnya.
“Bagi saya, digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi sebagai cara untuk melestarikan eksistensi jamu sebagai warisan leluhur. Kita mampu menjadikan jamu mendunia tanpa kehilangan filosofi handmade-nya, melalui platform digital,” imbuh Susi.
Dari modal Rp20.000 sejak awal memproduksi pada 2005, kini Susi mengantongi omzet Rp50 juta per bulan. Varian produknya terdiri dari berbagai pilihan seperti powder, kapsul, dan jamu instan siap minum. Harganya mulai Rp10.000-Rp140.000.
Ramai-ramai Beralih ke Platform Digital
Apa yang dilakoni Susi selama ini, sejalan dengan dorongan pemerintah agar para pelaku UMKM naik kelas. Caranya, tentu dengan beralih ke platform digital. Data dari Kementerian UMKM menyebutkan, sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 61,07 persen.
Pada akhir 2024, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta unit usaha. Angka ini sanggup menyerap 97 persen tenaga kerja. Adapun kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional mencapai 15,7 persen dari total ekspor.
Editor : Iwan Setiawan