Syifan, Saidah dan Sekolah Rakyat: Ketika Kemiskinan Tak Lagi Mengubur Harapan
Lastri melanjutkan, untuk siswa baru tahun ajaran 2026/2027, akan dipusatkan di Delta Mas, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Di sana, Sekolah Rakyat yang berdiri di atas lahan seluas 5,4 hektare ini diperuntukkan bagi siswa dari jenjang SD hingga SMA, dengan daya tampung 1.080 siswa.
Untuk memastikan kesiapan operasionalnya, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda dan pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) meninjau lokasi pada 12 Juni 2026. Rombongan didampingi Sekda Kabupaten Bekasi Endin Samsudin.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Sosial menargetkan hingga akhir 2026 sebanyak 183 Sekolah Rakyat beroperasi. Nantinya, dari jumlah tersebut akan mampu menampung 45.000 siswa.
Dilansir dari situs resmi Kemensos, proses pembangunan 93 Sekolah Rakyat sudah hampir rampung dan beroperasi untuk tahun ajaran 2026/2027.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan, sebanyak 48.975 bakal calon siswa telah terjangkau program Sekolah Rakyat. Hal itu diungkapkannya dalam Rakor Optimalisasi Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen bersama 126 perwakilan pemerintah daerah dari 93 kabupaten/kota pemilik Sekolah Rakyat permanen, di Gedung Aneka Bhakti, Kemensos, Rabu 17 Juni 2026.
Dikatakan Gus Ipul, secara nasional pada tahun ajaran 2026/2027 akan beroperasi 178 Sekolah Rakyat dari target yang dicanangkan. Ini terdiri dari 93 sekolah permanen, 77 sekolah rintisan 2025, dan 8 sekolah rintisan baru. “Dari kesiapan fisik, sebanyak 69 lokasi telah rampung dan 24 lainnya sudah dapat difungsikan,” terang Gus Ipul.
“Gedung selesai bukan berarti sekolah siap. Bagaimana memindahkan siswa, menerima siswa baru, dan memastikan dukungan di tahap awal itu yang menentukan,” tegasnya.
Bersiap Menuju Indonesia Emas
Antusiasme masyarakat yang tinggi menjadi indikator sekaligus tantangan. Dari total 48.975 anak yang telah terdata, mayoritas berasal dari kelompok paling rentan 85,8 persen penerima PKH dan 77,6 persen dari desil 1–2 DTSEN dengan sebagian merupakan anak yang sebelumnya tidak pernah mengenyam pendidikan.
“Yang kita lihat bukan hanya capaian akademik, tapi perubahan anak-anak ini. Mereka sekarang jauh lebih sehat, lebih disiplin, lebih percaya diri, dan punya harapan terhadap masa depan,” kata Gus Ipul.
Dia melanjutkan, Kemensos juga menetapkan tujuh langkah percepatan, mulai dari penetapan siswa, sosialisasi masyarakat, hingga mobilisasi guru dan siswa. “Dalam waktu yang terbatas, kecepatan respons daerah menjadi faktor kunci,” ujarnya.
Dia berharap Kemensos juga akan membuka akses publik melalui kegiatan open house Sekolah Rakyat sebagai bentuk transparansi sekaligus penguatan dukungan masyarakat.
“Program Sekolah Rakyat bukan sekadar pembangunan infrastruktur pendidikan, melainkan intervensi sosial untuk memastikan anak-anak dari keluarga paling rentan tidak lagi tertinggal dari sistem pendidikan nasional,” tandas Gus Ipul.
Sulit untuk disangkal bahwa Sekolah Rakyat memang sangat berperan dalam upaya memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Program ini menjadi jawaban bagi mereka yang semula nyaris tak berdaya oleh keadaan. Terutama oleh keadaan ekonomi yang menghimpit.
Lihat saja Saidah dan Syifan. Di asrama SRMA 13 Bekasi tampak begitu bersemangat menjalankan hari-harinya. Keduanya, bersama siswa-siswa Sekolah Rakyat lainnya, sedang merajut masa depan yang gemilang.
Syifan dan Saidah tak lagi sibuk memikirkan bagaimana membayar biaya sekolah dan membantu orang tua mencari nafkah. Mereka kini sibuk mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan belajar, dan memupuk mimpi-mimpi yang dulu terasa mustahil.
Bagi mereka, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Di sanalah harapan yang nyaris padam kembali dinyalakan. Mereka diliputi rasa percaya diri yang tinggi, optimisme, dan bersiap untuk menuju Indonesia Emas 2045.**
Editor : Iwan Setiawan