get app
inews
Aa Text
Read Next : Kasus Korupsi MBG, Kejagung Sita Rolex hingga Dolar Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana

Syifan, Saidah dan Sekolah Rakyat: Ketika Kemiskinan Tak Lagi Mengubur Harapan

Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:26 WIB
header img
Para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat, tampak gagah dan memesona. Foto: Dok SRMA 13 Bekasi

“Awalnya, Saidah mengalami masalah gizi karena terbiasa menahan lapar dan pola makannya tidak teratur. Ia pernah merasa tidak cocok makan ayam dan daging. Saat diperiksa dokter, tidak ditemukan alergi. Masalahnya lebih karena tubuhnya tidak terbiasa mengonsumsi makanan tersebut. Namun kini kondisinya sudah jauh lebih baik,” papar Lastri.

Tak Biasa Makan Daging

Lastri melanjutkan, di SRMA yang mulai beroperasi pada 14 Juli 2025 ini, banyak hal unik dan menarik. Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal. Misalnya, pada kondisi awal, siswa di sekolah formal umumnya sudah siap untuk belajar ketika mendaftar.

Sedangkan di Sekolah Rakyat, pihak sekolah harus terlebih dahulu menyiapkan anak agar siap belajar. Mereka berasal dari keluarga miskin ekstrem dengan latar belakang yang beragam.

 


Lastri Fajarwati, M.Pd, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi memperlihatkan buku karya para siswanya. (Foto: Tatang Budimansyah)
 
“Sebagian besar pola hidupnya tidak teratur. Ada yang tidur di mana saja, makan tidak teratur, atau tak memiliki kamar mandi di rumah. Ada pula yang pernah menjadi korban kekerasan atau perundungan. Akibatnya, ketika masuk ke Sekolah Rakyat, banyak siswa memiliki rasa percaya diri yang rendah,” terangnya.

 

Maka, menurut Lastri, tak terlalu mengagetkan jika pada beberapa bulan pertama, banyak siswa yang bangun siang karena terbiasa  begadang. Bahkan ada pula yang sudah kecanduan rokok.

“Pada awal masuk, ada sekitar 20 siswa yang memiliki kebiasaan merokok. Mereka berusaha merokok secara sembunyi-sembunyi. Kami tidak menggunakan pendekatan dengan kekerasan, tetapi lebih pada upaya merehabilitasi, edukasi, dan pembiasaan. Saat ini jumlah siswa yang masih menjalani proses rehabilitasi tinggal sekitar tiga orang,” terangnya.

“Pada tiga bulan pertama difokuskan pada masa matrikulasi. Siswa dibiasakan untuk bangun pukul 4.00 pagi, makan dengan tertib dengan menggunakan sendok, menjaga kebersihan dan Kesehatan, dan bersyukur atas makanan yang tersedia,” imbuhnya.

Diakuinya, ada siswa yang tidak terbiasa makan ayam, daging, atau telur karena sebelumnya jarang mengonsumsi makanan tersebut. Sebagian hanya terbiasa makan mi instan. Mereka diberi edukasi dan pembiasaan agar memiliki pola makan yang lebih sehat.

Lastri melanjutkan, pada masa awal adaptasi ada beberapa siswa yang memilih mengundurkan diri. Alasannya karena tidak siap dengan kedisiplinan dan aturan asrama. Mereka tidak ingin meninggalkan kebiasaan lama dan merasa kehilangan kebebasan.

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut