get app
inews
Aa Text
Read Next : Kasus Korupsi MBG, Kejagung Sita Rolex hingga Dolar Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana

Syifan, Saidah dan Sekolah Rakyat: Ketika Kemiskinan Tak Lagi Mengubur Harapan

Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:26 WIB
header img
Para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat, tampak gagah dan memesona. Foto: Dok SRMA 13 Bekasi

 Setelah ayahnya meninggal, dengan sendirinya sang ibu harus membanting tulang untuk menghidupi keluarga. “Saat itu ibu bekerja di sebuah biro pembuatan SIM. Saya dan kakak perempuan saya sudah terbiasa hidup sangat, sangat, dan sangat sederhana,” papar Syifan.

Indahnya Kebersamaan

Rupanya cobaan tak berhenti sampai di situ. Sejak 2021, Nenden didiagnosis menderita kanker ovarium. Karena kondisi kesehatannya makin menurun, dia berhenti bekerja di biro jasa pembuatan SIM.

Untuk menyambung hidup, dia bekerja dari rumah. “Ibu menerima cucian dan menyetrika pakaian para tetangga. Hingga akhirnya pekerjaan itu pun terpaksa ditinggalkan karena sakitnya makin parah. Kini, ibu tak lagi bisa bekerja,” tutur Syifan.

Di balik kesedihannya atas kondisi ibu, Syifan tetap bertekad melanjutkan sekolahnya untuk merealisasikan cita-citanya. Kesungguhan dan motivasi Syifan untuk belajar dipuji oleh para guru SRMA.

“Di asrama kami belajar tentang indahnya kebersamaan, etika berbicara kepada orang lain, disiplin waktu, cara bersikap di masyarakat, dan sopan santun. Di sini kami diajarkan bagaimana berbicara dengan baik dan menghormati orang lain,” tutur Syifan.

Dia mengaku banyak perubahan perilaku dan pola hidup setelah menjadi siswa Sekolah Rakyat. “Misalnya, dulu saya sering menunda pekerjaan. Kalau ada tugas selalu berpikir, ‘ah, dikerjakan nanti saja’. Akibatnya tugas sering terlambat. Di sini semua tugas dipantau. Guru selalu mengingatkan tugas yang sudah dan belum dikumpulkan. Jadi saya menjadi lebih disiplin,” kata Syifan.

“Perilaku saya juga berubah. Dulu saya sering berbuat kurang sopan kepada orang yang lebih tua. Saya pun pernah melawan orang tua. Sekarang saya lebih menghargai orang lain karena diajarkan etika dan cara berbicara yang baik agar tidak menyakiti perasaan orang lain,” imbuhnya.

Ikhwal indahnya kebersamaan dan adanya perubahan perilaku, juga sangat dirasakan siswa lainnya bernama Saidah Nur Halimah (17), anak seorang ibu penjual kopi seduh keliling.

“Perubahannya banyak sekali. Waktu di SMP saya belum pernah dapat ranking. Paling banter saya dapat ranking ke-14. Di sini alhamdulillah, ranking saya bagus,” ujar Saidah.

Dikatakannya, prestasinya saat di SMP tak pernah menonjol karena dia mengaku merasa minder dan kehilangan kepercayaan diri. Kondisi itu berpengaruh terhadap minat belajar.

Editor : Iwan Setiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut