Jamu Tak Selalu Harus Digendong, Ini Jamu Digital Lho!

Susi terus melakukan percobaan. Dia meracik beberapa varian. Ilmu perjamuan dia comot dari internet, “Untuk mencari tahu tentang dunia perjamuan, saya datangi perpustakan, dan sering berlama-lama berada di dalam warung internet (warnet). Dulu kan untuk membuka internet harus begitu,” imbuh perempuan lulusan SLTA ini.
Bersyukur, Arif Hidayat, sang suami, mendukungnya. Malah, suaminya yang lebih sering pergi ke warnet untuk menimba ilmu seputar jamu. Termasuk untuk mencari tahu tentang jenis-jenis kemasan yang cocok, hingga yang berkaitan dengan legalitas usahanya.
Pada pertengahan 2006, Susi memutuskan mengundurkan diri dari pabrik kecap. Dia ingin lebih fokus menjadi tukang jamu. Selain meracik jamu di rumah, saat itu dia mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan yang tetap bertalian dengan usahanya itu.
Misalnya, mengurus legalitas, mendaftarkan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) membuat sertifikat halal, dan berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian setempat.
“Aktifitas saya sudah banyak. Saya berpikir, kalau saya terus bekerja di pabrik, paling pendapatan saya segitu-gitu saja kan. Sementara waktu saya habis di situ, dari pagi sampai sore. Selain itu, anak saya juga tak terurus. Jadi, saya memilih resign,” ujarnya.
Langkah Susi untuk lebih serius menggeluti usahanya, diikuti oleh sang suami. Tahun berikutnya, suaminya pun memilih mengundurkan diri dari sebuah perusahaan minuman multinasional.
Sejak saat itu, pasangan ini kompak untuk terus mengembangkan sayap usahanya, hingga sang suami meninggal dunia pada 2017 silam. Kini, tanpa suami, Susi tetap menggeluti usahanya tersebut.
Setelah melewati 20 tahun perjalanan usahanya, Susi kini memiliki 24 varian minuman herbal yang dijual dengan berbagai kemasan modern. “Saya memberi merek Herblass, singkatan dari herbal yang banyak dibablasin,” ujarnya.
Editor : Iwan Setiawan